TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga kini bungkam terkait kasus keracunan makanan yang dialami ratusan siswa SMPN 1 dan SMPN 2 Makale, Kabupaten Tana Toraja, Kamis (3/9/2026).
Sedikitnya, 148 siswa menjalani perawatan di tiga rumah sakit, yakni RS Fatimah, RS Sinar Kasih dan RSUD Lakipadada.
Rinciannya, 29 siswa SMPN 1 Makale dirawat di RS Fatimah, di RSUD Lakipadada terdapat 74 siswa, terdiri atas 48 siswa SMPN 1 Makale dan 26 siswa SMPN 2 Makale.
Selain itu, 45 siswa SMPN 1 Makale mendapat perawatan di RS Sinar Kasih.
MBG yang disantap siswa dua sekolah itu, diketahui dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batupapan 1, Kabupaten Tana Toraja.
Koordinator Wilayah MBG Toraja Utara, Juwita Cyntike Sari, yang dikonfirmasi melalui telepon dan pesan WhatsApp, belum memberikan tanggapan.
Sementara itu, Kapolres Tana Toraja AKBP Budi Hermawan mengatakan sampel Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi ratusan siswa yang mengalami gejala keracunan di Tana Toraja telah dikirim ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk diperiksa.
Pengujian dilakukan untuk mengetahui kandungan makanan, termasuk kemungkinan adanya zat atau mikroorganisme yang menyebabkan munculnya gejala gangguan kesehatan pada siswa.
AKBP Budy Hermawan meminta masyarakat tidak berspekulasi mengenai penyebab keracunan sebelum hasil pemeriksaan BPOM keluar.
"Yang jelas, sampel telah dikirim ke BPOM. Tinggal menunggu hasil uji lab," ujarnya, Kamis (3/9/26).
Hasil pemeriksaan BPOM nantinya menjadi salah satu dasar untuk memastikan penyebab munculnya gejala keracunan yang dialami para siswa.
Kronologi Keracunan
Ratusan siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulsel, dilarikan ke rumah sakit, Kamis (3/9/2026) pagi, karena diduga keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
SMP Negeri 1 Makale berlokasi di Jl Tritura No 65, Kelurahan Kamali Pentalluan, Kecamatan Makale.
Sedangkan SMPN 2 Makale berlokasi di Jl Pongtiku Km 7, Tobone, Kelurahan Rante, Kecamatan Makale.
Jarak antar dua sekolah ini sekitar 7 kilometer.
Makale adalah ibukota Kabupaten Tana Toraja.
Makale berjarak 196 kilometer dari Kota Makassar.
Sebelum keracunan, para siswa menyantap menu nasi, ayam masak kuning, tempe goreng tepung, sayur tumis (labu siam, wortel dan jagung), serta buah melon, Rabu (2/9/2026).
Namun, kebanyakan siswa baru mengalami keracunan pada Kamis (3/9/26) pagi, saat berada di sekolah.
Ada juga siswa yang mulai merasakan gejala keracunan pada Rabu malam.
Ketua Satgas MBG Tana Toraja, Rudy Andi Lolo, mengatakan semua kemungkinan masih didalami.
Pihak pemerintah daerah belum bisa langsung menyimpulkan bahwa ini mutlak akibat makanan MBG, mengingat ada jeda waktu lebih dari 12 jam dari waktu makan hingga munculnya gejala pada (Rabu) malam dan keesokan harinya (Kamis pagi).
"Faktor lain seperti konsumsi makanan di luar sekolah atau kualitas air minum juga sedang diteliti," ujar Sekda Tana Toraja ini
Dia menjelaskan, proses pengujian laboratorium mikrobiologi dan toksikologi oleh BPOM umumnya memerlukan waktu beberapa hari untuk mengidentifikasi apakah terdapat kontaminasi bakteri (seperti Staphylococcus atau Salmonella) maupun zat kimia berbahaya dalam sampel makanan tersebut.
Kasus Keracunan MBG di Sulsel
Peristiwa di Tana Toraja menambah daftar persoalan keamanan makanan dalam pelaksanaan MBG yang pernah muncul di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan.
Beberapa bulan sebelumnya, 17 murid SD Negeri 195 Buntu Ampang, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang, mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan makanan MBG.
Kejadian itu berlangsung pada awal April 2026.
Para murid mengalami sejumlah keluhan, antara lain muntah, pusing, lemas dan diare.
Mereka sempat mendapat penanganan di puskesmas terdekat.
Mitra pelaksana MBG di Enrekang kemudian mendampingi para siswa hingga ke rumah masing-masing untuk menjalani pemulihan.
Saat itu, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih dalam proses penyelidikan.
Persoalan serupa juga pernah muncul di Bulukumba.
Di daerah ini, laporan mengenai kualitas makanan maupun siswa yang mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG muncul dalam beberapa kejadian.
Pada Februari 2026, sejumlah siswa SMAN 6 Bulukumba mendapat perawatan di Puskesmas Tanuntung setelah diduga mengalami keracunan makanan MBG.
Sebelumnya, pada Oktober 2025, dua siswi SMK di Bulukumba juga dilarikan ke RSUD Andi Sultan Daing Raja.
Keduanya dilaporkan mengalami lemas, muntah hingga pingsan setelah mengonsumsi menu berupa nasi goreng, susu dan buah dari program MBG.
Persoalan tidak selalu berujung pada siswa yang jatuh sakit.
Pada September 2025, misalnya, ditemukan pisang dan tempe dalam paket MBG di Bulukumba dalam kondisi disebut berulat.
Beberapa bulan sebelumnya, pada Mei 2025, sebanyak 712 paket makanan di SMPN 2 Bulukumba tidak dikonsumsi siswa karena diduga basi.
Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ketika itu membantah makanan tersebut basi dan menjelaskan kondisi nasi yang basah serta lembek bukan berarti basi.
Sementara pada Januari 2025, sejumlah siswa SD di Bulukumba sempat mengeluhkan mual setelah menyantap menu MBG.
Dinas Kesehatan Bulukumba kemudian menyatakan keluhan tersebut bukan akibat keracunan makanan, melainkan faktor sugesti.(*)