Laporan Wartawan Serambi Indonesia Saifullah | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Departemen Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala (USK) melepas empat mahasiswa Program Studi S1 Teknik Industri untuk mengikuti program student mobility di Fakulti Kejuruteraan dan Teknologi Mekanikal (FKTM), Universiti Malaysia Perlis (UniMAP), Malaysia.
Acara pelepasan berlangsung di Balee Gading, Banda Aceh, Kamis (3/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri pimpinan Fakultas Teknik USK, kepala dan sekretaris departemen, ketua program studi, Sekretaris Kantor Kemitraan Global USK, serta dosen pembimbing.
Keempat mahasiswa yang mengikuti program tersebut yakni Fitri Rahayu, Nailas Sururi, Fadiah Rizkiah, dan Muhammad Gibran Alfarizi Pratama.
Program student mobility tahun ini dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan dengan skema hybrid.
Perkuliahan diawali secara daring sejak 27 Juli 2026 dan berlangsung selama lima minggu.
Selanjutnya, keempat mahasiswa tersebut dijadwalkan bertolak ke Malaysia pada Jumat (4/9/2026) besok.
Mereka akan mengikuti perkuliahan secara tatap muka sekaligus menjalani ujian di kampus UniMAP selama tiga minggu, hingga 27 September 2026.
Selama mengikuti program di UniMAP, mahasiswa USK akan bergabung dalam kegiatan perkuliahan bersama mahasiswa setempat.
Pada program tahun 2026, terdapat empat mata kuliah yang direkognisi ke dalam kurikulum Program Studi S1 Teknik Industri USK dengan bobot keseluruhan 12 SKS.
Dekan Fakultas Teknik USK, Prof Dr Ir Iskandar, ST, MEngSc, IPM, ASEAN Eng mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari upaya fakultas dalam mendorong internasionalisasi pendidikan.
Ia berpesan kepada mahasiswa agar memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperoleh pengalaman akademik sekaligus membangun jejaring internasional.
“Kami berharap mahasiswa menjaga nama baik almamater, memanfaatkan kesempatan belajar lintas negara, dan membangun jejaring akademik internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Departemen Teknik Mesin dan Industri USK, Dr Ir Akram, ST, MT menekankan pentingnya pengalaman lintas budaya bagi mahasiswa sebagai calon sarjana teknik industri.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut mampu mengikuti proses pembelajaran, tetapi juga harus dapat beradaptasi dengan lingkungan akademik dan budaya baru.
“Mahasiswa peserta program ini harus membangun kompetensi global, menyerap iklim akademik di UniMAP, serta mengasah kemampuan beradaptasi agar siap menghadapi dunia kerja internasional,” katanya.
Ketua Program Studi Teknik Industri USK, Suhendrianto, ST, MSc meminta para mahasiswa membawa pulang berbagai pengalaman positif selama mengikuti program.
“Kami titipkan satu pesan: jangan pulang dengan tangan kosong,” tutur Suhendrianto.
“Bawa pulang cara belajar, budaya kerja, dan pengalaman yang kalian temui di UniMAP, lalu tularkan kepada teman-teman di Program Studi Teknik Industri USK,” ujarnya.
Program student mobility tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama antara Fakultas Teknik USK dan FKTM UniMAP yang mencakup pertukaran mahasiswa serta kolaborasi riset.
Kerja sama kedua institusi telah berjalan sejak 2024.
Pada tahun pertama, sebanyak lima mahasiswa diberangkatkan ke UniMAP sebagai peserta perintis.
Evaluasi positif terhadap pelaksanaan angkatan pertama kemudian membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Program tersebut sekaligus menunjukkan kesiapan mahasiswa Fakultas Teknik USK untuk mengikuti proses pembelajaran dan beradaptasi dengan lingkungan akademik di luar negeri.
Pada 2025, jumlah peserta meningkat menjadi sembilan mahasiswa.
Seiring peningkatan peserta, tata kelola keberangkatan dan mekanisme rekognisi SKS juga semakin dimatangkan.
Fakultas Teknik USK berkomitmen melanjutkan dan memperluas program tersebut pada tahun-tahun mendatang.
Pengembangan diarahkan tidak hanya pada peningkatan jumlah peserta, tetapi juga perluasan cakupan mata kuliah yang dapat direkognisi.
Selain mengirim mahasiswa USK ke UniMAP, kerja sama tersebut juga membuka peluang bagi mahasiswa UniMAP untuk mengikuti program serupa di USK.
Sehingga pertukaran pengalaman akademik dan budaya dapat berlangsung secara timbal balik.(*)