Kumpulan Ayat Al-Quran tentang Pentingnya Menuntut Ilmu dan Hikmahnya
Nanik Ratnawati September 04, 2026 04:30 PM

Liputan6.com, Jakarta - Ayat Al-Qur’an tentang pentingnya menuntut ilmu menjadi landasan utama bagi umat Islam untuk membangun kehidupan yang berpengetahuan sekaligus berakhlak. Sejak awal turunnya wahyu, Islam telah menempatkan ilmu pada kedudukan yang tinggi. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW bahkan diawali dengan perintah membaca, sebuah aktivitas yang menjadi pintu utama dalam proses belajar dan memahami pengetahuan.

Kewajiban mencari ilmu juga ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap orang Islam” (HR Ibnu Majah). Pesan tersebut menunjukkan bahwa belajar tidak hanya dipandang sebagai pilihan atau anjuran, tetapi menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Sejumlah ulama juga memberikan penekanan tentang keutamaan ilmu. Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata, “Ilmu lebih baik daripada harta, karena ilmu menjagamu sedangkan harta justru engkau yang menjaganya.”

Sementara, Imam Syafi’i menyampaikan barang siapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah ia dengan ilmu. Barang siapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah ia dengan ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya, maka juga harus dengan ilmu. Nasihat ini menggambarkan betapa pentingnya ilmu sebagai bekal dalam menjalani kehidupan di dunia sekaligus mempersiapkan kehidupan akhirat.

Al-Qur’an juga berulang kali memberikan perhatian terhadap ilmu dan orang-orang yang berilmu. Allah SWT mendorong manusia untuk berpikir, menggunakan akal, serta mengambil pelajaran dari berbagai tanda kebesaran-Nya.

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah

Daftar Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Pentingnya Menuntut Ilmu

Berikut adalah ayat-ayat Al-Qur'an yang secara eksplisit membahas tentang pentingnya menuntut ilmu beserta tulisan Arab, latin, dan terjemahannya:

1. Surat Al-'Alaq (96): Ayat 1-5

Tulisan Arab:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

Latin:

Iqra' bismi rabbikalladzī khalaq Khalaqal-insāna min 'alaq Iqra' wa rabbukal-akram Alladzī 'allama bil-qalam 'Allamal-insāna mā lam ya'lam

Artinya:

(1) "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan," (2) "Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah." (3) "Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia," (4) "Yang mengajar (manusia) dengan pena," (5) "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."

Ayat-ayat ini merupakan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril di Gua Hira'. Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-Adzim, konteks ayat ini menggambarkan peristiwa awal wahyu ketika Jibril memerintahkan Rasulullah untuk membaca, sementara beliau yang saat itu tidak dapat membaca mengalami beberapa kali pelukan dan tekanan hingga merasa kelelahan.

Dalam Tafsir Al-Mishbah karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa perintah iqra' (bacalah) tidak terbatas pada membaca teks tertulis, tetapi mencakup seluruh aktivitas membaca alam semesta, membaca tanda-tanda kebesaran Allah, dan membaca segala sesuatu yang dapat menambah pengetahuan manusia. Membaca adalah kunci utama dalam kehidupan manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

2. Surat Al-Mujadilah (58): Ayat 11

Tulisan Arab: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Latin: Yā ayyuhalladzīna āmanū idzā qīla lakum tafassahū fil-majālisi fafsahū yafsahillāhu lakum, wa idzā qīlansyuzū fansyuzū yarfa'illāhulladzīna āmanū minkum walladzīna ūtul-'ilma darajāt, wallāhu bimā ta'malūna khabīr

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, 'Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,' maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan kepadamu. Dan apabila dikatakan, 'Berdirilah kamu,' maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Menurut Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, ayat ini menegaskan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu sebagai balasan atas ketundukan dan ketaatan mereka.

Imam al-Suyuthi dalam Lubab al-Nuqul fi Asbab an-Nuzul dan Ibnu Katsir (Juz 8: 91) menjelaskan bahwa ayat ini turun ketika Nabi sedang berada dalam majelis ilmu dan dzikir, sebagai perintah agar memberi kelapangan tempat dalam majelis ilmu sekaligus menegaskan keutamaan orang yang beriman dan berilmu.

Ayat ini juga mengajarkan adab menghadiri majelis ilmu bagi orang yang ingin menuntut ilmu. Orang yang berilmu diangkat derajatnya karena ilmunya menjadi hujjah yang menerangi umat.

3. Surat Az-Zumar (39): Ayat 9

Tulisan Arab: قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Latin: Qul hal yastawilladzīna ya'lamūna walladzīna lā ya'lamūn

Artinya: "Katakanlah, 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'"

Ayat ini secara tegas membandingkan antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu. Dalam Tafsir al-Muyassar dijelaskan bahwa ilmu memindahkan seseorang dari kegelapan kebodohan menuju cahaya ilmu. Perumpamaan antara orang berilmu dan tidak berilmu ibarat terang dan gelap, seperti siang dan malam—tentu tidak sama.

Para ulama menegaskan bahwa ayat ini menyoroti pentingnya orang berilmu dan beribadah dengan kesadaran akan kehidupan setelah mati, serta menjadikan ilmu sebagai faktor penentu utama antara manusia yang berpikir (ulul albab) dan yang tidak.

4. Surat Thaha (20): Ayat 114

Tulisan Arab: فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Latin: Fata'ālallāhu al-malikul-haqq, wa lā ta'jal bil-qur'āni min qabli an yuqdā ilaika waḥyuh, wa qul rabbi zidnī 'ilmā

Artinya: "Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.'"

Ayat ini mengajarkan agar tidak tergesa-gesa dalam menuntut ilmu. Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk meminta tambahan ilmu, yang menunjukkan keutamaan ilmu daripada harta dan kedudukan, karena Allah tidak memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan sesuatu kecuali ilmu. Hal ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sendiri membutuhkan tambahan ilmu, yang menjadi bukti betapa agungnya kedudukan ilmu dalam Islam.

5. Surat At-Taubah (9): Ayat 122

Tulisan Arab: وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Latin: Wa mā kānal-mu'minūna liyanfirū kāffah, falawlā nafara min kulli firqatin minhum thā'ifatun liyatafaqqahū fid-dīni wa liyundzirū qaumahum idzā raja'ū ilaihim la'allahum yaḥżarūn

Artinya: "Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya."

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah menginginkan agar semua orang tidak harus berangkat berperang, tetapi sebagian dari setiap kelompok harus tetap tinggal untuk memperdalam ilmu agama. Ayat ini menjadi dasar kewajiban tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama) bagi sebagian umat Islam agar mereka dapat memberi peringatan dan bimbingan kepada kaumnya.

6. Surat Al-Baqarah (2): Ayat 151

Tulisan Arab: كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

Latin: Kamā arsalnā fīkum rasūlan minkum yatlū 'alaikum āyātinā wa yuzakkīkum wa yu'allimukumul-kitāba wal-ḥikmata wa yu'allimukum mā lam takūnū ta'lamūn

Artinya: "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah), serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui."

Ayat ini menegaskan bahwa salah satu misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah untuk mengajarkan ilmu kepada umat manusia. Nabi SAW tidak hanya membacakan ayat-ayat Allah, tetapi juga mengajarkan Al-Kitab, Al-Hikmah, dan segala sesuatu yang belum diketahui oleh umatnya.

Makna Mendalam Ayat-Ayat tentang Pentingnya Menuntut Ilmu

1. Ilmu adalah Awal dari Segalanya

Wahyu pertama yang turun adalah perintah "Iqra'" (bacalah), yang menandakan bahwa membaca dan belajar adalah fondasi utama dalam Islam. Ini menunjukkan bahwa sebelum beribadah, sebelum berdakwah, sebelum membangun peradaban, manusia harus terlebih dahulu memiliki ilmu. Tanpa ilmu, segala amal perbuatan dapat kehilangan arah dan makna.

2. Ilmu Mengangkat Derajat Manusia

Surat Al-Mujadilah ayat 11 dengan tegas menyatakan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu beberapa tingkatan. Ini bukan sekadar janji di akhirat, tetapi juga realitas di dunia—bahwa ilmu adalah kunci kemuliaan, kehormatan, dan kepemimpinan. Sebagaimana diceritakan dalam Tafsir Ibnu Katsir, seseorang yang memiliki ilmu, walaupun seorang hamba sahaya sekalipun, dapat dijadikan pemimpin.

3. Ilmu Membebaskan Manusia dari Kebodohan

Surat Al-'Alaq ayat 5 menyatakan bahwa Allah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Ini menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan tidak tahu, dan proses menuntut ilmu adalah jalan untuk keluar dari kegelapan kebodohan menuju cahaya pengetahuan. Ilmu adalah alat pembebasan—membebaskan manusia dari keterbelakangan, ketertindasan, dan kesesatan.

4. Ilmu adalah Jalan Menuju Kebahagiaan Dunia dan Akhirat Imam Syafi'i rahimahullah dengan indah merangkum makna ini: "Barang siapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah ia dengan ilmu. Barang siapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah ia dengan ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya, maka juga harus dengan ilmu". Ilmu adalah kunci untuk meraih kebahagiaan di kedua alam.

5. Menuntut Ilmu adalah Ibadah dan Ketaatan

Perintah menuntut ilmu dalam Al-Qur'an datang dalam bentuk perintah langsung dari Allah. Dengan demikian, menuntut ilmu bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Bahkan, Rasulullah SAW bersabda bahwa semua makhluk, sampai ikan-ikan di laut, memohonkan ampun untuk orang yang menuntut ilmu.

Hikmah Memahami Ayat-Ayat tentang Pentingnya Menuntut Ilmu

1. Membentuk Generasi yang Berpengetahuan dan Beradab

Memahami ayat-ayat tentang kewajiban menuntut ilmu mendorong terciptanya generasi yang tidak hanya beriman, tetapi juga berpengetahuan dan berperadaban. Ilmu menjadikan seseorang mampu berpikir kritis, analitis, dan solutif dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Generasi yang berilmu adalah generasi yang mampu membangun peradaban yang gemilang.

2. Meningkatkan Kualitas Ibadah dan Keimanan

Ilmu pengetahuan, terutama ilmu agama, menjadikan ibadah seseorang lebih berkualitas. Dengan ilmu, seorang Muslim memahami makna ibadah yang dilakukannya, sehingga ibadah tidak sekadar rutinitas tetapi menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Allah berfirman bahwa di antara hamba-hamba-Nya yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu).

3. Mengangkat Derajat dan Martabat di Masyarakat

Allah secara tegas menjanjikan pengangkatan derajat bagi orang-orang yang berilmu. Di masyarakat, orang yang berilmu akan dihormati, didengarkan pendapatnya, dan menjadi rujukan dalam berbagai persoalan. Ilmu memberikan martabat dan kehormatan yang tidak dapat diberikan oleh harta atau jabatan.

4. Menjadi Agen Perbaikan dan Peringatan bagi Masyarakat

Surat At-Taubah ayat 122 mengajarkan bahwa sebagian umat Islam harus memperdalam ilmu agama agar dapat memberi peringatan kepada kaumnya. Ini menunjukkan bahwa orang yang berilmu memiliki tanggung jawab sosial untuk menyebarkan kebaikan, memberikan bimbingan, dan mencegah kemungkaran di masyarakat.

5. Mendapatkan Jaminan Rezeki dan Kemudahan dari Allah

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang mencari ilmu, maka Allah SWT menjamin rezekinya" (HR. Syihab dalam Musnadnya). Habib Abdullah Ibn Alaw al-Haddad menjelaskan bahwa ini adalah jaminan khusus setelah adanya jaminan umum yang telah dijamin Allah terhadap semua makhluk di muka bumi. Dengan menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalan rezeki dan menghilangkan kepayahan serta kesulitan dalam memperolehnya

 

Pertanyaan Seputar Ayat Al Quran tentang Menuntut Ilmu

1. Apa ayat Al-Qur'an yang pertama kali turun tentang menuntut ilmu?

Ayat Al-Qur'an yang pertama kali turun tentang menuntut ilmu adalah Surat Al-'Alaq ayat 1-5 yang berisi perintah "Iqra'" (bacalah). Ayat ini menjadi wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW di Gua Hira' dan menandakan bahwa membaca serta menuntut ilmu adalah fondasi utama dalam Islam.

2. Apa dalil bahwa Allah mengangkat derajat orang yang berilmu?

Dalil bahwa Allah mengangkat derajat orang yang berilmu terdapat dalam Surat Al-Mujadilah ayat 11: "Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat". Ayat ini menegaskan bahwa orang yang berilmu memiliki kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah.

3. Apakah menuntut ilmu itu wajib dalam Islam?

Ya, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Rasulullah SAW bersabda: "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap orang Islam" (HR. Ibnu Majah). Kewajiban ini mencakup ilmu agama maupun ilmu dunia yang bermanfaat, dan berlaku sepanjang hayat—dari buaian hingga liang lahad.

4. Apa perbedaan antara orang berilmu dan orang tidak berilmu menurut Al-Qur'an?

Surat Az-Zumar ayat 9 menegaskan bahwa orang berilmu dan orang tidak berilmu tidaklah sama: "Katakanlah, 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'". Perumpamaannya ibarat terang dan gelap, seperti siang dan malam—tentu tidak sama. Orang berilmu memiliki keutamaan, kedudukan lebih tinggi, dan lebih takut kepada Allah.

5. Apa doa yang diajarkan Al-Qur'an untuk meminta tambahan ilmu?

Al-Qur'an mengajarkan doa untuk meminta tambahan ilmu dalam Surat Thaha ayat 114: "Rabbi zidnī 'ilmā" (Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan). Doa ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sendiri diperintahkan untuk meminta tambahan ilmu, yang menjadi bukti betapa agungnya kedudukan ilmu dalam Islam.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.