TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Lima individu orangutan Sumatra diproyeksikan segera dilepasliarkan ke kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT), Jambi, setelah kondisi musim kemarau dan asap di wilayah tersebut membaik.
Kelima orangutan tersebut saat ini menjalani proses evaluasi dan adaptasi sebelum dilepasliarkan ke habitat alaminya.
Berikut identitas lima orangutan Sumatra yang dipersiapkan untuk dilepasliarkan:
1. Digo
Digo merupakan orangutan jantan berusia tujuh tahun yang diselamatkan dari Kota Dumai, Provinsi Riau.
2. Rapala
Rapala merupakan orangutan jantan berusia enam tahun yang diselamatkan dari Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.
3. Jating
Jating merupakan orangutan jantan berusia sembilan tahun yang berasal dari Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara.
4. Kike
Kike merupakan orangutan jantan berusia tujuh tahun yang diselamatkan dari Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.
5. Serangin
Serangin merupakan orangutan jantan berusia empat tahun yang diselamatkan dari Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi Himawan mengatakan kelima orangutan tersebut memiliki latar belakang berbeda.
Sebagian merupakan hasil evakuasi dari pemeliharaan ilegal, sementara lainnya diselamatkan dari konflik satwa di wilayah Sumatra Utara dan Riau.
"Orangutan ini memiliki latar belakang berbeda, mulai dari hasil evakuasi penertiban pemeliharaan ilegal hingga penyelamatan konflik dari wilayah Sumatra Utara dan Riau, seperti Dumai, Langkat, dan Padang Lawas Utara," kata Himawan, Jumat (4/9/2026).
Jalani Evaluasi dan Adaptasi
Sebelum dilepasliarkan, kelima orangutan menjalani proses rehabilitasi dan adaptasi di Danau Alo.
Menurut Himawan, tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk menilai kesiapan setiap individu sebelum dikembalikan ke alam liar di kawasan TNBT.
Evaluasi meliputi pemantauan perilaku, kemampuan beradaptasi, kondisi kesehatan, serta kesesuaian habitat tujuan.
"Evaluasi mencakup pemantauan perilaku, kemampuan adaptasi, status kesehatan, serta kondisi habitat tujuan," katanya.
Waktu yang dibutuhkan setiap orangutan untuk menjalani proses adaptasi berbeda-beda, bergantung pada riwayat hidup masing-masing satwa.
Orangutan yang sebelumnya hidup liar umumnya membutuhkan waktu adaptasi lebih singkat.
Sementara orangutan yang pernah dipelihara manusia dapat membutuhkan waktu beberapa bulan untuk kembali menyesuaikan diri dengan lingkungan alaminya.
Sebelum dilepasliarkan sepenuhnya, kelima orangutan tersebut akan menjalani tahap soft release di kawasan Pemerihan, wilayah perbatasan antara TNBT dan hutan produksi.
Tahap tersebut dilakukan untuk membantu orangutan beradaptasi secara bertahap dengan lingkungan luar sebelum benar-benar dilepas ke alam bebas.
Tingkatkan Populasi Orangutan di TNBT
Pelepasliaran kelima orangutan tersebut bertujuan meningkatkan populasi orangutan Sumatra di kawasan TNBT hingga mencapai jumlah yang optimal.
Keberadaan orangutan juga memiliki peran penting dalam menjaga regenerasi ekosistem hutan, salah satunya melalui perannya sebagai penyebar biji tanaman.
Himawan memastikan kondisi kelima orangutan saat ini dalam keadaan sehat.
Meski demikian, BKSDA Jambi masih melakukan pemantauan ketat dan evaluasi berkala, terutama dengan mempertimbangkan kondisi cuaca serta ancaman kabut asap di sekitar wilayah tersebut.
"Setelah lolos tahap adaptasi soft release, orangutan diproyeksikan akan menyatu dengan populasi orangutan di kawasan TNBT yang saat ini diperkirakan berjumlah lebih dari 200 individu," kata Himawan. (Tribun Jambi/Sopianto)
Baca juga: 5 Orangutan Sumatra Bakal Dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh Jambi
Baca juga: 3 Hari 3 Malam Menginap di BPN Jambi, Warga Bakar Sertifikat Sebelum Bubarkan Diri