TRIBUNJOGJA.COM - Setiap wuku dalam Primbon Jawa memiliki gambaran karakter yang berbeda.
Ada yang dikenal dengan sifat berani, ada pula yang digambarkan tekun dan teliti dalam menjalani pekerjaan.
Salah satunya adalah Wuku Wukir, yang dalam perhitungan Primbon Jawa menjadi wuku bagi orang yang lahir pada Rabu Legi.
Wuku ke-30 ini memiliki sejumlah simbol yang menarik.
Mulai dari Betara Kusirah, burung acir, pohon gurda, hingga gedung dengan pintu samping kanan yang tertutup.
Lantas, seperti apa gambaran orang yang lahir pada Rabu Legi Wuku Wukir?
Dalam Primbon Pawukon, Wuku Wukir menggambarkan seseorang yang tekun dalam mengerjakan berbagai pekerjaan.
Ia disebut memiliki ketelitian dan keterampilan dalam menjalankan tugas.
Kemauan yang kuat juga menjadi salah satu karakter yang melekat pada wuku ini.
Gambaran tersebut diperkuat melalui simbol burung acir yang dalam data Primbon dimaknai sebagai ketekunan dalam pekerjaan.
Jadi, ketika sudah memiliki tujuan, orang dengan Wuku Wukir dipercaya tidak mudah meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Wuku Wukir juga memiliki simbol pohon gurda.
Dalam Primbon, pohon tersebut dimaknai sebagai kemampuan untuk menjadi pelindung bagi sesama.
Orang yang lahir pada wuku ini juga digambarkan memiliki budi luhur.
Menariknya, karakter tersebut membuat gambaran Wuku Wukir tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bekerja.
Ada pula sisi kepedulian terhadap orang-orang di sekitarnya.
Dengan kata lain, ketekunan yang dimiliki dipercaya dapat berjalan bersama sifat suka melindungi dan membantu sesama.
Bagaimana dengan urusan rezeki?
Wuku Wukir memiliki simbol gedung dengan pintu sisi samping kanan yang tertutup.
Dalam Primbon, simbol ini memiliki makna bahwa rezeki selalu ada.
Orangnya juga disebut memiliki tabiat sebagai pribadi yang suka menghormati orang lain.
Selain itu, terdapat simbol dua juaja yang dipancangkan di depan.
Lambang tersebut juga dimaknai sebagai pertanda rezeki yang selalu tersedia.
Untuk bidang usaha, Primbon menyebut berjualan perhiasan dari emas atau berdagang beras sebagai pekerjaan yang dipercaya cocok dan dapat memberikan keberhasilan.
Ada Sisi yang Perlu Diwaspadai
Meski memiliki banyak gambaran positif, Primbon juga mencatat sisi yang perlu diperhatikan.
Wuku Wukir disebut ibarat lahirnya huruf, tetapi memiliki bencana berupa kebiasaan sering mengeluh.
Jika dimaknai sebagai nasihat, bagian ini dapat menjadi pengingat agar ketekunan dan kemauan kuat tidak berhenti ketika menghadapi kesulitan.
Sebab, pekerjaan yang dijalani dengan sungguh-sungguh tentu akan lebih mudah berkembang jika diimbangi dengan kemampuan menghadapi masalah.
Baca juga: Selasa Kliwon Wuku Pala Menurut Primbon Wataknya Mudah Marah?
Dalam catatan Primbon, penyakit yang disebut dapat dialami orang kelahiran Rabu Legi Wuku Wukir adalah masalah pada kaki kiri.
Untuk pengobatan tradisional, Primbon menyebut penggunaan daun waru dan jadam yang ditumbuk lalu diberi sedikit air.
Ramuan tersebut kemudian dilumaskan pada bagian yang sakit pada waktu petang.
Primbon juga menyebut anjuran untuk mengenakan kain berwarna biru ketika berpakaian.
Perlu dicatat, pengobatan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan pengetahuan tradisional yang tercatat dalam Primbon.
Untuk keluhan kesehatan, penanganan medis tetap menjadi pilihan yang lebih aman.
Dalam Primbon Pawukon, terdapat pula usaha penangkal bagi orang yang lahir pada Wuku Wukir.
Caranya disebut dengan melakukan mandi suci menggunakan landha dari tangkai butir padi pulut hitam yang ditempatkan di dalam belanga baru.
Pakaian yang digunakan untuk mandi berupa kain berwarna biru.
Sesajinya berupa nasi tumpeng megana yang dilengkapi ayam dan ketupat.
Doa yang dibaca adalah doa selamat.
Selain itu, terdapat pula ajimat berupa secabik belulang kambing yang bertuliskan rajah.
Dalam catatan Primbon, rajah tersebut ditulis menggunakan darah ayam.
Berikut rajah yang tercantum dalam sumber tersebut:
Berbagai gambaran mengenai Rabu Legi Wuku Wukir tersebut merupakan bagian dari warisan Primbon Jawa.
Maknanya dapat dipahami sebagai pengetahuan dan kepercayaan masyarakat Jawa dalam membaca karakter serta perjalanan hidup seseorang.
Pada akhirnya, ketekunan, ketelitian, dan kemauan kuat bukan hanya soal weton.
Semua itu juga dapat tumbuh dari kebiasaan dan pengalaman seseorang dalam menjalani kehidupan.
(MG Natasya Aulia)