TRIBUNWOW.COM - Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao berkunjung ke kediaman mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Jumat, (4/9/2026).
Gusmao tiba di rumah Jokowi sekitar pukul 12.27 WIB dan disambut hangat oleh mantan Wali Kota Surakarta itu.
Jokowi menyambut langsung kedatangan pemimpin Timor Leste itu tepat di depan pintu masuk.
“Welcome to Solo. Welcome to my home. It’s good to see you again (Selamat datang di Solo. Selamat datang di rumah saya. Senang bisa melihat Anda kembali),” kata Jokowi sembari berjabat tangan dengan Gusmao, dikutip dari Tribun Solo.
Gusmao tampak senang mendengar alunan lagu keroncong “Bengawan Solo” yang turut menyambutnya. Dia bahkan ikut menirukan lirik lagu.
Sesudah mendenarkan lagu, mereka ke ruang makan dengan jamuan beragam kuliner khas Solo, salah satunya onde-onde.
Gusmao sempat pula menyapa dan berbincang santai dengan awak media. Dia juga membagikan onde-onde miliknya kepada seorang wartawan.
Baca juga: Ketua RT Ungkap Sosok Yayan Warga Depok Disebut Gabung Tentara Rusia: Lama Tak Terlihat
Profil Xanana Gusmao
Dikutip dari laman resmi pemerintah Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmao lahir pada tanggal 20 Juni 1946 di Manatuto, Timor Leste.
Dia mendapat pendidikan dasar di Santa Teresa, kemudian sekolah Katolik di Nossa Senhora de Fatima, dan kemudian Sekolah Menengah Fr. Francisco Machado di Dili.
Gusmao memulai karier di pemerintahan pada tahun 1966, lalu berdinas di militer Portugis dari tahun 1968 hingga 1970.
Pria ini sempat menjadi staf di surat kabar dan bergabung dengan Partai Associacao Social Democrata yang kemudian berubah nama menjadi FRETILIN.
Setelah Indonesia melakukan Operasi Seroja ke Timor Leste pada tahun 1975, Gusmao menjadi pemimpin perlawanan. Dia terpilih sebagai Panglima Tertinggi Angkat Bersenjata Pembebasan Nasional Timor Leste.
Kemudian, pada tahun 1983 dia menginisiasi perundingan resmi dengan TNI. Perundingan itu menghasilkan gencatan senjata yang berlangsung sekitar 5 bulan.
Gusmao menerapkan Kebijakan Persatuan Nasional, mengembangkan jaringan rahasia, dan mendirikan Dewan Nasional Perlawanan Maubere yang kelak menjadi Majelis Nasional Perlawanan Rakyat Timor.
Sesudah memimpin gerilyawan selama 17 tahun, dia ditangkap oleh TNI, yaitu pada tahun 1992. Dia kemudian diadili dan dipenjara di Semarang. Lalu, dia sempat dipindahkan ke Cipinang.
Ketika dipenjara, Gusmao terus merancang strategi perlawanan sembari mempelajari bahasa Indonesia dan Inggris. Dia juga dinyatakan kembali sebagai pemimpin Perlawanan Rakyat Timur dan Presiden CNRT (Dewan Nasional untuk Pembangunan Timor, sebuah partai politik) di Konvensi Nasional Timor Leste.
Mantan gerilyawan ini dijadikan tahanan rumah pada bulan Februari 1999, kemudian dibebaskan tanggal 7 September 1999.
Sesudah referendum dilakukan dan mayoritas rakyat Timor Leste memilih merdeka, Kongres Nasional Pertama CNRT pun digelar. Gusmao terpilih sebagai Presiden CNRT/Kongres Nasional.
Dari bulan November 2001 hingga 2001, dia menjadi Ketua Majelis Nasional, sebuah badan legilatif pada masa transisi pemerintahan di Timor Leste.
Baca juga: Jangan Bingung, Ini Panduan Lengkap dan Tips Praktis bagi Pemula yang Pertama Kali Naik Kereta Api
Gusmao terpilih sebagai Presiden Republik Demokrasi Timor Leste pada tanggal 14 April 2002. Dia berkuasa hingga akhir jabatannya pada tahun 2007. Dia juga terpilih sebagai Presiden Kongres Nasional untuk Pembangunan Kembali Timor Leste pada tahun yang sama.
Lalu, dia diangkat sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Timor Leste pada bulan Agustus 2007. Gusmao terpilih kembali sebagai Perdana Menteri lewat Pemilu 2012.
Selama menjadi Perdana Menteri, dia berupaya mengonsolidasikan perdamaian dan persatuan nasional, menguatkan demokrasi, berinvestasi di sektor penting guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan menyusun rencana pembangunan jangka panjang.
Gusmao mengumumkan mundur dari jabatan Perdana Menteri pada bulan Desember 2014. Kemudian, dia dipilih sebagai Menteri Perencanaan dan Investasi Strategis, jabatan yang dipegangnya hingga September 2017.
Dia lalu memegang sejumlah jabatan, misalnya Perwakilan Khusus Pemerintah untuk merundingkan perbatasan Timor Leste dan Indonesia.
Pada tahun 2023 dia ditunjuk kembali sebagai Perdana Menteri setelah Partai CNRT menang.