TRIBUNWOW.COM – Pemerintah Korea Selatan membantah laporan media yang menyebut pihaknya sedang bersiap mengerahkan pasukan militer ke Selat Hormuz di tengah tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik Iran.
Kantor Kepresidenan Korea Selatan menegaskan bahwa belum ada keputusan final mengenai pengiriman aset militer ke kawasan tersebut, meski pemerintah masih mengkaji berbagai opsi untuk menjaga kebebasan navigasi.
Sebelumnya, sejumlah media lokal melaporkan bahwa Seoul mulai menyiapkan pengerahan pesawat patroli maritim P-8 Poseidon, kapal pendukung logistik, hingga unit penjinak ranjau laut Angkatan Laut.
Sesuai aturan hukum dan politik domestik, pengerahan pasukan baru ke wilayah konflik luar negeri memerlukan peninjauan Dewan Keamanan Nasional, keputusan kabinet, serta persetujuan resmi dari Majelis Nasional.
Kawasan Selat Hormuz sendiri sangat vital bagi Korea Selatan karena menjadi jalur perlintasan sekitar 70 persen impor minyak mentah dari total lebih dari 90 persen kebutuhan energi primernya.
Keterlibatan militer di kawasan penuh risiko tersebut berpotensi mengancam keselamatan personel, namun di sisi lain tekanan politik dari Washington terus membayangi hubungan strategis kedua negara.
Sebelumnya pada 2020, Korea Selatan sempat memperluas area operasi Cheonghae Unit untuk mencakup Selat Hormuz tanpa membentuk misi baru, tetapi pembahasan saat ini berpotensi melibatkan mandat dan aset militer yang lebih luas.