SURYAMALANG.COM, BANYUWANGI - Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur kian memburuk hingga mencapai panjang 20 kilometer (km) di sepanjang jalur utama Jawa–Bali pada hari ketujuh atau Jumat (4/9/2026) siang.
DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), menegaskan biang utama penumpukan truk logistik di sepanjang Jalan Situbondo-Banyuwangi itu dipicu oleh berkurangnya tempat sandar akibat penutupan Dermaga MB II dan kerusakan fender Dermaga Bulusan.
Kendati armada kapal di lintas Ketapang–Gilimanuk tersedia cukup, keterbatasan fasilitas dermaga membuat jumlah kapal yang beroperasi merosot drastis hingga memicu kemacetan ekstrem.
Pantauan di lapangan, penumpukan arus lalu lintas terpantau masih didominasi oleh truk-truk besar, meski ekor kemacetan tampak terputus-putus di beberapa titik.
Ketua Umum DPP Gapasdap, Khoiri Soetomo, menjelaskan kemacetan yang terjadi saat ini bukan disebabkan oleh kekurangan armada kapal.
Menurutnya, masalah utama timbul karena kapasitas dan produktivitas dermaga menurun drastis di tengah tingginya kebutuhan penyeberangan.
Saat ini terdapat 56 armada kapal yang bersiap di lintas Ketapang–Gilimanuk.
Baca juga: Macet Parah Jalur Ketapang Banyuwangi di Awal Libur Sekolah, Sopir Truk Terjebak 8 Jam
Dalam kondisi normal, sebanyak 28 hingga 32 kapal dapat beroperasi setiap harinya.
"Namun, kemampuan operasi turun menjadi sekitar 23 kapal karena dua fasilitas dermaga tidak dapat digunakan secara optimal," kata Khoiri, Jumat (4/9/2026).
Penyebab utamanya adalah penutupan Dermaga MB II sejak 21 Agustus 2026 untuk pekerjaan peningkatan kapasitas, yang baru direncanakan dapat difungsikan sementara pada masa Natal dan Tahun Baru 2026.
Sementara itu, Dermaga Bulusan belum dapat dioperasikan akibat dua fender roboh ke laut dan memerlukan perbaikan.
“Kapalnya tersedia, tetapi tempat sandarnya berkurang. Kapal hanya dapat melayani kendaraan apabila tersedia dermaga dan waktu sandar" bebernya.
"Jadi, akar persoalannya bukan kekurangan kapal, melainkan keterbatasan kapasitas dermaga yang saat ini semakin berkurang karena dua dermaga belum dapat digunakan,” jelas Khoiri.
Kondisi penumpukan ini semakin diperberat oleh Dermaga LCM Ketapang yang belum terintegrasi secara optimal dengan pelabuhan utama.
Selain itu, MB I yang berkapasitas sekitar 30 ton dan MB III sekitar 20 ton memiliki keterbatasan dalam melayani kendaraan berat.
Terlebih, pemisahan antara kendaraan berat dan kendaraan ringan belum dilakukan secara menyeluruh, sehingga pergerakan kendaraan ringan ikut terhambat.
Baca juga: Kebakaran Lahan Samping Tol Sumo Ancam Pengendara, Damkar Mojokerto Halau Asap Tebal
Khoiri menilai kemacetan ini berimplikasi langsung terhadap pelayanan penyeberangan dan distribusi logistik Jawa–Bali.
Waktu tunggu pengemudi menjadi lebih panjang, biaya angkutan meningkat, jadwal distribusi terganggu, pengemudi mengalami kelelahan, dan antrean meluas hingga ke jalan nasional.
Gapasdap memahami, pekerjaan perbaikan dan peningkatan dermaga tetap diperlukan untuk meningkatkan keselamatan serta kapasitas pelayanan jangka panjang.
Sambil menunggu pengerjaan fisik dermaga selesai, Gapasdap mengajukan empat usulan langkah darurat:
1. Pemisahan Jalur Kendaraan:
Meminta pemisahan kendaraan ringan dan kendaraan berat dilakukan sejak sebelum memasuki area pelabuhan.
Kendaraan ringan dapat langsung diarahkan ke MB I dan MB III agar tidak tertahan dalam antrean kendaraan berat.
2. Pengoptimalan Dermaga Plengsengan:
Mengoptimalkan dermaga plengsengan untuk kapal LCM melalui penyatuan dan penguatan area dengan konstruksi cor beton, sehingga jumlah kapal LCM yang dilayani bertambah sebagai pengganti sementara Dermaga Bulusan.
3. Penggunaan MB II Secara Terbatas:
Mengusulkan penggunaan MB II secara fungsional dan terbatas untuk kapal kecil atau kapal yang dinilai aman secara teknis.
Pelaksanaannya harus berdasarkan kajian teknis, pengawasan, dan persetujuan pihak berwenang tanpa mengganggu pekerjaan peningkatan dermaga.
4. Percepatan Bongkar-Muat:
Meminta percepatan proses bongkar-muat oleh setiap perusahaan pelayaran dengan tetap mengutamakan keselamatan.
"Agar waktu sandar lebih singkat dan jumlah perjalanan kapal dapat ditingkatkan," ujar Khoiri.
Di sisi lain, guna mempercepat proses pengangkutan truk menuju Gilimanuk, PT ASDP Indonesia Ferry berencana mendatangkan kapal berukuran besar.
Kapal KMP Jatra I milik ASDP akan diterjunkan langsung dari Pelabuhan Merak untuk membantu pengangkutan kendaraan di lintas Jawa–Bali.
"Kapal Jatra I berkapasitas 3.500 GT akan membantu di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk," kata GM ASDP Ketapang, Media Sahrianto, Jumat (4/9/2026).
Media menyampaikan, proses perizinan pelayaran untuk KMP Jatra I saat ini sedang diproses di Kementerian Perhubungan.
Jika perizinan berjalan lancar, kapal tersebut diperkirakan tiba paling lambat dalam dua pekan.
"Mudah-mudahan setelah (perizinan) diurus, bisa langsung berangkat," ucapnya.
Baca juga: Korban Keracunan MBG di Sidoarjo Mencapai 748 Orang, 22 Siswa Masih Dirawat di Rumah Sakit
Menurut Media, pengerahan kapal berukuran besar dinilai lebih efektif untuk mengurai antrean karena mampu menampung lebih banyak truk.
Rata-rata kapal reguler di Pelabuhan Ketapang hanya mampu mengangkut 21 hingga 22 kendaraan per trip, sedangkan kapal besar bisa membawa 32 hingga 34 unit.
KMP Jatra I bahkan tercatat mampu mengangkut hingga 38 unit kendaraan sekaligus.
Sebelumnya, ASDP telah mengerahkan tiga unit kapal berukuran besar di lokasi tersebut, namun penambahan armada besar itu belum mampu sepenuhnya mengurai kemacetan.
Media pun memastikan kapal-kapal berukuran kecil akan tetap dioperasikan di lintas Jawa–Bali untuk mendukung pengangkutan kendaraan-kendaraan kecil.