TRIBUNNEWS.COM - Pengamat Komunikasi Politik, Emrus Sihombing menanggapi soal pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang membanggakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di forum internasional.
Yakni saat berpidato dalam forum Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).
Namun di saat yang sama terjadi keracunan massal usai menyantap MBG.
Emrus menilai secara komunikasi politik, dirinya menganggap wajar apabila Prabowo mengangkat program unggulannya di hadapan forum internasional.
Menurut Emrus, tujuan dasar MBG memang positif karena diarahkan untuk memberikan asupan gizi kepada generasi penerus bangsa. Persoalannya, menurut dia, terletak pada pelaksanaan dan pengawasan program di lapangan.
“Sangat wajar Presiden Prabowo membanggakan program Makan Bergizi Gratis di Indonesia dalam pidatonya di Rusia. Sebab, MBG sebagai unggulan Prabowo bertujuan positif memberikan asupan gizi kepada generasi penerus bangsa,” ujar Emrus kepada Tribunnews, saat dihubungi dari Kantor Redaksi Tribunnews di Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (4/9/2026).
Namun, Emrus menilai tujuan tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam implementasi program.
Ia menyoroti peran pembantu Presiden yang bertugas mengeksekusi sekaligus mengawasi pelaksanaan MBG.
“Sayangnya pada tataran implementasi dan pengawasan tidak berbanding lurus dengan tujuan Prabowo membuat MBG itu sendiri.
Pembantu Presiden dalam mengeksekusi dan mengawasi program MBG dapat dikategorikan mendekati gagal atau memang sudah gagal,” katanya.
Emrus menyebut terdapat dua indikator yang menurutnya menjadi dasar penilaian tersebut.
Pertama, adanya dugaan keracunan yang dialami puluhan ribu penerima MBG. Kedua, adanya dugaan korupsi yang dilakukan sejumlah petinggi di Badan Gizi Nasional (BGN).
“Ada dua indikator kegagalan tersebut, yaitu dugaan keracunan bagi puluhan ribu yang menerima MBG dan dugaan korupsi yang dilakukan sejumlah petinggi puncak di BGN,” tegasnya.
Di sisi lain, dalam pidatonya di Rusia, Prabowo juga mengaitkan MBG dengan visi pembangunan yang lebih luas.
Ia mengatakan pemerintah ingin mempercepat hilirisasi industri agar sumber daya alam Indonesia memiliki nilai tambah sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan.
“Inilah alasan kami menginginkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, bukan pertumbuhan hanya demi pertumbuhan itu sendiri, melainkan pertumbuhan yang dapat mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan menuju kehidupan yang bermartabat,” pungkas Prabowo.
Diketahui dalam forum yang turut dihadiri Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin tersebut, Prabowo menjelaskan alasan pemerintah Indonesia membuat sejumlah program yang secara langsung menyasar kebutuhan masyarakat, termasuk MBG.
Prabowo mengatakan tema EEF ke-11 2026, “The Far East: Development for the Benefit of People” atau “Timur Jauh: Pembangunan untuk Kepentingan Rakyat”, sejalan dengan mandat yang diberikan masyarakat Indonesia kepadanya.
“Saya harus menyampaikan kepada Anda bahwa ini bukan hanya tema bagi Timur Jauh Rusia; ini juga merupakan mandat yang diberikan kepada saya oleh rakyat Indonesia,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, dalam forum St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) tahun lalu, dirinya telah menjelaskan filosofi ekonomi Indonesia yang mengedepankan realisme, pragmatisme, serta upaya mencapai kebaikan terbesar bagi sebanyak-banyaknya orang.
Sebagai presiden, Prabowo yang juga Ketua Umum Partai Gerindra itu mengatakan dirinya percaya terhadap dunia usaha, inisiatif, kreativitas, dan inovasi.
Namun, pemerintah, menurutnya, tetap memiliki tanggung jawab untuk melindungi masyarakat yang lemah, mengelola sumber daya nasional dengan baik, memberantas korupsi, serta berinvestasi untuk kebutuhan jangka panjang rakyat dan bangsa.
“Itulah arti pembangunan untuk kepentingan rakyat. Bagi Indonesia, kebaikan terbesar adalah untuk sebanyak-banyaknya orang,” ujarnya.
Prabowo kemudian menekankan bahwa pembangunan tidak boleh hanya memberikan manfaat kepada segelintir orang. Menurut dia, keberhasilan pembangunan harus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk melalui pemenuhan kebutuhan dasar di tingkat keluarga.
“Apakah anak-anak mendapatkan makanan bergizi, apakah petani dapat memperoleh pupuk dan menjual hasil panennya dengan harga yang wajar, apakah keluarga dapat tinggal di rumah yang layak, apakah generasi muda dapat memperoleh pekerjaan yang produktif, dan apakah listrik dapat menjangkau setiap rumah di setiap desa,” ucap Prabowo.
Ia mengatakan hal tersebut menjadi alasan pemerintah menetapkan sejumlah agenda prioritas, mulai dari program MBG hingga swasembada pangan.
“Inilah alasan Indonesia menyediakan makanan bergizi gratis bagi seluruh anak-anak kita dan para ibu mereka yang sedang hamil. Inilah alasan kami mengejar swasembada pangan dan ketahanan energi,” kata Prabowo.
Kasus keracunan massal yang diduga akibat MBG ini terjadi di antaranya di tiga kabupaten di Jawa Timur, yakni di Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Nganjuk, dan Kabupaten Jombang.
Kemudian di Jawa Tengah, tercatat terjadi di Kabupaten Rembang. Lalu di luar Pulau Jawa terjadi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat dan Kabupaten Bener Meriah, Aceh, serta di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Total korban dalam keracunan massal yang terjadi pada 1-3 September 2026 yaitu mencapai 1.995 orang.
Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Peneliti Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Galau Muhammad.
Ia menyinggung pidato Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo membanggakan pelaksanaan program MBG di Indonesia. Ia juga menyebut program tersebut sebagai bagian dari upaya pembangunan yang manfaatnya harus dirasakan masyarakat.
Namun, pada hari yang sama, sejumlah kasus keracunan massal justru dilaporkan terjadi di berbagai daerah.
Galau menilai kondisi tersebut menjadi ironi karena pernyataan Prabowo mengenai keberhasilan program MBG disampaikan ketika banyak anak harus mendapatkan perawatan akibat dugaan keracunan.
"Pada hari ini, bertepatan tanggal 3 September, Pak Prabowo sedang berpidato di Eastern Economic Forum di Rusia. Beliau sangat elaboratif menyampaikan bahwa kita sudah berhasil memastikan setiap anak mendapatkan makanan bergizi," ujar Galau dalam tayangan "Sapa Indonesia Malam" Kompas TV, Kamis (3/9/2026).
"Namun, di tanggal 3 September ini, anak-anak di daerah justru mengalami kondisi yang miris. Kita bisa melihat di Agam, Nganjuk, Rembang, dan Tana Toraja, bersamaan dengan terjadinya tragedi keracunan massal," lanjutnya.
Menurut Galau, kasus tersebut menjadi catatan serius bagi pemerintah. Terlebih, jumlah korban dalam kurun waktu beberapa hari telah mencapai hampir 2.000 orang.
"Ini menjadi catatan yang sangat kelam, melihat bagaimana narasi ini disampaikan dengan sangat optimistis. Namun, faktanya bertepatan dengan ratusan anak yang sedang terbaring di puskesmas," katanya.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati/Rizkianingtyas Tiarasari/Faryyanida Putwiliani )