Lampung ini dekat dengan Jakarta, tapi literasinya masih rendah. Itu akan kami booster dulu. Target kami adalah anak-anak SMA dan mahasiswa. Kalau yang profesional kan sudah paham
Bandarlampung (ANTARA) - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menggelar kegiatan Lampung Financial Festival (Finfest 2026) di Bandarlampung Provinsi Lampung, untuk mengatasi masih rendahnya tingkat literasi penjaminan simpanan di kalangan masyarakat setempat.
“Literasi terhadap penjaminan simpanan itu secara nasional 62,5 persen. Tapi, literasi penjaminan simpanan di Lampung itu 58,85 persen, berarti di bawah rata-rata nasional,” kata Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu dalam konferensi pers Lampung Finfest 2026 di Bandarlampung, Jumat malam.
Padahal, kata Abimanyu, tingkat literasi yang tinggi dibutuhkan agar masyarakat memahami keamanan dana simpanan mereka di lembaga jasa keuangan.
Dengan pengetahuan memadai, masyarakat bisa memahami soal jumlah uang yang dijamin, seberapa besar jangkauan penjaminan, hingga daftar bank yang dijamin oleh LPS.
Anggito menyebut pengetahuan itu akan membuat nasabah lebih berhati-hati dalam mengelola dana mereka di lembaga jasa keuangan.
“Apalagi nanti tahun depan kami juga akan melakukan penjaminan terhadap polis asuransi. Ini sekaligus nanti dalam proses edukasi,” ujarnya menambahkan.
Dalam kegiatan itu, LPS bersama otoritas, pelaku industri keuangan, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya menggelar pameran keuangan, gelar wicara, diskusi bisnis, kelas edukasi, pojok karier, hingga rangkaian aktivitas hiburan.
LPS menyatakan konsep acara tersebut dirancang sebagai sarana edukasi yang interaktif dan menghibur agar menarik minat masyarakat, khususnya kalangan generasi muda.
“Lampung ini dekat dengan Jakarta, tapi literasinya masih rendah. Itu akan kami booster dulu. Target kami adalah anak-anak SMA dan mahasiswa. Kalau yang profesional kan sudah paham,” jelas dia lagi.
Untuk mengetahui efektivitas program tersebut, LPS berencana menggelar survei sepekan setelah acara berlangsung. Hasil survei tidak hanya digunakan untuk mengetahui tingkat literasi masyarakat, tetapi juga sebagai evaluasi program untuk pelaksanaan ke depannya.





