Dampak Kabut Asap, Pasien ISPA di Banjarmasin dan Banjar Melonjak
Ratino Taufik September 05, 2026 07:48 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak serius terhadap kesehatan warga. Dinkes Banjarmasin mencatat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Kepala Dinkes Banjarmasin, Yanuar Diansyah menjelaskan, di minggu ke-35 atau sepekan terakhir Agustus 2026 laporan yang masuk sebanyak 2.127 kasus. Terjadi kenaikan 248 kasus dari pekan sebelumnya yang berada di angka 1.879 kasus.

Dipaparkannya,  kabut asap yang menyelimuti Banjarmasin dipicu oleh maraknya hotspot di kawasan sekitar, yakni Kabupaten Banjar, Banjarbaru, dan Barito Kuala (Batola).  "Arah angin yang bergerak menuju wilayah Banjarmasin, memicu penurunan kualitas udara dan gangguan pernapasan bagi masyarakat, sehingga membuat angka ISPA naik," paparnya.

Sebaran kasus ISPA tertinggi ditemukan di wilayah Kecamatan Banjarmasin Selatan dan Banjarmasin Utara.

Hal ini menurutnya, disebabkan lokasi kedua kecamatan tersebut berbatasan langsung dengan lahan-lahan yang rawan terbakar di kabupaten tetangga, meliputi area Pemurus Dalam, Beruntung, Pekauman, Sungai Andai, hingga Alalak.

Sebaliknya, wilayah Banjarmasin Tengah dan Barat mencatatkan angka kasus yang relatif lebih rendah.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan (Yan SDK), dr Bandiyah Ma'rifah memastikan, stok obat-obatan serta Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) di fasilitas kesehatan maupun puskesmas berada dalam kondisi mencukupi.

Dikatakannya, perencanaan kebutuhan obat telah disusun secara terencana dari tingkat tahunan hingga bulanan.

Untuk rekapitulasi data Dinkes Banjarmasin, jumlah kasus ISPA pada Juni 2026 tercatat sebanyak 6.432 kasus. Angka tersebut mengalami peningkatan pada Juli 2026 menjadi 6.841 kasus, atau bertambah sekitar 400 kasus dalam kurun satu bulan.

Baca juga: Cegah Kanker Serviks Sejak Dini, IDI Banjarmasin Pastikan Vaksin HPV Aman

Sementara Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar mencatat tren kenaikan kasus ISPA hingga akhir Agustus 2026. Jumlah kasus tercatat mencapai 5.037 kasus per 31 Agustus, meningkat dibandingkan periode Juni-Juli yang berada di angka sekitar 4.920 kasus.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Nita Yuliana, mengatakan kenaikan tersebut mencapai sekitar 100 kasus.

Menurut Nita, kelompok dewasa menjadi kelompok usia dengan kasus ISPA terbanyak, yakni mencapai 1.922 kasus. Setelah itu, kasus terbanyak ditemukan pada kelompok balita, anak-anak, dan remaja.

Dia menjelaskan, tingginya kasus pada kelompok dewasa dipengaruhi aktivitas mereka yang lebih banyak dilakukan di luar rumah.

Selain itu, masih banyak masyarakat yang tidak menggunakan masker saat beraktivitas di tengah kondisi udara yang berpotensi tercemar asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Dampak yang paling tinggi terjadi pada dewasa karena kelompok ini beraktivitas di luar rumah. Contohnya bekerja di luar rumah, kemudian tidak menggunakan masker,” katanya, Jumat (4/9).

Sementara itu, kelompok lansia berada di urutan kelima dalam kasus ISPA. Data tersebut dihimpun berdasarkan nama dan alamat pasien dari kunjungan ke fasilitas kesehatan yang ada di Kabupaten Banjar.

Kondisi itu meningkatkan risiko munculnya berbagai gangguan kesehatan, seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, dan gangguan pernapasan lainnya. (banjarmasinpost.co.id/mariana/nurholis huda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.