BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) bagi anak perempuan usia sekolah dinilai penting sebagai langkah pencegahan kanker serviks sejak dini.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Banjarmasin, dr. Prategrini Purwendahsricahyaprihatin S mengatakan kanker serviks masih menjadi masalah kesehatan serius, termasuk di tingkat daerah.
Ia menyebut berdasarkan data yang dipublikasikan Dinas Kesehatan Banjarmasin, terdapat 132 kasus kanker serviks pada 2024. Sementara hingga Juni 2025, tercatat 69 kasus.
Menurutnya, masih ditemukannya pasien yang datang dalam kondisi stadium lanjut menunjukkan pentingnya upaya pencegahan sejak awal. “Karena kanker serviks sebagian besar berkaitan dengan infeksi HPV yang sebenarnya dapat dicegah, maka pencegahan sejak usia sekolah sangat penting,” ujarnya kepada BPost, Rabu (2/9).
Perempuan yang akrab disapa dr Ratih itu menjelaskan, vaksin HPV diberikan pada usia sekolah bukan karena anak dianggap sudah akan melakukan aktivitas seksual, melainkan untuk membentuk perlindungan sebelum seseorang berpotensi terpapar HPV.
WHO menempatkan anak perempuan usia 9-14 tahun sebagai kelompok sasaran utama vaksinasi HPV. Di Indonesia, program pemerintah menyasar anak perempuan usia sekolah, termasuk siswi kelas 5 dan 6 SD.
Baca juga: Ribuan Warga Banjarmasin Resah Status Desil Tidak Sesuai Kondisi, Dinsos Imbau Ajukan Sanggahan
Vaksinasi pada usia tersebut, lanjutnya, memberikan manfaat jangka panjang dengan membentuk perlindungan terhadap tipe HPV yang berisiko menyebabkan kanker.
Ia menyebut vaksin HPV dapat mencegah lebih dari 90 persen kanker yang disebabkan oleh HPV. Selain kanker serviks, vaksin tersebut juga memberikan perlindungan terhadap beberapa jenis kanker lain yang berkaitan dengan HPV.
Namun, dr Ratih mengingatkan, tidak menerima vaksin HPV bukan berarti seseorang pasti akan terkena kanker serviks. Hanya saja, orang tersebut tidak mendapatkan perlindungan vaksin terhadap tipe HPV yang dapat menyebabkan kanker.
Karena itu, pencegahan kanker serviks tidak berhenti pada vaksinasi. “Strategi pencegahan terbaik bukan hanya vaksinasi, tetapi kombinasi vaksinasi saat usia yang tepat, perilaku seksual yang aman, serta skrining kanker serviks ketika sudah memasuki usia yang direkomendasikan,” jelasnya.
Diakuinya keraguan terhadap vaksin HPV masih menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaannya. Salah satu kekhawatiran yang kerap muncul adalah anggapan vaksin HPV dapat menyebabkan kemandulan atau pubertas dini. Namun dr Ratih menegaskan, tidak ada bukti ilmiah menunjukkan HPV menyebabkan kemandulan atau kerusakan fungsi ovarium.
Dokter Ratih juga mengatakan tidak semua kondisi anak membuat vaksinasi harus dibatalkan. Anak dengan riwayat reaksi alergi berat terhadap dosis sebelumnya atau komponen vaksin tidak boleh menerima vaksin tersebut.
Di Tabalong, pelaksanaan vaksinasi HPV saat ini juga masih berlangsung. Kepala Dinkes Tabalong, Ahmad Baihaki, menyampaikan, vaksinasi HPV melalui BIAS 2026 dilakukan dari Agustus hingga Oktober dengan sasaran 2.438 siswi.
Sedangkan untuk vaksinasi HPV tahun 2025 dengan sasaran 2.296 siswi, capaiannya 2.048 orang atau 89,2 persen, dengan target nasional 90 persen.
Disampaikan Baihaki, setiap tahun pelayanan vaksinasi HPV rutin dilaksanakan melalui imunisasi program nasional atau gratis pada kegiatan BIAS. "Pada kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau BIAS dengan kategori anak perempuan usia 11 tahun atau kelas 5 SD/sederajat yang rutin setiap tahun itu, vaksinasi HPV dilaksanakan secara gratis," ujarnya.
Selain itu, pada tahun ini juga ada layanan imunisasi HPV berbayar tapi mendapatkan subsidi atau diskon yang merupakan program kerja sama Dinkes dengan BPOM, klinik dan Korpri Tabalong. Kategori sasarannya untuk perempuan dewasa yang tidak memiliki gejala kanker leher rahim.
(banjarmasinpost.co.id/dony usman)