TRIBUNMANADO.CO.ID - Pakatuan Wo Pakalawiren, renungan lansia Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dalam sepekan mulai 6-12 September 2026.
Pembacaan alkitab terdapat pada Keluaran 18:13-27.
Tema perenungan adalah Carilah Orang yang Cakap dan Takut Akan Allah.
Khotbah:
Ibu,Bapak Lansia yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Saat ini, Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) sedang bersiap menyambut momentum iman yang sangat
penting, yaitu pemilihan Pelayan Khusus (Pelsus) Penatua dan Diaken.
Gereja kita bukanlah organisasi biasa, melainkan Tubuh Kristus yang hidup. Oleh karena itu, menentukan siapa
yang akan melayani tidak bisa didasarkan pada asas suka atau tidak suka, kedekatan keluarga, tetangga, apalagi sekadar
popularitas.
Melalui firman Tuhan Allah sepanjang minggu ini, kita dituntun oleh sebuah kompas iman yang jelas: •Carilah Orang
yang Cakap dan Takut akan Allah.' Nasihat ini datang dari Yitro kepada Musa dan menjadi tuntunan bagi kita sekalian,
khususnya kaum Lansia, dalam menyikapi pemilihan ini.
Ada tiga hal penting yang dapat kita renungkan bersama dari tema ini:
1. Cakap dan Takut akan Tuhan Allah,
Ketika Yitro melihat Musa kelelahan memimpin bangsa yang besar itu sendirian, ia memberikan solusi rohani sekaligus
organisatoris (ayat 21).
Yitro tidak menyuruh Musa mencari orang yang sekadar populer atau yang paling dekat dengan Musa. Kriterianya jelas:
a.Cakap: Memiliki dedikasi, komitmen, kemampuan manajemen hidup yang baik, serta mampu membagi tugas dengan bijak.
b.Takut akan Allah: Memiliki integritas, karakter rohani yang kuat, setia, dan hidupnya menjadi keteladanan, sebagaimana yang juga ditegaskan Rasul Paulus dalam I Timotius 3:1-13.
Ibu, Bapak Lansia yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Sebagai orang tua yang dihormati, Oma dan Opa memiliki kepekaan rohani untuk melihat mana karakter yang murni dan mana yang sekadar kepalsuan. Mari kita gunakan hikmat tersebut untuk menuntun anak, cucu dan keluarga kita
agar tidak salah memilih.
Ingatkan mereka untuk mencari figur pelayan yang tidak hanya pandai berbicara soal iman, tetapi juga memiliki integritas dan takut akan Tuhan Allah.
2. Peran Lansia sebagai "Yitro" di Masa Kini.
Yitro memberikan teladan yang luar biasa bagi kaum Lansia. Ia adalah sosok orang tua yang bijak. la tidak ikut campui
untuk mencari panggung, kekuasaan atau posisi (ayat 27).
Setelah memberikan nasihat yang objektif demi kebaikan umat dan kesehatan Musa, ia pulang ke negerinya dengan sukacita.
Di usia lanjut ini, tugas utama Oma dan Opa bukan lagi memikul beban fisik pelayanan yang berat dari pagi hingga
malam seperti Musa.
Peran mulia Lansia saat ini adalah menjadi seperti Yitro: menjadi pendamping spiritual, penasihat yang menyejukkan di tengah jemaat dan pendoa syafaat yang tekun.
Jadilah penengah yang membawa damai, yang mengingatkan jemaat agar proses pemilihan ini berjalan dalam
kasih dan saling menghormati.
3. Mendukung Efisiensi dan Kerendahan Hati Pelayanan. Musa dengan rendah hati menerima nasihat mertuanya
(ayat 24).
Ia menyadari keterbatasan fisiknya dan bersedia Pembagian tugas ini mendatangkan keseimbangan: Musa
terjaga kesehatannya dan umat mendapatkan kesejahteraan mendelegasikan tugas kepada para hakim yang terpilih serta keadilan secara efisien.
Musa adalah seorang pemimpin besar yang dipakai Tuhan Allah secara luar biasa.
Namun,ketika ditegur oleh mertuanya bahwa metodenya keliru, Musa tidak menjadi tinggi hati atau tersinggung. la dengan rendah hati mendengar dan menerapkan struktur kepemimpinan yang baru (ayat 24).
Kadang kala, sebagai orang yang dituakan, muncul kecenderungan untuk merasa paling tahu atau sulit menerima
perubahan, terutama di era modern yang serba digital saat ini. Firman Tuhan Allah mengingatkan kita untuk tetap memiliki hati yang mau diajar seperti Musa.
Dukunglah struktur kepemimpinan jemaat yang baru nantinya, meskipun mereka yang terpilih mungkin berusia jauh lebih muda dari oma dan opa.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Mari kita doakan agar proses pemilihan nanti memunculkan para Pelayan Khusus yang rendah hati seperti
Musa, yang siap bekerja sama sebagai satu tim pelayanan dan tidak merasa bisa melakukan semuanya sendiri.
Di era modern ini, kita juga rindu melihat lahimya pemimpin-pemimpin jemaat yang cakap secara manajerial agar pelayanan GMIM semakin bertumbuh.
Oma, Opa, Lansia yang diberkati, mari kita bawa pergumulan pemilihan Pelsus ini ke dalam mezbah doa kita
setiap hari.
Kiranya Roh Kudus menyingkapkan dan mempersiapkan orang-orang yang benar-benar cakap dan takut akan Tuhan Allah untuk melayani jemaat-Nya di periode yang akan datang.
Selaku kaum Lanjut Usia, marilah kita terus menjadi teladan dalam kata dan perbuatan, menjaga kedamaian jemaat dan berserah penuh pada kehendak Tuhan Allah. Amin.
Sumber: Bidang Ajaran dan Tata Gereja GMIM edisi Agustus-September 2026