Fakta-fakta Erupsi Gunung Anak Krakatau dari Jumat Malam Hingga Sabtu Dini Hari
ferri amiril September 05, 2026 10:35 AM

TRIBUNPRIANGAN.COM – Ditengah rasa penasaran perihal dentuman misterius yang ada di Bandung pada dina hari tadi, kini masyarakat Indonesia pun juga dihebohkan dengan kabar jika Gunung Anak Krakatau di wilayah Selat Sunda erupsi hingga menghasilkan gemuruh dan lava fountain (lava air mancur).

Menurut informasi yang beredar, jika kini status gunung masih Siaga (Level III) dan masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif.

Dari beberapa informasi yang dilansir, jika Gunung api tersebut mengalami empat kali erupsi pada Jumat (4/9/2026) pagi setelah terakhir kali meletus pada Senin (31/8/2026).

Tiga erupsi pertama terjadi beruntun pada pukul 04.11 WIB, 04.19 WIB, dan 04.28 WIB.

Ketiganya tidak teramati secara visual, tetapi tercatat di seismograf dengan amplitudo maksimum masing-masing 33 mm, 60 mm, dan 70 mm.

Erupsi berikutnya terjadi pukul 05.46 WIB.

Baca juga: Warga Lumajang Asyik Videokan Erupsi Gunung Semeru, Awan Panas Meluncur Sejauh 5 Km

Baca juga: Masyarakat di Sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki Diminta Waspadai Banjir Lahar Seusai Erupsi Besar

Fakta Erupsi Gunung Anak Krakatau

1. Erupsi berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026 malam.

Laporan pengamatan menyebut Gunung Anak Krakatau mulai mengalami erupsi menerus sejak pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung hingga laporan Sabtu pagi dibuat.

2. Erupsi disertai fenomena lava fountain.

Aktivitas vulkanik kali ini menghasilkan lava fountain atau lava air mancur, yakni material lava pijar yang terlontar dari kawah akibat aktivitas erupsi.

3. Terdengar suara dentuman dan gemuruh.

Dentuman serta suara gemuruh dilaporkan terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Baca juga: Daftar Penerbangan Batal dan Delay dari dan ke Lombok, Akibat Erupsi Gunung Lewotobi, Hari Ini 13/11

4. CCTV pengamatan bahkan terdampak lontaran material.

Dalam laporan pengamatan disebutkan CCTV di lapangan mengalami gangguan/off akibat terkena lontaran dari aktivitas erupsi.

5. Sedikitnya 10 kali erupsi tercatat dalam rangkaian aktivitas tersebut.

Laporan yang mengacu pada MAGMA Indonesia menyebut sedikitnya 10 kali erupsi tercatat sejak malam 4 September hingga dini hari 5 September, dengan erupsi terbaru yang dilaporkan pada 00.01 WIB.

6. Tercatat gempa letusan/erupsi.

Pengamatan kegempaan mencatat satu kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo maksimum 70 mm dan durasi 21.600 detik dalam laporan kondisi tersebut.

Baca juga: VIDEO DETIK-DETIK Awan Panas Guguran yang Dimuntahkan Gunung Merapi saat Erupsi Diunggah BPPTKG

7. Status Gunung Anak Krakatau masih Level III atau Siaga.

Status tersebut bukan berarti gunung berada pada level tertinggi. Pada Juli 2026, PVMBG juga menyatakan Gunung Anak Krakatau belum pernah mencapai Level IV/Awas.

8. Ada batas aman 3 kilometer dari kawah aktif.

Masyarakat, wisatawan, maupun pengunjung dilarang mendekati atau melakukan aktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif.

Baca juga: Gunung Merapi Erupsi, Luncurkan Guguran Awan Panas Sejauh 1.200 Meter ke Arah Kali Bebeng

9. Erupsi Anak Krakatau tidak otomatis berarti tsunami.

PVMBG sebelumnya mengimbau masyarakat pesisir Banten dan Lampung agar tidak panik karena erupsi tidak serta-merta menyebabkan tsunami.

10. Erupsi ini penting dikaitkan dengan dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah.

Memang terdapat kesamaan waktu antara aktivitas erupsi Anak Krakatau dan laporan dentuman. Namun, belum tepat menyimpulkan bahwa dentuman yang terdengar sampai Bandung pasti berasal dari Anak Krakatau. Jaraknya sangat jauh dan perlu konfirmasi resmi dari BMKG/PVMBG sebelum hubungan tersebut dinyatakan sebagai fakta.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.