TRIBUNNEWSMAKER.COM - Banyaknya kasus keracunan yang muncul dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata turut memberi tekanan kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono.
Di tengah berbagai upaya pemerintah memperbaiki penyelenggaraan program tersebut, kasus dugaan keracunan masih saja muncul.
Kondisi itu diakui Sudaryono sempat membuat dirinya mengalami penurunan kondisi hingga merasa tertekan.
"Kalau ditanya drop, ya saya sempat drop menghadapi ini," kata Sudaryono
Meski demikian, persoalan tersebut tidak membuat BGN menghentikan pembenahan. Justru, evaluasi terus dilakukan untuk mencari celah yang memungkinkan terjadinya masalah dalam penyediaan makanan bagi penerima manfaat.
Salah satu perhatian utama BGN kini tertuju pada kepatuhan terhadap prosedur operasional standar (SOP).
Dari evaluasi internal yang dilakukan, Sudaryono menyebut sebagian besar kasus keracunan diduga memiliki kaitan dengan pelaksanaan SOP yang tidak dipatuhi sebagaimana mestinya.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi BGN untuk memperketat pengawasan di satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG), termasuk dapur-dapur yang memproduksi makanan MBG.
Pembenahan tidak hanya menyangkut tata kelola dapur. Cara kerja petugas yang bertanggung jawab terhadap keamanan makanan juga ikut menjadi perhatian.
BGN berupaya memastikan setiap tahapan berjalan sesuai standar, mulai dari bahan makanan dipersiapkan hingga hidangan sampai ke tangan penerima manfaat.
Langkah tersebut dinilai penting karena program MBG memiliki cakupan penerima manfaat yang sangat besar. Dalam waktu relatif singkat, makanan harus diproduksi dalam jumlah banyak dan kemudian didistribusikan.
Untuk memperkuat pengawasan, BGN juga melakukan penyesuaian terhadap pola kerja kepala dapur dan pengawas gizi.
Keduanya nantinya tidak hanya bekerja pada jam kerja biasa. Pengawasan akan dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang menyesuaikan rangkaian proses penyediaan makanan, termasuk pada dini hari dan sore hari.
Dengan pola tersebut, pengawasan diharapkan tidak berhenti pada satu tahapan saja.
Baca juga: 50.059 Orang Jadi Korban Keracunan MBG, DPR Soroti Masalah Sistemik & Dorong Dapur Berbasis Sekolah
Proses persiapan bahan, pengolahan atau memasak, hingga makanan dikemas dan dikirim kepada penerima manfaat dapat dipantau secara lebih optimal.
Pengaturan ini menjadi bagian dari upaya BGN mempersempit potensi kesalahan yang dapat berdampak pada keamanan makanan.
Besarnya skala pelaksanaan MBG membuat persoalan keamanan pangan menjadi salah satu tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Rangkaian proses yang panjang membuka kemungkinan munculnya masalah di berbagai titik. Mulai dari pengadaan bahan makanan, penyimpanan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi, seluruhnya membutuhkan pengawasan yang konsisten.
Sebab, satu persoalan pada salah satu tahapan tersebut dapat memengaruhi makanan yang kemudian dikonsumsi siswa maupun kelompok penerima manfaat lainnya.
Karena itu, keberhasilan MBG tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak makanan yang berhasil dibagikan.
Kandungan gizi, kualitas makanan, serta jaminan bahwa makanan tersebut aman dikonsumsi juga menjadi bagian penting dari keberhasilan program.
Terlebih, MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintah dan menyasar jutaan penerima manfaat. Munculnya kasus keracunan secara berulang pun berpotensi menimbulkan keresahan sekaligus menjadi perhatian publik.
Evaluasi Berlanjut untuk Cegah Kasus Terulang
BGN kini terus melakukan pembenahan terhadap tata kelola dan kualitas sumber daya manusia yang terlibat dalam pelaksanaan MBG.
Penguatan SOP dan pengawasan di setiap SPPG menjadi salah satu langkah yang ditempuh untuk menekan kemungkinan munculnya persoalan serupa.
Evaluasi juga diarahkan agar pelaksanaan MBG tidak semata-mata mengejar target jumlah penerima manfaat.
Lebih dari itu, makanan yang diberikan harus memenuhi standar gizi sekaligus aman dan layak dikonsumsi.
Dengan berbagai pembenahan tersebut, BGN berharap persoalan yang selama ini muncul dapat segera diminimalkan. Pengawasan yang lebih ketat diharapkan mampu membuat pelaksanaan MBG berjalan sesuai tujuan awal, yakni memenuhi kebutuhan gizi masyarakat tanpa mengabaikan aspek keamanan pangan. (TribunNewsmaker/WartaKota)