Klaim-klaim nyeleneh itu sama sekali tidak membantu mantan rekan Mike Dean di Liga Primer.
Baru dua pertandingan berjalan, para wasit Liga Primer sudah menghadapi tantangan berat pada musim ini.
Insiden kontroversial di kasta tertinggi sepak bola Inggris memang masih tergolong minim sepanjang dua pekan awal musim baru, tetapi para ofisial kembali menjadi sorotan dan sasaran pengawasan ketat bukan karena kesalahan nyata dari mereka sendiri, melainkan setelah apa yang disebut sebagai pengungkapan Mike Dean.
Dalam rangkaian pernyataan mencolok di podcast Jamie Vardy, ‘Having A Party’, Dean mengatakan bahwa ia pernah “bercanda” saat menjalankan tugas sebagai wasit pada era sebelum VAR di Liga Primer. Ia mengklaim pernah memainkan sejumlah “pertandingan rahasia”, termasuk menolak meniup peluit hingga menit ke-20 dan berdiri di lingkaran tengah selama mungkin.
Professional Game Referees bergerak cepat untuk meragukan klaim penuh bualan dari pria 58 tahun itu, dengan menegaskan bahwa tidak ada bukti kredibel yang menunjukkan ia benar-benar melakukan tindakan semacam itu sebelum Liga Primer memperkenalkan VAR pada musim 2019/20.
Namun, versi kejadian dari Dean tentang apa yang ia lakukan “sekadar untuk lucu-lucuan” ketika memimpin laga-laga utama sepak bola Inggris kini justru memunculkan kecurigaan baru terhadap mereka yang masih bertugas memimpin pertandingan sejak ia menggantung peluit pada Mei 2022.
Dean sangat paham betapa merusaknya persepsi yang keliru. Pada 2021, ia menerima ancaman pembunuhan setelah mengeluarkan kartu merah dalam dua laga beruntun kepada Tomas Soucek dari West Ham dan Jan Bednarek dari Southampton, yang kemudian dibatalkan lewat banding. Dalam konteks yang tidak seberat itu, tahun-tahun terakhir kariernya juga terus dibayangi tuduhan keberpihakan kepada Liverpool karena isu dua putra fiktif yang disebut-sebut sebagai pemegang tiket musiman di Anfield.
Dalam skenario terbaik, cuplikan pernyataannya terasa bak kisah Walter Mitty; sepenuhnya tanpa dasar bukti faktual dan seolah membenarkan balasan Arsene Wenger pada Desember 2017 yang menyebut dirinya “tidak jujur” — komentar yang membuat manajer legendaris Arsenal itu dijatuhi larangan mendampingi tim selama tiga pertandingan serta denda £40,000. Namun jika ucapannya diterima apa adanya, ia telah membuka kotak mesiu yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar yang belum terukur bagi mantan rekan-rekannya dan badan regulator yang dipimpin Howard Webb.
Ini juga bukan kali pertama Dean membuat kegaduhan. Pada 2023, hanya beberapa bulan setelah mundur dari tugas VAR, ia mengaku sengaja tidak menandai tarikan rambut Cristian Romero terhadap Marc Cucurella kepada “temannya”, Anthony Taylor, dalam hasil imbang panas 2-2 antara Chelsea dan Tottenham, demi menghindarkan sang wasit dari “lebih banyak masalah”. Ia juga bukan mantan ofisial pertama yang kebablasan bicara ketika duduk nyaman di studio podcast. Mark Clattenburg secara terkenal pernah mengungkap bagaimana ia membiarkan Spurs “menghancurkan diri sendiri” saat memimpin ‘The Battle of Stamford Bridge’ pada 2016, laga yang berujung pada Leicester City dinobatkan sebagai juara kejutan.
Mendengar kisah-kisah lama yang diklaim itu menimbulkan kesan bahwa mereka yang masih dipercaya menegakkan hukum permainan adalah bagian dari klub pertemanan yang bangkrut secara moral, tidak jauh berbeda dari gambaran dalam episode wasit di sitkom ‘Inside Number 9’.
Para penggemar sepak bola memang sudah semakin memandang suram sosok-sosok di tengah lapangan, sebagaimana terlihat dari nyanyian spontan yang menyebut Liga Primer “korup” setiap kali muncul keputusan yang diperdebatkan. Tuduhan bias terhadap klub tertentu yang diarahkan kepada sejumlah nama besar wasit saat ini juga terus menyebar liar, baik di tribun maupun di ruang gema media sosial.
Upaya Webb untuk meredakan penolakan dengan membuka tabir percakapan dalam pertandingan antara para ofisial yang ditunjuk, melalui segmen video bulanan yang menganalisis keputusan kontroversial, telah memberi sudut pandang baru terhadap proses berpikir mereka. Dalam beberapa kesempatan, kepala Pro Ref itu bahkan mengakui saat-saat ketika anak buahnya memang membuat kesalahan.
Namun komentar Dean, benar ataupun tidak, langsung merusak upaya-upaya tersebut untuk menghadirkan transparansi dan meyakinkan para pendukung bahwa ketidakberpihakan masih menjadi pedoman bagi mereka yang ditugaskan memastikan pertandingan berjalan sesuai aturan permainan.
Mulai sekarang, setiap keputusan, sekecil apa pun, akan otomatis dipandang dengan kecurigaan, semua karena upaya terbaru Dean untuk merebut 15 detik ketenaran lagi.