966,4 Hektare Lahan Terbakar di Pelalawan Dipadamkan, tapi Asap Masih Muncul dari Gambut
Firmauli Sihaloho September 05, 2026 06:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), khususnya di kawasan Jalan Koridor RAPP Km 8, Desa Rantau Baru, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Pelalawan, belum benar-benar berakhir.

Meski api utama berhasil dikuasai, sekitar 966,4 hektare lahan terdampak kebakaran telah dipadamkan dan petugas masih harus berjibaku di lokasi untuk memastikan api tidak kembali menyala.

Asap tipis masih muncul dari sejumlah titik pada Sabtu (5/9/2026), terutama dari tunggul kayu dan lapisan gambut yang menyimpan panas.

Kondisi ini membuat tim gabungan Kodam XIX/Tuanku Tambusai melalui Kodim 0313/Kampar belum menarik personel dari lokasi.

Kapendam XIX/Tuanku Tambusai, Kolonel M Faizal Rangkuti mengatakan, proses pendinginan tetap dilakukan meski kobaran api sudah tidak terlihat seperti sebelumnya.

"Pendinginan terus dilakukan untuk memastikan titik-titik panas tidak kembali menyala. Tim di lapangan juga terus melakukan pemantauan terhadap area yang masih mengeluarkan asap," ujar Faizal.

Petugas menyisir kembali area yang terbakar untuk mencari titik panas yang masih tersisa. 

Baca juga: Kualitas Udara Siak Makin Berbahaya, 13 Kecamatan Masuk Level Sangat Tidak Sehat

Baca juga: Karhutla 4 Hektare di Perbukitan Rohul Bongkar Dugaan Pembukaan Kawasan Hutan Tanpa Izin

Pembasahan dilakukan secara intensif, sementara penyekatan menggunakan alat berat diperkuat untuk mengantisipasi api kembali merambat.

Dalam operasi tersebut, tim mengerahkan 18 mesin Ministrike, satu Maxtri, dua mesin Sibahura, 24 selang isap, 193 gulung selang buang dan 35 nozel.

Sebanyak dua drone digunakan untuk memantau kawasan yang sulit dijangkau dari darat. 

Sementara 12 unit excavator dikerahkan membantu penyekatan dan pengendalian area terbakar.

Faizal menyebut kondisi lahan gambut yang kering menjadi tantangan tersendiri. Panas yang masih tersimpan di dalam lapisan gambut dapat memicu munculnya kembali asap maupun api, terutama saat cuaca panas dan angin menguat.

"Karena kondisi gambut yang masih menyimpan panas memang membutuhkan penanganan dan pemantauan lebih lanjut. Tim tetap berada di lapangan sampai kondisi benar-benar dinyatakan aman," katanya.

Penanganan dilakukan bersama unsur Polri, BPBD, Basarnas, pemadam kebakaran, Masyarakat Peduli Api serta perusahaan di sekitar lokasi.

Kesiapan menghadapi karhutla ini merupakan bagian dari kekuatan yang disiapkan Kodam XIX/Tuanku Tambusai untuk wilayah Riau dan Kepulauan Riau.

Sebanyak 2.460 personel telah disiagakan, termasuk melalui 13 posko karhutla dan 13 tim Quick Response Force (QRF) yang disiapkan untuk bergerak cepat ketika ditemukan titik api.

"Untuk menghadapi potensi Karhutla, Kodam XIX/Tuanku Tambusai telah menyiapkan kekuatan 2.460 personel. Kami juga membentuk 13 posko karhutla dan 13 tim Quick Response Force yang tersebar di seluruh kabupaten," ujar Faizal.

Menurutnya, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Pemantauan dan pendinginan harus dilakukan sampai tidak ada lagi potensi api kembali muncul.

"Penanganan sedini mungkin sangat penting untuk mencegah kebakaran meluas," tegasnya.(Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.