Laporan Wartawan Tribunjatim Network Misbahul Munir
TRIBUNJATIM.COM, BOJONEGORO - Tembakau di Bojonegoro kini harganya merosot tajam.
Harga jual tembakau rajang kering di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur mengalami penurunan di kisaran Rp33 ribu hingga Rp37 ribu perkilogram.
Padahal harga tembakau sebelumnya sempat menyentuh di kisaran harga Rp45 ribu perkilogram.
Penurunan harga tersebut diketahui terjadi saat menjelang puncak panen raya tembakau. Hal tersebut di ungkapkan oleh Suherman (35) petani tembakau asal Desa Megale Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro. Ia menyebutkan harga tembakau rajang kering mengalami penurunan drastis dalam sepekan terakhir.
Suherman mengungkapkan harga tembakau sempat mengalami kenaikan di kisaran harga Rp45 ribu perkilogram.
Baca juga: Angkut Tembakau, Pickup Terlibat Kecelakaan Beruntun di Sampang, Tangan Kanan Pengemudi Memilukan
Namun, hal itu tidak berlangsung lama, harga tembakau kemudian mengalami penurunan cukup signifikan.
"Harga tembakau sekarang anjlok sekitar Rp33 ribu, kalau kualitasnya bagus Rp37 ribu. Hampir semua desa harganya segitu," ujar Suherman, sabtu (5/9/2026).
Hal serupa juga diutarakan oleh Solikan petani asal Kecamatan Sumberejo, turunnya harga tembakau ini terjadi di tengah puncak musim panen tembakau. Kondisi ini membuatnya dan para petani lainnya tak berdaya.
Di sisi lain banyak petani yang baru saja mulai panen namun harga jual malah turun.
"Padahal cuacanya mendukung, dan tembakau yang dihasilkan lagi bagus-bagusnya," tambahnya.
Ia menduga minimnya penyerapan tembakau untuk mengisi gudang perusahaan rokok. Ditambah ketatnya seleksi tembakau yang akan diserap oleh perusahaan.
Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro mencatat di tahun 2026 luasan tanam tembakau mencapai 15.672,68 hektare.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda sekaligus Subkor Tanaman Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, Bambang Wahyudi, menyebut luas tanam tembakau pada tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2025.
Menurutnya peningkatan luas tanam tersebut salah satunya dipengaruhi kondisi iklim yang mendukung pada musim tanam tembakau tahun ini.
“Untuk tahun 2026 sampai hari ini luas tanam tembakau mencapai 15.672,68 hektare. Ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 12.041 hektare,” singkatnya.
Melihat dari luasan tanam tembakau tahun ini yang mengalami peningkatan berbanding lurus dengan produksi tembakau di Bojonegoro yang berlimpah, hal ini berbanding terbalik dengan serapan hasil produksi tembakau yang kurang sehingga hal ini disinyalir membuat harga tembakau menjadi turun.
Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com