Akhirnya Pakubuwono XIV Hangabehi Naik Tahta Jadi Raja Keraton Solo, Ini Makna Ikrarnya
Musahadah September 05, 2026 07:32 PM

 

SURYA.CO.ID I SOLO - Pakubuwono XIV Hangabehi akhirnya naik tahta menjadi raja baru Keraton Solo. 

Hal ini ditandai dengan prosesi Jumenengan Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakubuwono (PB) XIV yang digelar di Keraton Solo, Jawa Tengah, Sabtu (5/9/2026).

Jumenengan merupakan tradisi adat Keraton Solo yang menjadi bagian penting dalam prosesi pengukuhan seorang raja.

Rangkaian prosesi Jumenengan PB XIV Hangabehi diawali dengan keluarnya raja atau Mangkubumi dari kawasan utama Keraton Solo menuju Sitihinggil.

PB XIV Hangabehi kemudian berjalan menuju Pagelaran dengan diiringi sejumlah pengikut.

Mereka terdiri atas abdi dalem, kerabat, perangkat upacara, serta membawa ampilan dalem atau pusaka dan perangkat kesenian.

Setibanya di Sitihinggil, PB XIV Hangabehi mengucapkan ikrar sebagai penguasa baru Keraton Solo.

Ikrar tersebut mengikuti tradisi yang telah dilakukan raja-raja Keraton Solo sebelumnya.

"Insun ngundangake ana sanduwure Sela Tri Denta, yen ingsun wis kajumbunngake ing ari tumpak kasih 22 mulud 1960 kanthi jejuluk Kanjeng Dalem ingkang sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati ing Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panatagama kaping 14. Sabanjure ingsun kang mbacutake minangka pangreksaning hukum adat, lan sakabehe kang padha suwitani ngadep ing Kraton Surakarta padha nindakake gawa gawe. Rahayu, rahayu, rahayu," ucap sumpah PB XIV Hangabehi.

Ikrar tersebut menjadi sumpah PB XIV Hangabehi untuk memikul amanah serta menjalankan perintah para leluhur sesuai tata upacara yang diwariskan secara turun-temurun.

"Bismillahirrohmanirrohim. Kanthi nyebut asmaning Gusti Allah SWT, ingsun sumpah prasapa, ana sandhuwuring sila, kajuwan polowing amuntun, kanthi yèn ingsun wus kajuwengaken, ing ari tumpak asih, 21 wulan B, 1160, kanthi jejuluk: Sampeyan Dalem Ngarso Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati ing Ngalogo Abdulrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Kaping 14, nunjuk syukur marang Gusti Allah kang murba amisesa jagad raya ya sonjine, mring ingsun begedhake leluhur-leluhur, leluhur para leluhur ngrumat mataram Islam kanthi runt-temurun, rahayu, bahayu, rahayu," lanjut ikrar PB XIV Hangabehi.

Gusti Moeng Ungkap Makna Ikrar PB XIV

Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GRAy Koes Moertiyah Wandansari atau akrab disapa Gusti Moeng menjelaskan bahwa seluruh rangkaian Jumenengan menjadi wujud kepatuhan terhadap tata adat pakem Keraton.

"Rangkaian acara dalam rangka melengkapi bertakhtanya Sinuwun Pakubuwono XIV akan dimulai sejak sore hari," urai Moeng.

Menurut Gusti Moeng, melalui prosesi adat tersebut, PB XIV menyampaikan kesanggupannya menjalankan amanah dan perintah para leluhur.

"Di Mangguntur Tangkil, Sinuwun akan menyampaikan kesanggupannya untuk menjalankan apa yang menjadi amanah dan perintah para leluhur melalui pagelaran atau prosesi adat yang telah diwariskan," ungkap Gusti Moeng.

Sebelumnya Digelar Ruwatan

NAIK TAHTA -  Pakubuwono XIV Hangabehi yang akan menjalani upacara kenaikan tahta Keraton Solo hari ini, Sabtu (5/9/2026).
NAIK TAHTA - Pakubuwono XIV Hangabehi yang akan menjalani upacara kenaikan tahta Keraton Solo hari ini, Sabtu (5/9/2026). (Tribun Solo/Ahmad Syarifudin)

Menjelang kenaikan tahta, Pakubuwono XIV Hangabehi menjalani tradisi ruwatan di Pagelaran Keraton Solo pada Jumat (4/9/2026).

Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Hangabehi sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Koes Moertiyah Wandansari atau yang akrab disapa Gusti Moeng, mengungkapkan ruwatan ini dilakukan untuk menghilangkan hal-hal tidak baik dalam diri seseorang.

“Ruwatan pada dasarnya dimaksudkan untuk menghilangkan sukerta, yaitu segala sesuatu yang dianggap tidak baik atau dapat menjadi penghalang dalam perjalanan kehidupan seseorang,” ujar Gusti Moeng dalam keterangan tertulis, Jumat (4/9/2026).

Dalam prosesi yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIB tampak Sunuhun Hangabeli mengenakan pakaian serba putihmenjalani rangkaian ruwatan dengan khidmat.

Baca juga: Tantang KGPH Hangabehi Ikrar di Watu Gilang Jika Ingin Jadi Raja Keraton Solo, Ini Sosok KGPH Benowo

Prosesi ruwatan kali ini dipimpin melalui pagelaran oleh Sri Susilo, yang dikenal dengan sebutan Dalang Tengkleng.

Gusti Moeng mengatakan, keterlibatan Dalang Tengkleng tidak terlepas dari tradisi ruwatan yang telah berlangsung serta hubungan trah dengan lingkungan Keraton.

“Untuk pelaksanaan ruwatan kali ini, dalangnya adalah Sri Susilo yang dikenal dengan Dalang Tengkleng. Dalang Tengkleng merupakan bagian dari tradisi ruwatan dan masih memiliki garis keturunan atau hubungan trah dengan lingkungan Keraton,” jelasnya.

Gusti Moeng berharap, Sinuhun Hangabehi kelak mampu menjalankan perannya sebagai pemimpin yang mengayomi seluruh lingkungan keraton, mulai dari sentono hingga abdi dalem, serta menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang raja.

“Yang paling utama, Sinuhun diharapkan dapat menjadi panutan dan pengayom bagi para sembahan dan abdi dalemnya, serta mampu menjalankan tanggung jawab dan amanah sebagai seorang raja,” kata Gusti Moeng, dalam keterangan tertulis.

Sosok Pakubuwono XIV Hangabehi

Hangabehi adalah putra tertua Kanjeng Sinuhun Pakubuwono (PB) XIII dari pernikahan kedua dengan KRAy Winarni, yang terjadi sebelum PB XIII naik takhta.

Ia memiliki nama kecil Gusti Raden Mas Soerjo Soeharto.

Sebelum menyandang nama Hangabehi, ia lebih dikenal dengan gelar KGPH Mangkubumi, yang kemudian diganti pada 24 Desember 2022.

Pangeran kelahiran Surakarta, 5 Februari 1985 ini dikenal sebagai pemerhati keris.

Pada September 2025 lalu, ia mendapat undangan dari Pemerintah Belanda melalui Kementerian Kebudayaan untuk menghadiri pameran keris di Belanda.

Dalam kesehariannya, Hangabehi aktif merawat dan menjaga Museum Keraton Kasunanan Surakarta sebagai Pengageng Kasentanan.

Hangabehi menjelaskan, banyak koleksi di museum yang memerlukan perawatan khusus. Bagi dia, museum yang berada di Keraton Surakarta sudah bisa disejajarkan dengan museum-museum nasional.

“Banyak sekali artefak yang ternyata butuh treatment khusus. Koleksi di museum ini sebenarnya sudah tergolong mumpuni dan bisa disejajarkan dengan museum-museum nasional,” katanya, Jumat (7/11/2025) lalu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.