SURYA.CO.ID – Fakta baru terungkap dari aksi demonstrasi yang dilakukan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) pada Kamis (27/8/2026) lalu.
Ternyata malam sebelum aksi atau pada Rabu (2/8/2026) para aktivis AMPB ini mengadakan pertemuan dengan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad.
Fakta ini diungkap sendiri oleh Koordinator AMPB Supriyono alias Botok.
Botok membantah anggapan bahwa pertemuan tersebut merupakan bagian dari skenario untuk meredam atau menghentikan aksi AMPB.
Dikatakan Botok, pertemuan itu justru menjadi kesempatan bagi AMPB untuk menyampaikan aspirasi sekaligus memberikan tekanan kepada pimpinan DPR agar tuntutan mereka ditindaklanjuti.
Baca juga: Nasib Donasi untuk Aktivis Pati setelah Demo AMPB di Gedung DPR Berlangsung Singkat, Ini Kata Botok
“Kalau demo setting-an enggak. Ini memang asli demo,” kata Botok kepada Kompas.com, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Botok, pertemuan itu berawal dari pernyataannya di media sosial pada Rabu (26/9/2026) pagi, saat AMPB membuka posko di Jakarta.
Ia mengatakan, AMPB tidak menutup diri terhadap dialog.
Bahkan, pihaknya siap berdiskusi apabila pimpinan DPR RI ingin mendengar langsung aspirasi masyarakat Pati.
“Aliansi Masyarakat Pati Bersatu ini tidak anti diskusi, tidak anti dialog. Kalau misalkan dari teman-teman di DPR RI mengajak kita berdialog, kita juga siap,” kata dia.
Botok mengaku mendapat telepon dari polisi yang menanyakan kesediaan AMPB untuk dimediasi dan dipertemukan dengan Dasco.
“Teman-teman AMPB nanti bisa kita mediasi ketemu sama Pak Dasco,” kata Botok menirukan komunikasi dengan pihak kepolisian.
Setelah aktivitas di posko selesai sekitar pukul 18.00 WIB, rombongan AMPB kemudian berada di tempat evakuasi di KSPSI.
Sekitar pukul 22.00 WIB, sejumlah personel kepolisian datang menemui mereka.
Botok menyebutkan, ada sekitar tiga kendaraan dan sekitar enam orang dari kepolisian.
Dari pertemuan tersebut, AMPB mendapat informasi bahwa Dasco bersedia menerima mereka.
Sekitar 10 orang dari AMPB, termasuk sejumlah peserta dari Bogor, kemudian dibawa menggunakan kendaraan polisi menuju Gedung DPR RI.
Pertemuan berlangsung sekitar pukul 23.00 WIB.
Menurut Botok, tidak ada kesepakatan rahasia ataupun komitmen untuk menghentikan demonstrasi dalam pertemuan tersebut.
“Tidak ada deal-deal-an. Kita tidak ada komitmen dengan Pak Dasco maupun teman-teman yang lain,” tegasnya.
Botok menyebutkan, inti pertemuan adalah penyampaian aspirasi masyarakat kepada pimpinan DPR.
Ia mengatakan, AMPB tidak datang untuk berkompromi, melainkan memastikan tuntutan mereka didengar dan ditindaklanjuti.
“Kita justru pada malam itu memberi tekanan kepada Pak Dasco agar menerima dan menindaklanjuti aspirasi dari kami,” katanya.
Salah satu hal yang dibicarakan adalah RUU Perampasan Aset.
Menurut Botok, Dasco menyampaikan bahwa pembahasan RUU tersebut telah memiliki tahapan dan agenda yang dijadwalkan mulai September hingga Desember, termasuk agenda rapat dengar pendapat dengan para ahli hukum.
Botok menegaskan, informasi tersebut disampaikan Dasco dalam konteks menjelaskan perkembangan pembahasan RUU, bukan sebagai bagian dari kesepakatan untuk menghentikan aksi AMPB.
“Belum ada deal. Pak Dasco menyampaikan untuk RUU Perampasan ini sudah ada jadwalnya, termasuk Rapat Dengar Pendapat, mengundang ahli-ahli hukum,” ujarnya.
Selain membantah tudingan aksi setting-an, Botok juga menjelaskan soal demonstrasi AMPB pada 27 Agustus yang berakhir sekitar pukul 12.00 WIB.
Ia mengatakan, keputusan tersebut bersifat kondisional dan berkaitan dengan situasi di lapangan.
Botok mengaku sebelum aksi telah berkomunikasi dengan pihak kepolisian.
Dalam komunikasi itu, ia menyebutkan, polisi memberikan peringatan mengenai potensi adanya penyusup dalam aksi.
Menurut informasi yang diterimanya, terdapat dugaan pihak tertentu ingin membuat demonstrasi Pati berlangsung ricuh.
“Mohon untuk besok hati-hati karena besok diduga memang banyak sekali penyusup,” ujar Botok, mengutip peringatan dari pihak kepolisian.
Ia mengatakan polisi juga menyampaikan dugaan adanya aktor yang ingin membuat aksi tersebut berujung chaos.
Tujuannya, menurut Botok, agar citra negatif terhadap massa Pati kembali muncul setelah aksi sebelumnya di Jakarta dikaitkan dengan kerusuhan.
“Agar image yang kemarin bahwa Pati datang ke Jakarta membuat kerusuhan itu terbukti pada hari itu,” katanya.
Botok bahkan menyebut kondisi tersebut berpotensi berujung pada penangkapan sejumlah peserta aksi, termasuk dirinya.
Ketika ditanya apakah peringatan tersebut memang berasal dari pihak kepolisian, Botok menjawab singkat dan tegas.
"Iya,".
Seperti diketahui, para aktivis Pati yang dikoordinir Supriyono alias Botok langsung bergerak kembali ke Pati setelah audiensi dengan pimpinan DPR di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Mereka pulang setelah para pimpinan DPR menandaang Surat Komitmen Penyelesaian Pembentukan RUU Perampasan Aset.
Inti dari surat itu adalah komitmen untuk merampungkan dan mengesahkan RUU Perampasan Aset paling lambat pada 15 Desember 2026.
Bahkan, pada poin keempat, para pimpinan dewan mempertaruhkan jabatan mereka jika gagal memenuhi tenggat waktu tersebut.
Setelah mendapatkan surat komitmen itu, para aktivis Pati ini bergerak kembali ke Pati. (kompas.com)