TRIBUNJOGJA.COM - Memasuki penyelenggaraan ke-21, Asia Tri Jogja tahun ini mengusung tema “Embodied Body” atau “Tubuh yang Menjelma”. Memasuki penyelenggaraan ke-21, Asia Tri Jogja tahun ini mengusung tema “Embodied Body” atau “Tubuh yang Menjelma”. Festival seni pertunjukan internasional tersebut menghadirkan seniman dan kelompok seni dari Indonesia, Jepang, Singapura, dan Prancis.
Sekretaris BKN, Totok Hedi Santosa, mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya BKN membangun ruang bersama bagi masyarakat untuk mencari alternatif atas berbagai persoalan yang terjadi.
“BKN bekerja sama dengan Asia Tri sebagai bentuk nyata dari komitmen BKN untuk bersama-sama dengan masyarakat selalu mencari alternatif dari kemampatan-kemampatan yang terjadi karena berbagai alasan,” ujar Totok.
Menurutnya, kerja kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan pertunjukan, tetapi juga memperluas jaringan dan menciptakan ruang yang dapat tumbuh di tengah masyarakat.
“Selebihnya ini adalah cara untuk memperluas jaringan sehingga bisa membentuk ruang bersama untuk terus-menerus berekspresi yang betul-betul tumbuh dan ada di masyarakat,” katanya.
Totok menilai keberadaan ruang bersama penting agar masyarakat dapat melihat berbagai persoalan melalui perspektif yang berbeda. Dengan demikian, pemaknaan terhadap realitas tidak hanya ditentukan oleh kelompok atau kekuatan tertentu.
“Hal itu kami anggap penting karena di dalamnya orang bisa melihat apa yang sesungguhnya terjadi melalui cara pandang yang berbeda dan tidak dimonopoli oleh kekuatan tertentu, kekuasaan tertentu,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebebasan berpikir dan berekspresi merupakan bagian penting dalam kehidupan kebudayaan.
“Kebebasan berpikir dan berekspresi menjadi sesuatu yang sangat penting dan bisa menjadi penanda peradaban,” lanjut Totok.
Arsip Pengalaman
Tema “Embodied Body” dalam Asia Tri Jogja 2026 mengangkat tubuh sebagai ruang pengalaman, ingatan, dan ekspresi.
Dalam festival tersebut, tubuh tidak hanya dipandang sebagai objek pertunjukan, tetapi juga sebagai medium yang menyimpan pengalaman hidup, ingatan, trauma, kerinduan, hingga bentuk perlawanan.
Sejumlah karya yang ditampilkan antara lain Cikau Sugeh dari Komunitas Anak Sawah, ZARLOR… In Between Line karya Florence Boyer, Potret Samar dari Gandrung Dance Studio, Scribbling Images karya Veshnu, serta Moln Moln dari Yamato No Tamashii.
Karya-karya tersebut membawa beragam isu, mulai dari pengalaman personal hingga persoalan ekologis, ketahanan pangan, perawatan, duka, dan ketangguhan.
Direktur Asia Tri Jogja, Bambang Paningron, mengatakan tubuh dapat menjadi medium untuk menyimpan sekaligus menyampaikan pengalaman.
“Tubuh adalah arsi, ingatan yang tak pernah hilang. Ia juga bahasa, yang mampu berbicara melalui kosakata gerak yang begitu kaya,” ujar Bambang.
Selain pertunjukan, Asia Tri Jogja 2026 juga menggelar lokakarya dan dialog pada 3 September. Para seniman peserta membagikan proses kreatif mereka dalam ruang terbuka yang menjadi bagian dari rangkaian festival.
Asia Tri pertama kali diinisiasi di Yogyakarta pada 2005 oleh seniman dari tiga negara, yakni Soga Masaru dari Jepang, Yang Hye-Jin dari Korea, dan Bambang Paningron dari Yogyakarta.
Festival tersebut kemudian berkembang menjadi ruang pertemuan bagi seniman dari berbagai negara dengan beragam latar tradisi dan praktik seni pertunjukan kontemporer. (*/rls)