TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gunung Merapi teramati mengalami 1 kali guguran lava ke arah Barat Daya ( Hulu Kali Krasak ) dengan jarak luncur maksimum 1.600 meter.
Teramati pula 1 kali guguran lava ke arah Barat Daya ( Hulu Kali Sat/Putih ) dengan jarak luncur maksimum 1.500 meter .
Hal itu berdasarkan hasil pemantauan BPPTKG Yogyakarta sepanjang periode pengamatan hingga pagi hari ini, Minggu (6/9/2026), pukul 00.00-06.00 WIB.
Sementara untuk laporan pengamatan kegempaan, tercatat 7 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2.15-12.19 mm dan lama gempa 51.13-152 detik.
Selain itu tercatat pula 18 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 2.22-28.83 mm, S-P 0.3-0.5 detik dan lama gempa 12.4-63.61 detik.
Serta 1 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 6 mm, S-P 42.22 detik dan lama gempa 161.09 detik.
Hingga saat ini, Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan Level III (Siaga) untuk gunung berapi aktif di perbatasan DIY dan Jawa Tengah tersebut.
Untuk pengamatan visual, Gunung api terlihat jelas.
Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 10 meter dari puncak.
Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat.
Suhu udara sekitar 13.6-17.7°C. Kelembaban 71-75 persen. Tekanan udara 875.9-919.9 mmHg.
Baca juga: Sleman Bakal Punya Transportasi Massal Bernama Trans Sembada
Lebih lanjut, BPPTKG Yogyakarta menyampaikan rekomendasi terkait potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Masyarakat pun diimbau agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya dan mewaspadai bahaya lahar serta awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. (*)