BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kondisi kemarau ekstrem dan menurunnya debit air baku, menjadi tantangan serius bagi pelayanan air bersih di Kota Banjarmasin.
Beberapa hari terakhir warga di sejumlah kawasan di Banjarmasin harus antre mendapatkan pasokan air bersih, melalui mobil tangki yang disiapkan PAM Bandarmasih.
Pelanggan yang terdampak sebagian besar bermukim di kawasan ujung jaringan pelayanan. Di wilayah Utara, penurunan debit air berdampak dari Booster Benua Anyar hingga ke sebagian kawasan Sungai Andai di bagian ujung di antaranya Kompleks Mutiara dan Akasia.
Sedangkan di wilayah Barat, meliputi Pasir Mas dan Pelambuan, serta wilayah Selatan yakni Kelayan B, Teluk Tiram, dan Basirih, air dilaporkan masih mengalir namun dengan debit yang kecil.
Terbaru di kawasan Kuin Cerucuk dan Pelambuan juga terdampak, warga berbondong-bondong mengisi galon dari mobil tangki yang dikirim PAM.
Ketua RW 01 Kuin Cerucuk, Ahmad Husain mengatakan, pihaknya berterima kasih atas respon cepat keluhan yang pihaknya sampaikan dan menyuplai air gratis bagi warga.
Direktur Utama PAM Bandarmasih, Zulbadi mengatakan, penanganan saat ini dilakukan dengan memaksimalkan sumber air baku yang masih tersedia, melakukan pemantauan kualitas air, rekayasa distribusi pengaliran, serta optimalisasi blending air baku.
Baca juga: Material Proyek Penguatan Tebing Sungai Terbakar, PUPR HSU Pastikan Tak Ganggu Waktu Pengerjaan
Pihaknya juga terus menyiagakan mobil tangki air bersih gratis untuk membantu masyarakat di wilayah yang terdampak.
Ditambahkannya, kondisi saat ini berkaitan dengan menurunnya debit air sungai yang dapat memicu intrusi air laut dan meningkatkan kadar garam pada sumber air baku.
Karena itu, penanganan tidak cukup hanya dengan menjaga distribusi saat kondisi kritis, tetapi juga membutuhkan penguatan sistem penyediaan air baku.
"Untuk jangka panjang, PAM Bandarmasih telah menyiapkan mitigasi melalui pemasangan pipa air baku berdiameter 800 milimeter dari Pematang Panjang menuju IPA 2 serta pembangunan embung atau bak prasedimentasi," paparnya, Minggu (6/9/2026).
Infrastruktur tersebut diarahkan untuk menyediakan sumber dan cadangan air baku yang lebih andal ketika kondisi kemarau kembali terjadi.
Rencana penguatan ketahanan air baku ini juga telah dibahas bersama pemerintah daerah dan Balai Wilayah Sungai Kalimantan III.
Solusi jangka panjang ini menurutnya membutuhkan proses, mulai dari perencanaan, koordinasi, pembiayaan hingga pembangunan.
"Tetapi ini yang sedang kami dorong, agar ke depan pelayanan tidak hanya bergantung pada kondisi sumber air baku saat musim kemarau," jelas Zulbadi.
Ia menegaskan, penanganan krisis air oleh PAM Bandarmasih selanjutnya berjalan dalam dua arah, yakni menjaga masyarakat tetap mendapatkan pelayanan dan bantuan air dalam kondisi saat ini, sekaligus membangun sistem penyediaan air baku yang lebih kuat untuk menghadapi kondisi serupa di masa mendatang. (Banjarmasinpost.co.id/Mariana)