Gaya bermain yang kerap disebut sebagai sepak bola ‘heavy-metal’ milik Jurgen Klopp menjadi salah satu corak permainan yang mendefinisikan sebuah era.
Filosofi gegenpressing pelatih asal Jerman itu kemudian identik dengan permainan menyerang tanpa henti, mula-mula bersama Borussia Dortmund lalu Liverpool, tetapi sebelum itu ada klub Bundesliga lain yang lebih dulu membuka jalan.
Hoffenheim baru saja promosi ke kasta tertinggi sepak bola Jerman pada 2008, namun laju pesat mereka di bawah asuhan Ralf Rangnick membuat tim tersebut menjelma menjadi salah satu kesebelasan paling menarik di negara itu dan menarik perhatian Klopp.
Hoffenheim yang berstatus tim promosi menjamu Dortmund pada awal musim Bundesliga 2008/09, ketika kalangan mapan sepak bola Jerman mulai benar-benar memberi perhatian kepada mereka.
Demba Ba, yang kelak menjadi penyerang Chelsea, merupakan sosok sentral dalam tim itu dan mengenang sebuah pertandingan yang meninggalkan kesan mendalam pada Klopp serta membantu membentuk filosofi sepak bola bos Liverpool di masa depan tersebut.
“Itu adalah pekan kelima liga,” kata Ba kepada FourFourTwo. “Hoffenheim baru saja promosi ke Bundesliga.
“Gaya bermain kami menjadi angin segar di Jerman. Tim ini memainkan sepak bola menyerang, memberikan segalanya sejak awal, siapa pun lawannya. Kurangnya pengalaman kami di level tertinggi nyaris tidak terlihat karena kami menutupinya dengan kerja keras dan keberanian.”
Hal itu langsung terlihat ketika pendatang baru di divisi teratas tersebut menghadapi tim asuhan Klopp.
“Hari itu, hanya dalam waktu setengah jam, kami sudah unggul 2-0 atas Borussia Dortmund. Saya ingat kami bermain dengan intensitas yang sangat tinggi.
“Setelah pertandingan saya benar-benar kelelahan karena saya memberikan segalanya di lapangan. Itu luar biasa.”
Arti penting dari pertandingan itu baru disadari Ba beberapa tahun kemudian, saat ia kembali berbincang dengan mantan pelatihnya.
“Bertahun-tahun kemudian, ketika berbicara dengan Ralf Rangnick, dia menceritakan sebuah anekdot menarik kepada saya,” lanjutnya. “Setelah kekalahan telak itu, Klopp mengakui kepadanya bahwa sejak saat itu dia ingin semua timnya bermain seperti itu.
“Dia menerapkannya di Dortmund dan kemudian di Liverpool. Dalam arti tertentu, kami adalah pelopor gegenpressing-nya Jürgen.”