Sentuhan Tangan Ketua RW Bello, Beri Bibit Gratis Sulap Petani Lokal Jadi Sukses dan Mandiri
Edi Hayong September 06, 2026 08:42 PM

POS-KUPANG.COM, KUPANG- Hamparan tanaman sayur brokoli yang tumbuh subur terlihat di kebun milik David Tuan, warga RT 5/RW 3, Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Di antara tanaman yang berjajar rapi, David memanen sayur brokoli yang telah siap dipasarkan. Selain brokoli, ia menanam jagung pulut sebagai bagian dari usaha pertanian untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menambah pendapatan.

Menariknya, keberhasilan David membudidayakan sayur brokoli bermula dari sesuatu yang sederhana. Bibit yang digunakan tidak dibelinya sendiri, melainkan diperoleh dari sumbangan Ketua RW 03 Kelurahan Bello, Goris Takene.

David mengatakan, brokoli relatif cepat dipanen. Dalam waktu sekitar tiga bulan sejak ditanam, tanaman sudah dapat dipetik dan dijual kepada konsumen.

Harga brokoli yang dipanen berkisar Rp10.000-Rp20.000 per pohon, tergantung ukuran dan kondisi tanaman. Dalam sekali panen, David mengaku dapat memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp2 juta hingga Rp4 juta dengan jumlah tanaman 200 pohon.

“Kalau tiga bulan sudah bisa panen. Bibitnya saya dapat dari Pak Ketua RW Goris, jadi saya tidak perlu membeli bibit,” kata David pada Minggu (6/9/2026).

Untuk menekan biaya produksi, David juga memanfaatkan pupuk organik dari lingkungan sekitar. Sebagian besar pupuk yang digunakan berasal dari kotoran ternak sapi, kambing, dan ayam.

Persoalan air menjadi tantangan tersendiri. Air untuk menyiram tanaman diperoleh dari sumur, kemudian ditampung di dalam tandon berbahan fiber sebelum dialirkan ke lahan brokoli dan jagung.

Keterbatasan air membuat David tidak dapat menanam brokoli sepanjang tahun. Dalam dua tahun terakhir, ia hanya menanam brokoli satu musim dalam setahun, menyesuaikan dengan ketersediaan air.

“Kalau air cukup, kami bisa tanam. Jadi selama dua tahun terakhir hanya satu musim, karena harus menyesuaikan dengan persediaan air,” ujarnya.

Berbelanja Sekaligus Berekreasi

Aktivitas di kebun David sore itu tidak hanya diisi dengan kegiatan panen. Hyronimus Modo, mantan wartawan senior Pos Kupang, datang langsung untuk membeli hasil pertanian.

Ia mengetahui keberadaan kebun tersebut setelah melihat unggahan Goris Takene di media sosial.

Bagi Hyronimus, membeli sayuran langsung dari kebun petani bukan sekadar kegiatan berbelanja. Ada pengalaman berbeda yang didapat konsumen: memperoleh sayuran segar sekaligus menikmati suasana kebun.

“Belanja langsung di kebun petani, selain mendapatkan sayur yang segar, kita juga bisa berekreasi. Ini pengalaman yang berbeda,” katanya.

Menurut dia, pola belanja seperti itu juga menjadi bentuk dukungan langsung kepada petani. Konsumen membeli hasil panen dari sumbernya sehingga petani memiliki akses pasar yang lebih dekat.

“Kalau masyarakat datang langsung membeli hasil kebun, petani merasa dihargai. Hasil pertanian mereka juga bisa langsung sampai ke konsumen,” ujarnya.

Hironimus mengapresiasi langkah Goris Takene yang tidak hanya mendorong warga memanfaatkan lahan untuk bertani, tetapi juga menyediakan bibit dan melakukan pembinaan di lingkungan RW 03.

Menurut dia, bantuan bibit mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi petani, bantuan tersebut dapat menjadi awal untuk menggerakkan lahan sekaligus menghasilkan pendapatan.

Dari Bibit Menjadi Penghasilan

David mengakui dukungan tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan kebunnya. Brokoli dan jagung pulut yang ditanamnya tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi sumber tambahan penghasilan.

Kisah David memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari program besar. Bibit, pendampingan, pemanfaatan pupuk kandang, serta akses langsung kepada konsumen dapat menjadi modal sederhana untuk menghidupkan aktivitas pertanian di lingkungan permukiman.

Bagi Hyronimus, apa yang berlangsung di Bello merupakan contoh pemberdayaan yang tumbuh dari tingkat paling bawah.

Petani tidak sekadar menerima bantuan, tetapi didorong untuk menanam, merawat, memanen, dan memasarkan sendiri hasil pertaniannya.

Di tengah keterbatasan lahan dan air, kebun David menjadi gambaran kecil bahwa lahan di sekitar rumah masih dapat memberi penghidupan. 

Sementara bagi konsumen, datang ke kebun bukan hanya soal membeli sayur, melainkan juga ikut menjaga agar hasil kerja petani tetap memiliki tempat di pasar.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.