SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MALANG - Nasib Toko Buku Jaya di Jalan Sumedang, Kelurahan Cepokomulyo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang kini di ujung tanduk.
Toko buku yang sudah eksis sejak 23 tahun silam itu akan tutup dalam waktu dekat.
Minggu (6/9/2026) siang, Toko Buku Jaya tampak sepi.
Tidak ada orang yang berjaga di dalam toko.
Tampak luar kondisi toko cukup usang.
Di sisi lain, buku yang berjajar di rak pun jumlahnya tidak banyak.
Bahkan terdapat tumpukan karung di sekelilingnya.
Jika dilihat, lokasi toko buku tersebut cukup strategis yakni berada di pinggir jalan raya.
Baca juga: Perpus Library Cafe di Kota Malang Jadi Pilihan Keluarga, Ngopi Sambil Kenalkan Buku kepada Anak
Sebab, tidak ada banner yang bertuliskan Toko Buku Jaya di depan toko.
Oleh karena itu, untuk mencari toko tersebut harus bertanya ke orang atau melihat secara teliti.
Nur Habsah (47), pemilik toko buku mengaku sudah 23 tahun lamanya berjualan buku.
Awalnya ia bersama suami merintis untuk menjual buku di trotoar perempatan Kecamatan Kepanjen.
"Dulu jual bongkar pasang itu di trotoar sekitar tahun 2003."
"Kurang lebih lima tahun di perempatan, terus ngontrak di ruko kurang lebih sepuluh tahun."
"Lalu pindah ke toko sini sudah berjalan delapan tahun," kata Nur kepada SURYAMALANG.COM.
Nur mengikuti jejak orang tua yang terlebih dahulu menjual buku.
Toko milik orang tuanya kini berada di depan Masjid Baiturrahman Kepanjen.
Seperti toko buku lain, Nur menjual koleksi buku umum, fiksi dan nonfiksi, serta Al Quran.
Seiring berjalannya waktu, peminat buku konvensional mulai berkurang.
Kini, jumlah buku di tokonya tinggal ratusan.
Ia pun tidak ada niat untuk menambah jumlah bukunya.
Sebab, ia berencana untuk menutup tokonya dalam waktu dekat.
"Insya Allah, ini nggak diteruskan lagi, nunggu rukonya terjual."
"Perkiraan juga tahun ini kalau toko udah laku," jelas Nur sambil membersihkan tumpukan buku yang penuh debu.
Rencana Nur untuk menutup tokonya ini sudah bulat.
Ia pun tidak menampik jika jarang ada pembeli ke tokonya.
Dalam satu bulan, pembeli buku bisa dihitung dengan jari.
"Jarang lakunya, tapi disyukuri aja."
"Kadang satu bulan baru laku."
"Kadang pas pendaftaran sekolah, kan anak-anak cari buku novel buat disetorkan ke perpustakaan," sambungnya.
Menurutnya, penjualan buku sudah turun sejak lima tahun terakhir.
Penyebabnya karena pembeli kini beralih ke penjual buku online atau membeli e-book.
Sementara, Nur tidak berencana untuk menjual buku melalui marketplace.
Tidak ada alasan tentu. Ia hanya ingin tutup dan mencoba peluang usaha lain yang kini digeluti suaminya, yaitu perajin tusuk sate.
Di sisa waktu penutupan tokonya, Nur banyak mengenang perjalannya selama 23 tahun ke belakang.
Dulu buku yang paling banyak dicari meliputi buku novel, komik, buku motivasi, dan pelajaran sekolah.
"Dulu kami masih bisa bertahan sampai sekarang."
"Tapi ini sudah keputusan bulat saya sama suami untuk tutup saja," pungkas Nur.
Baca juga: Toko Buku Amrullah Fakih di Velodrome Kota Malang Tetap Bertahan, Upaya Menemukan Pembaca Baru