SURYAMALANG.COM, MALANG - Muhammad Ali Ihsan memilih menghabiskan waktu bersama keluarga dengan mengunjungi Perpus Library Cafe.
Setidaknya sekali dalam sebulan, Ali mengajak istri dan anaknya berkunjung ke kafe yang dipadukan dengan ruang literasi tersebut.
Bukan hanya makanan dan minuman yang membuat Ali kembali ke kafe yang berlokasi di Jalan Sulfat, Kota Malang tersebut. Suasana tenang dan koleksi buku menjadi daya tarik utama.
"Di sini terbilang lesehan, suasananya nyaman, dan tidak ramai," kata Ali kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (6/9).
Baginya, keberadaan buku di dalam kafe memberikan pengalaman berbeda dibandingkan ketika mengajak keluarga datang ke kafe pada umumnya.
Ali dan istrinya memanfaatkan kunjungan tersebut untuk mengenalkan kebiasaan membaca kepada anak-anak. "Kalau bosan melakukan sesuatu, tinggal ambil buku saja, lalu membaca," ujarnya.
Ali lebih sering memilih komik. Menurutnya, koleksi komik yang tersedia cukup beragam. Sedangkan istrinya tidak memiliki pilihan bacaan tertentu.
"Kalau mau beli buku, kami bisa cek dulu isinya di sini. Kalau bagus, baru kami beli," terangnya.
Dengan begitu, kunjungan ke kafe tidak sekadar menjadi aktivitas untuk menikmati makanan dan minuman.
Kehadiran koleksi buku memberi ruang bagi keluarga untuk membangun interaksi dengan bacaan di tengah aktivitas santai.
Ali menilai menu yang tersedia menjadi pelengkap pengalaman tersebut. Setiap berkunjung, Ali selalu memesan menu Kopi Pustaka, yaitu kopi susu dengan paduan gula aren. "Kopi Pustaka tidak boleh lewat," imbuhnya.
Bagi Ali, perpaduan suasana yang tidak ramai, tempat yang nyaman, serta kemudahan mengakses buku menjadi alasan untuk kembali berkunjung ke Perpus Library Cafe.
"Kafe yang membawa nuansa literasi lebih dari sekadar tempat minum kopi," urainya.
Library Cafe ini dikelola dan dikembangkan oleh Rizky Hadi Prasetyo. Rizky memilih konsep kafe dan perpustakaan karena memang memiliki ketertarikan terhadap buku.
Nama 'Perpus' sengaja dipilih agar sederhana dan mudah melekat dalam ingatan pelanggannya kafe yang membawa tagline ruang baca di tengah seruak nikmat aroma kopi. "Ini nuansa literasi sambil menikmati kopi. Apalagi di Malang itu banyak mahasiswa dan pekerja remote," kata Rizky.
Visi Kafe
Perpus Library Cafe mulai berjalan sejak 2024 dengan membawa visi reading, sharing, and inspiring.
Bagi Rizky, literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca. Ada proses bertukar gagasan sampai memperoleh inspirasi yang ingin dibangun melalui pertemuan antarpengunjung.
Karena itu, rak-rak buku bukan menjadi satu-satunya instrumen literasi di tempat tersebut. Konsep itu turut memengaruhi suasana yang dibangun di dalam kafe sehingga pengelola sengaja tidak memutar musik.
Bagi sebagian orang, membaca membutuhkan usaha untuk berkonsentrasi. Lingkungan yang relatif tenang menjadi kebutuhan bagi mereka.
Ada pengunjung yang datang ke kafe khusus membaca. Sebagian lainnya belajar, bekerja menggunakan laptop, sampai menggelar rapat.
Pelanggan Perpus Library Cafe mayoritas mahasiswa dan pekerja dengan rentang usia sekitar 22 tahun ke atas. Rizky melihat besarnya minat anak muda terhadap konsep tersebut.
"Berbicara dari segi bisnis, sampai hari kami masih eksis. Kami masih menyelenggarakan kegiatan," katanya.
Kendati membawa identitas literasi, Perpus tetaplah kafe. Minuman yang ditawarkan adalah Kopi Susu Pustaka. Ada pula kopi dengan teknik seduhan V60 serta berbagai minuman berbasis teh dan tisane.
Untuk makanan, tersedia grill chicken dengan pilihan nasi atau kentang goreng, rice bowl, sampai menu salt bread. Harga makanan dan minuman berkisar antara Rp 9.000 sampai Rp 40.000.
Namun, Rizky mengatakan pengalaman yang hendak ditawarkan kepada pengunjung tidak berhenti pada makanan dan minuman. "Kami tawarkan hospitality. Koleksi buku juga dapat diakses melalui website," ujarnya.
Berbagai kegiatan digelar dengan menggandeng komunitas maupun kalangan profesional, mulai dari bedah buku, silent reading, ruang bagi pekerja remote, sampai aktivitas belajar bahasa Inggris.
Komunitas yang pernah terlibat adalah Keminggris. Komunitas tersebut membuka ruang bagi masyarakat yang ingin mengasah kemampuan berbahasa Inggris.
Koleksi Buku
Koleksi buku di Perpus Library Cafe tidak seluruhnya berasal dari pengelola. Sejumlah pelanggan datang membawa buku untuk disumbangkan. Sebelum ditempatkan di rak dan dapat dibaca pengunjung, buku tersebut melalui proses kurasi dulu.
Rizky mengaku tidak menerima buku bermuatan pornografi maupun konten vulgar negatif. Sedangkan buku dengan beragam perspektif pemikiran tetap dapat masuk dalam koleksi.
Buku sastra dan cerita anak menjadi beberapa jenis buku yang cukup sering diberikan pelanggan. Bahkan ada penulis asal Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat (AS) menyumbangkan buku anak ke Perpus Library Cafe.
"Visi kafe ini untuk menanamkan budaya literasi. Kami mengemasnya dengan kafe yang ada menu makanan dan minuman," jelas Rizky.(bni)