Kadang Sebulan Baru Laku, Kisah Toko Buku di Kepanjen Malang Segera Tutup Setelah Bertahan 23 Tahun
Ndaru Wijayanto September 06, 2026 10:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luluul

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Debu mulai menutupi tumpukan buku di Toko Buku Jaya, Jalan Sumedang, Kelurahan Cepokomulyo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Di antara rak-rak yang tak lagi penuh, Nur Habsah (47) perlahan membersihkan koleksi buku yang tersisa.

Toko yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya selama sekitar 23 tahun itu kini berada di ujung perjalanan.

Nur berencana menutup Toko Buku Jaya dalam waktu dekat setelah toko sekaligus ruko tempatnya berjualan terjual.

Minggu (6/9/2026) siang, suasana toko terlihat sepi. Tidak ada orang yang berjaga di dalam toko. Dari luar, kondisi bangunan juga tampak cukup usang.

Di sisi lain, buku yang berjajar di rak pun jumlahnya tidak banyak. Bahkan terdapat tumpukan karung di sekelilingnya.

Baca juga: Kisah Amrullah dan Kios Buku Kecil di Velodrome Malang, Kedatangan Pembeli Jadi Penanda Sederhana

Jika dilihat, lokasi toko buku tersebut cukup strategis yakni berada di pinggir jalan raya.

Sebab, tidak ada banner yang bertuliskan Toko Buku Jaya di depan toko.

Oleh karena itu, untuk mencari toko tersebut harus bertanya ke orang atau melihat secara teliti.

23 Tahun Berjualan Buku

Nur mengatakan, perjalanan menjual buku bersama suaminya dimulai sejak 2003.

Saat itu, keduanya belum memiliki toko tetap dan berjualan secara bongkar-pasang di trotoar sekitar perempatan Kecamatan Kepanjen.

"Dulu jual bongkar pasang itu di trotoar sekitar tahun 2003. Kurang lebih lima tahun di perempatan, terus ngontrak di ruko kurang lebih sepuluh tahun. Lalu pindah ke toko sini sudah berjalan delapan tahun," kata Nur.

Perjalanan tersebut juga meneruskan usaha yang telah lebih dulu dilakukan orang tuanya.

Baca juga: Gebrakan Janus Coffee Batu, Renovasi Usung Konsep Library Cafe, Tempat Syahdu buat WFC dan Baca Buku

Toko buku milik orang tua Nur hingga kini masih berada di depan Masjid Baiturrahman Kepanjen.

Seperti toko buku lain, Nur menjual koleksi buku umum, novel fiksi dan nonfiksi, serta Al-Qur'an.

Seiring berjalannya waktu, peminat buku konvensional mulai berkurang.

Pembeli Makin Sepi

Menurut Nur, penjualan buku mulai mengalami penurunan dalam sekitar lima tahun terakhir.

Perubahan kebiasaan masyarakat menjadi salah satu penyebabnya.

Pembeli kini lebih banyak mencari buku melalui penjual online maupun beralih ke buku elektronik atau e-book.

Kondisi tersebut membuat jumlah pembeli di Toko Buku Jaya semakin sedikit.

Dalam sebulan, pembeli buku bahkan terkadang hanya bisa dihitung dengan jari.

"Jarang lakunya, tapi disyukuri aja. Kadang satu bulan baru laku. Kadang pas pendaftaran sekolah, kan anak-anak cari buku novel buat disetorkan ke perpustakaan," sambungnya.

Buku-buku yang tersisa kini hanya sekitar ratusan.

Ia pun tidak ada niat untuk menambah jumlah bukunya. Sebab, ia berencana untuk menutup tokonya dalam waktu dekat. 

"Insya Allah, ini nggak diteruskan lagi, nunggu rukonya terjual. Perkiraan juga tahun ini kalau toko udah laku," jelas Nur sambil membersihkan tumpukan buku yang penuh debu. 

Memilih Mencoba Usaha Lain

Sementara, Nur tidak berencana untuk menjual buku melalui marketplace.

Tidak ada alasan tentu. Ia hanya ingin tutup dan mencoba peluang usaha lain yang kini digeluti suaminya, yaitu perajin tusuk sate.

Di sisa waktu penutupan tokonya, Nur banyak mengenang perjalannya selama 23 tahun ke belakang.

Dari berjualan di trotoar, berpindah ke ruko, hingga akhirnya memiliki toko sendiri di Jalan Sumedang.

"Dulu kami masih bisa bertahan sampai sekarang. Tapi ini sudah keputusan bulat saya sama suami untuk tutup saja," pungkas Nur

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.