TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Pasuruan - Tradisi Kirab Ancak kembali digelar masyarakat Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Minggu (6/9/2026) malam.
Kegiatan tahunan ini menjadi ruang bagi warga untuk merawat sejarah sekaligus mengenalkan kembali budaya leluhur kepada generasi muda.
Ratusan warga dari tiga dusun, yakni Dusun Randupitu, Gesing dan Babat, ikut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan yang mengangkat tema “Kirab Ancak: Babat Alas Randupitu, Raden Singowongso Mindha Pendopo.”
Kegiatan dimulai dari Balai Desa Randupitu dan berakhir di Lapangan Desa Randupitu. Warga memenuhi jalanan desa mengikuti rangkaian kirab yang dipadukan dengan tradisi keagamaan dan hiburan masyarakat.
Baca juga: Polres Pasuruan Kota Ungkap Dugaan Penggelapan Dana CSR PT CJI, Kades Kawisrejo Jadi Tersangka
Baca juga: Kecelakaan Sepeda Motor Terjadi di Sekitar Pabrik Sepatu Cangkringmalang Beji Pasuruan
Salah satu bagian penting dalam prosesi tersebut adalah tujuh wadah tumpeng kemakmuran.
Angka tujuh memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Randupitu dan dikaitkan dengan sejarah asal-usul nama desa.
Tujuh atau pitu mengingatkan masyarakat pada kisah tujuh pohon randu yang dipercaya menjadi bagian dari sejarah terbentuknya nama Randupitu.
Angka tersebut juga dimaknai sebagai pituduh, yakni petunjuk, serta pitulungan yang berarti pertolongan dan perlindungan.
Makna tersebut kemudian diwujudkan dalam prosesi pemotongan puncak tumpeng yang dihiasi payung emas.
Simbol ini menggambarkan harapan agar pemimpin mampu memberikan perlindungan, pengayoman dan rasa aman kepada masyarakat.
Tumpeng yang dibagikan kepada warga juga menjadi simbol kemakmuran bersama.
Rezeki dan hasil yang diperoleh dari tanah Randupitu diharapkan dapat dirasakan seluruh masyarakat.
Semangat kebersamaan itu menjadi salah satu pesan yang dibawa dalam tradisi tersebut.
Masyarakat tidak hanya diajak untuk berkumpul, tetapi juga menjaga persaudaraan dan memastikan keberkahan dapat dinikmati bersama.
Kepala Desa Randupitu Mochammad Fuad mengatakan, Kirab Ancak merupakan bentuk rasa syukur sekaligus upaya menjaga ingatan masyarakat terhadap sejarah leluhur desa.
“Kirab Ancak ‘Babat Alas Randupitu’ ini bukan sekadar hiburan atau bagi-bagi hadiah, melainkan wujud syukur kami kepada Allah SWT sekaligus upaya merawat sejarah leluhur kami, Raden Singowongso,” ujar dia.
Menurut Fuad, keterlibatan warga dari tiga dusun dalam satu rangkaian kegiatan menunjukkan masih kuatnya semangat gotong royong dan kerukunan masyarakat Randupitu.
Ia berharap, tradisi tersebut dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dengan begitu, anak-anak muda tidak hanya mengetahui nama desanya, tetapi juga memahami sejarah dan nilai yang ada di baliknya.
“Semoga melalui kegiatan ini, desa kita semakin berkah, aman, sejahtera, dan generasi muda tidak lupa akan akar budayanya sendiri,” urainya.
Kemeriahan Kirab Ancak juga dilengkapi dengan jalan santai dan pembagian berbagai hadiah bagi masyarakat.
Hadiah utama berupa sepeda listrik, sementara sejumlah hadiah lainnya berupa peralatan rumah tangga seperti televisi, kulkas, magic com, blender dan kipas angin.
(Galih Lintartika/TribunJatimTimur.com)