TRIBUNTRENDS.COM - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau meningkat selama sekitar 25 jam dan disertai dentuman keras. Peningkatan aktivitas tersebut mendapat perhatian pakar mitigasi bencana geologi, Surono. Menurut dia, erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan bagian dari proses alamiah gunung api muda yang masih membangun tubuhnya.
Meski demikian, Surono mengingatkan masyarakat agar mewaspadai sebaran abu vulkanik yang dapat terbawa angin hingga wilayah yang cukup jauh.
"Gunung Api Anak Krakatau ini kan gunung api muda. Dia harus sering meletus. Itu kodrat alamiahnya agar supaya dia semakin besar dan semakin tinggi," kata Surono, dikutip TribunTrends dari kanal YouTube KompasTV, Senin (7/9/2026).
Menurut Surono, persoalan utama dalam aktivitas erupsi kali ini bukan semata-mata frekuensi letusan, melainkan jumlah abu yang terlontar dan menyebar luas. Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian karena abu vulkanik tidak segera turun akibat tidak adanya hujan.
Baca juga: Jejak Letusan Gunung Krakatau 1883: Tsunami, Lahirnya Anak Krakatau, Suara Ledakan Sampai Australia
Surono menjelaskan, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berbeda dengan debu biasa. Material tersebut mengandung silika yang bersifat tajam dan keras. Jika terhirup, abu vulkanik dapat masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan gangguan kesehatan.
"Abu ini bukan abu biasa, abu yang mengandung silika, bahannya tajam dan keras. Jangan sampai terhirup masuk ke saluran pernapasan, bisa masalah," ujarnya.
Selain kesehatan masyarakat, sebaran abu vulkanik juga berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan. Surono menyoroti kemungkinan abu masuk ke kawasan bandara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Raden Intan di Lampung.
"Yang paling bahaya adalah kalau dia sampai masuk ke zona vital strategis seperti bandara, Soekarno-Hatta, kemudian bandara di Lampung, Raden Intan," katanya.
Menurut dia, kondisi serupa sangat mungkin kembali terjadi pada masa mendatang karena Gunung Anak Krakatau masih akan mengalami erupsi.
"Kelak kemudian hari pasti akan terjadi hal yang sama, hanya tidak tahu kapan kejadiannya," ujar Surono.
Menghadapi sebaran abu vulkanik, masyarakat diminta meningkatkan perlindungan diri, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Surono menyarankan masyarakat menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut serta kacamata.
Penggunaan kacamata terutama penting bagi masyarakat yang menggunakan sepeda motor agar abu vulkanik tidak langsung masuk ke mata. Jika mata terkena abu, Surono mengingatkan masyarakat agar tidak menggosoknya.
"Kalau itu terjadi jangan langsung digosok-gosok, tapi dicuci agar supaya kotorannya itu keluar. Kalau digosok bahaya," katanya.
Hal serupa berlaku untuk kendaraan. Abu vulkanik yang menempel pada kaca mobil sebaiknya dibersihkan dengan cara diguyur air.
"Kalau di kaca mobil itu diguyur kacanya, abunya supaya lepas. Jangan digosok dengan kain basah. Itu nanti menjadi baret-baret," ujar Surono.
Wilayah yang terdampak abu vulkanik tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jarak dari Gunung Anak Krakatau. Menurut Surono, arah dan kecepatan angin menjadi faktor utama yang menentukan sejauh mana abu akan terbawa.
"Itu sangat bergantung kepada arah dan kecepatan angin," katanya.
Ia menjelaskan, perubahan arah angin dapat membuat abu vulkanik mencapai wilayah yang cukup jauh dari sumber erupsi. Bahkan, sebaran abu dapat mencapai kawasan Bandung hingga bagian utara Lampung, tergantung kondisi angin.
Karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak abu perlu menyesuaikan aktivitas dengan kondisi di lapangan.
Surono mengatakan, ancaman langsung dari material padat hasil letusan berada dalam radius sekitar tiga kilometer dari titik erupsi. Di luar radius tersebut, ancaman material padat relatif lebih kecil. Namun, persoalannya adalah abu vulkanik halus yang dapat terbawa angin ke berbagai arah.
"Kalau letusan dari material pijarnya yang bisa mencelakai itu dalam radius 3 km dari titik letusan itu daerah bahayanya. Di luar itu aman sebetulnya," ujar Surono.
Namun, ia menegaskan abu vulkanik tidak dapat dikendalikan karena pergerakannya mengikuti arah angin.
"Yang tidak bisa dikendalikan ke mana akan terbang dan setinggi apa debu halus itu," katanya.
Salah satu alasan abu vulkanik menjadi perhatian serius adalah potensi gangguannya terhadap mesin pesawat. Surono menjelaskan, apabila abu masuk ke mesin pesawat jet, material tersebut dapat mengganggu sistem mesin dan berpotensi menyebabkan hilangnya tenaga.
"Kalau masuk ke mesin pesawat terbang jet itu bisa sangat bermasalah, terutama kalau masuk ke ruangan mesin. Bisa kehilangan tenaga atau mesin mati sama sekali di udara," tuturnya.
Karena itu, keputusan menutup penerbangan dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta dinilai Surono sebagai langkah yang tepat untuk mengantisipasi risiko.
"Suatu tindakan yang sangat brilian untuk menutup semua penerbangan dari dan ke Soekarno-Hatta hari tadi. Itu langkah yang sudah tepat," kata Surono.
Mengenai kemungkinan aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat, Surono memperkirakan intensitas erupsi dapat menurun dalam waktu dekat. Namun, kondisi tersebut bukan berarti aktivitas vulkanik Anak Krakatau telah berakhir.
Menurutnya, sebagai gunung api muda, Anak Krakatau masih memiliki proses alamiah untuk membangun tubuh gunung melalui aktivitas erupsi.
"Mungkin sekarang ini akan menurun dalam waktu beberapa hari. Tetapi kodrat alamiah tadi yang tidak bisa ditawar, dia harus membangun tubuhnya," ujarnya.
Ia mengingatkan erupsi berikutnya tidak harus memiliki jeda waktu yang panjang. Besar kecilnya letusan juga tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan kejadian sebelumnya.
"Apakah letusannya sebesar yang sekarang atau lebih besar lagi bergantung pada datanya. Untuk alam, kejadian saat ini tidak harus sama dengan kejadian masa lalu, bergantung proses saat sekarang," kata Surono.
Dengan kondisi saat ini, Surono menilai evakuasi warga belum diperlukan selama tidak ada ancaman langsung dari material letusan. Evakuasi dapat dilakukan apabila masyarakat menghadapi ancaman material padat seperti material pijar, hujan abu lebat dengan ukuran material yang berbahaya, maupun awan panas.
"Kalau evakuasi itu kalau terancam langsung dari material yang dimuntahkan oleh Anak Krakatau, material padat misalnya material pijar atau hujan abu lebat yang diameternya cukup lumayan besar," jelasnya.
Namun, untuk abu vulkanik halus, penanganannya berbeda.
"Tapi kalau abu kan tidak bisa kita lakukan apa-apa karena dia bisa menjangkau di mana arah angin itu bertiup," ujarnya.
Karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak abu lebih dianjurkan melakukan perlindungan diri dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Surono juga menanggapi fenomena sejumlah gunung api yang mengalami erupsi dalam periode yang berdekatan. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan fenomena alamiah yang dapat terjadi, terutama karena Indonesia memiliki jumlah gunung api yang sangat banyak.
Ia mengatakan letusan beberapa gunung api secara bersamaan tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan langsung di antara gunung-gunung tersebut.
"Gunung kita itu paling banyak di dunia. 13 persen gunung api di dunia ada di kita. Bisa saja saling bersamaan letusannya," kata Surono.
Menurut dia, setiap gunung memiliki sistem magma dan tekanan yang berbeda sehingga erupsi secara bersamaan dapat terjadi sebagai kebetulan alamiah.
"Itu hal yang wajar saja dan alamiah sekali," pungkasnya.
(TribunTrends)