TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Kemacetan di jalur menuju Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi masih terjadi, Senin (7/9/2026) pagi. Meski demikian, panjang antrean kendaraan mulai berkurang dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Pantauan sekitar pukul 10.45 WIB menunjukkan ekor kemacetan tersisa sekitar 4 kilometer (km). Kondisi ini lebih pendek dibandingkan sebelumnya ketika antrean kendaraan sempat mencapai belasan kilometer.
Di tengah persoalan tersebut, pengusaha kapal menawarkan solusi jangka pendek berupa perluasan dermaga. Mereka bahkan menyatakan kesediaan untuk menalangi biaya pembangunan apabila usulan tersebut disepakati para pemangku kepentingan.
Ketua DPC Gapasdap Banyuwangi Nurjatim mengatakan, keterbatasan kapasitas dermaga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kemacetan di kawasan Pelabuhan Ketapang. Karena itu, perluasan dermaga dinilai penting untuk meningkatkan kelancaran arus penyeberangan Jawa-Bali.
Menurut Nurjatim, salah satu opsi yang dapat dilakukan adalah mengoptimalkan Dermaga Landing Craft Machine (LCM). Area dermaga tersebut dapat disatukan dan diperkuat menggunakan cor beton sehingga kapasitas pelayanan kapal dapat ditambah.
Saat ini, Dermaga LCM hanya dapat dimanfaatkan untuk tiga lintasan. Jika dilakukan perluasan, kapasitasnya diproyeksikan meningkat menjadi empat lintasan.
Baca juga: Macet Parah Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Capai 20 Km, ASDP Datangkan Kapal Besar
"Ini bisa menggantikan dermaga Bulusan yang saat ini tidak bisa difungsikan karena dua fender roboh ke laut dan memerlukan perbaikan," kata dia, Senin (7/9/2026).
Penambahan satu lintasan di Dermaga LCM, lanjut Nurjatim, memungkinkan penambahan sekitar empat kapal yang dapat beroperasi. Dengan demikian, total kapal yang bisa dilayani di dermaga tersebut dapat bertambah menjadi 13 kapal per hari.
Nurjatim menilai penambahan kapasitas dermaga tersebut dapat membantu mengurai antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang. Sebab, Dermaga LCM menjadi salah satu titik penting dalam pelayanan penyeberangan, terutama bagi kendaraan angkutan berat dengan bobot di atas 30 ton.
Baca juga: Terjebak Macet Hingga 20 Jam, Sopir Truk Demo di Pintu Masuk Pelabuhan Ketapang
Untuk mempercepat realisasi solusi tersebut, Gapasdap Banyuwangi menyatakan siap menalangi anggaran perluasan Dermaga LCM apabila usulan itu mendapat persetujuan dari para pemangku kepentingan.
Nurjatim memperkirakan kebutuhan anggaran untuk pekerjaan tersebut sekitar Rp400 juta.
"Kami siap menalangi agar operasional penyebrangan bisa berjalan lancar," ujar dia.
Menurut Nurjatim, persoalan kapasitas dermaga juga berdampak langsung terhadap jumlah kapal yang dapat beroperasi di lintasan Jawa-Bali.
Saat ini terdapat 56 unit kapal yang melayani lintasan Jawa-Bali. Dalam kondisi normal, sekitar 28 hingga 32 kapal dapat beroperasi setiap hari.
Namun, pembangunan sepasang dermaga menyebabkan jumlah kapal yang dapat beroperasi turun signifikan. Saat ini, hanya sekitar 23 kapal yang dapat beroperasi setiap hari.
"Jadi saat ini kapal yang beroperasi hanya 40 persen saja dari jumlah unit yang ada di lintasan Jawa-Bali. Yang lain tidak bisa beroperasi karena tidak ada dermaga," lanjut dia.