Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Kiki Andriana
TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG - Budayawan Sumedang, Andi Lesmana, menyesalkan perkataan seorang demonstran yang dalam sebuah video menyebut Sumedang sebagai kota berengsek.
Andi menilai, penyampaian aspirasi melalui aksi unjuk rasa merupakan bagian dari proses demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar kebebasan menyampaikan pendapat tetap dilakukan dengan cara yang tidak melukai masyarakat.
Menurut Andi, sejak awal kalangan budayawan juga mendorong agar hasil investigasi terkait kasus yang menjadi perhatian publik, yakni yang menyeret nama Wabup Sumedang Fajar Aldila segera dibuka secara terang benderang.
"Kami di ranah kebudayaan dari awal mendorong agar hasil investigasi atas kasus ini segera dibuka dan terang benderang. Kami pun punya upaya tersendiri untuk mendorong itu," katanya, kepada Tribun Jabar.id, saat diwawancarai, Senin (7/9/2026).
Baca juga: Viral Video Orasi Pengunjuk Rasa di Sumedang Panas di Medsos, Warganet Ingatkan Hal Ini
Namun, ia menyayangkan adanya ucapan yang dinilai tidak pantas saat aksi penyampaian aspirasi berlangsung.
"Kami mengikuti perkembangan proses demokrasi dalam menyampaikan aspirasi. Ada yang sangat kami sayangkan ketika teman-teman menyampaikan aspirasi, sepertinya ada hal-hal yang tidak layak diucapkan," ujar Andi.
Andi mengaku melihat video yang beredar di mana terdapat pernyataan yang menyebut Sumedang sebagai "kota berengsek".
Menurutnya, penggunaan kata tersebut tidak bijak dan bertentangan dengan nilai-nilai kebudayaan yang dijunjung masyarakat Sumedang.
"Saya menduga dari video tersebut beliau mengatakan kota berengsek, ini masih bertalian dengan Sumedang. Ini sangat kurang bijak," katanya.
Ia khawatir penggunaan perkataan seperti itu dianggap sebagai sesuatu yang wajar apabila tidak diingatkan.
"Dari nilai-nilai kebudayaan, kami khawatir sesuatu yang dianggap wajar, kalau tidak diingatkan, lama-lama menjadi kewajaran yang biasa," ucapnya.
Andi menegaskan, persoalan yang sedang dipersoalkan dalam aksi tersebut seharusnya tidak menyeret Sumedang sebagai daerah dan tempat tinggal masyarakat.
Menurutnya, kritik atau keberatan seharusnya diarahkan kepada pihak yang menjadi persoalan.
"Ini bukan Sumedang sebagai kota atau tempat tinggal kita, tapi kepada personal," ujarnya.
Ia pun menilai perkataan tersebut dapat melukai perasaan warga Sumedang.
"Kata-kata tersebut menyakiti kami sebagai warga Sumedang. Jadi, saya kira kurang tepat. Jangan sampai ke Sumedangnya yang kita jaga," katanya.
Andi mengatakan, para demonstran pada dasarnya juga memiliki tujuan untuk menjaga marwah Sumedang melalui cara dan pandangan mereka.
Namun, ia mempertanyakan penggunaan diksi yang justru berpotensi menyakiti masyarakat.
"Mereka berunjuk rasa juga untuk menjaga marwah Sumedang dengan cara mereka, tapi kenapa ada kata-kata seperti itu?" ujarnya.
Karena itu, Andi berharap upaya untuk mencari kejelasan atas persoalan yang menjadi perhatian publik tidak diperkeruh oleh perkataan yang berpotensi menyinggung masyarakat Sumedang.
"Jangan sampai upaya itu diperkeruh oleh diksi-diksi yang justru bisa menyakiti masyarakat Kabupaten Sumedang," katanya.
Dalam potongan video dari akun Facebook Atto Bes yang beredar luas pada Senin (7/9/2026), terekam momen saat koordinator aksi, Ismi Rinjani, menyampaikan orasi di hadapan massa pendemo.
Di tengah orasinya, ia sempat menceritakan latar belakangnya yang lahir dan besar di Sumedang sebelum merantau selama 10 tahun, sembari melontarkan ungkapan bernada tajam terkait kota kelahirannya tersebut dengan menyebut Sumedang sebagai kota berengsek.
Pernyataan dalam potongan video tersebut lantas memicu beragam tanggapan dari para pengguna media sosial.
Baca juga: Tanggapan Bupati Dony Soal Isu yang Menerpa Wabup Sumedang Fajar Aldila
Sejumlah warganet menilai bahwa penyampaian pendapat sebaiknya tetap memperhatikan etika dan tidak merembet ke hal lain.
Salah seorang pengguna media sosial, akun Kang Dudi, menyampaikan pandangannya bahwa Sumedang tetaplah daerah yang patut dihormati.
Senada dengan itu, akun Ismailsidik mengingatkan agar kekecewaan atau kemarahan dialamatkan secara tepat sasaran kepada pihak terkait tanpa membawa-bawa nama daerah secara umum.
Sementara itu, akun Dodi Berod turut mengekspresikan keberatannya sebagai warga asli kelahiran Sumedang atas sebutan yang disematkan dalam orasi tersebut.
Respons Bupati Sumedang
Aksi unjuk rasa yang diwarnai kerusakan pada bagian pagar gedung DPRD Sumedang tersebut merupakan buntut dari berkembangnya narasi mengenai Wakil Bupati Sumedang, M Fajar Aldila.
Menanggapi dinamika yang terjadi di tengah masyarakat, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir telah menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan dan ketidakpastian situasi yang timbul.
Dony mengonfirmasi bahwa dirinya telah bertemu dan mendengarkan penjelasan langsung dari kedua belah pihak guna memastikan proses pencarian fakta berjalan adil.
Kendati demikian, Dony mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tidak mengambil kesimpulan sendiri secara tergesa-gesa.
Ia meminta publik menunggu hasil investigasi resmi dari tim khusus yang dibentuk oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
"Sebagaimana arahan Gubernur, semua pihak diharapkan menahan diri dan tidak berasumsi sebelum adanya hasil resmi dari tim investigasi," ujar Dony. (*)