lintasan Ketapang-Gilimanuk ini bukan kekurangan kapal atau jumlah kapal sudah lebih dari cukup, tetapi jelas faktor kurangnya dermaga

Banyuwangi (ANTARA) - Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) mendorong PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, mengoptimalkan Dermaga Landing Craft Mechanized (LCM) untuk mengurangi antrean kendaraan truk logistik.

Ketua Gapasdap Banyuwangi Nurjatim menyampaikan Dermaga LCM (plengsengan) di Pelabuhan Ketapang bisa diperluas melalui penyatuan area dermaga dengan konstruksi cor beton.

"Dengan perluasan plengsengan, Dermaga LCM dapat digunakan untuk melayani bongkar muat empat kapal landing craft tank (LCT) sekaligus, karena saat ini Dermaga LCM hanya bisa digunakan bersandar tiga kapal saja," ujar dia di Banyuwangi, Senin.

Menurut Nurjatim, perluasan Dermaga LCM ini nantinya menggantikan Dermaga Bulusan (Ketapang) yang saat ini tidak bisa difungsikan karena dua fender roboh ke laut dan memerlukan perbaikan. Saat ini masih bisa dioperasikan Dermaga Bulusan berpasangan dengan Dermaga LCM 4 Gilimanuk (Bali).

Dia menjelaskan bahwa jika Dermaga LCM diperluas dengan konstruksi cor, jumlah kapal LCT yang dapat dilayani bertambah dari 9 kapal menjadi 12-13 kapal.

"Sekaligus 4 kapal bisa sandar melakukan pemuatan sebagai solusi jangka pendek pengganti sementara Dermaga Bulusan, dan tentu ini solusi tanpa mengganggu operasional lainnya," kata Nurjatim.

Perluasan dermaga LCM tersebut, lanjut dia, sangat penting agar jumlah kapal LCT yang beroperasi bisa bertambah. Saat ini ada tiga dermaga LCM yang eksisting, masing-masing pasangan dermaga bisa melayani tiga kapal, dan jika ditambah satu dermaga lagi di LCM maka akan menambah 3-4 kapal LCT yang beroperasi.

Nurjatim mengatakan persoalan kemacetan di jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang bukan karena kurangnya jumlah kapal penyeberangan, namun pemicu kemacetan adalah kurangnya infrastruktur dermaga di lintasan yang menghubungkan Jawa dengan Bali itu.

Bahkan, kata Nurjatim, jika pemangku kepentingan setuju untuk memperluas Dermaga LCM Pelabuhan Ketapang, Gapasdap siap menalangi anggarannya.

Dia menyebutkan perluasan Dermaga LCM dengan konstruksi cor diperkirakan menelan biaya sekitar Rp400 juta dengan waktu pengerjaan 45 hingga 60 hari saja.

"Kami dari Gapasdap Banyuwangi siap menalangi anggaran tersebut agar operasional penyeberangan bisa berjalan lancar," ucap Nurjatim.

Dia menambahkan saat ini terdapat 56 kapal di lintas Ketapang-Gilimanuk, dan dalam kondisi dermaga berfungsi normal, kapal beroperasi bisa 28-32 kapal setiap harinya.

Namun, kemampuan operasi turun menjadi sekitar 23 kapal karena dua dermaga (di Ketapang dan Gilimanuk) sedang dalam peningkatan kapasitas yakni Dermaga Ponton Pelabuhan Ketapang dan Dermaga MB II Pelabuhan Gilimanuk, sekaligus Dermaga Bulusan yang tidak bisa difungsikan karena prasarana saat ini belum mendukung keselamatan kapal untuk sandar.

"Jadi, lintasan Ketapang-Gilimanuk ini bukan kekurangan kapal atau jumlah kapal sudah lebih dari cukup, tetapi jelas faktor kurangnya dermaga, jumlah kapal eksisting yang sebanyak 56 kapal itu namun yang bisa melayani operasi hanya 40 persen saja. Kapalnya banyak tapi tempat sandarnya kurang," kata Nurjatim.