Anak Krakatau Terus Erupsi, Abu Vulkanik Capai Jakarta hingga Jabar, Suplai Magma Masih Berlangsung
Eri Ariyanto September 07, 2026 01:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menjadi perhatian setelah gunung api tersebut terus mengalami erupsi. Kondisi itu menunjukkan bahwa proses suplai magma dan gas di dalam tubuh gunung masih berlangsung.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria, menjelaskan erupsi yang terjadi secara berulang berkaitan dengan adanya suplai magma dan gas yang masih berlangsung di dalam tubuh Gunung Anak Krakatau.

Meski demikian, frekuensi erupsi yang meningkat tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda bahwa Gunung Anak Krakatau akan mengalami letusan dengan skala yang lebih besar.

Lana menegaskan, perkembangan aktivitas gunung api tidak dapat dinilai hanya berdasarkan seberapa sering erupsi terjadi ataupun seberapa tinggi kolom erupsinya.

"Namun erupsi yang sering tidak otomatis ini berarti memang akan terjadi erupsi yang lebih besar," kata Lana Saria dalam keterangannya, dikutip dari YouTube KOMPAS.COM, Minggu (6/9/2026).

Menurutnya, Badan Geologi akan terus melakukan evaluasi terhadap perkembangan Gunung Anak Krakatau dengan mengacu pada seluruh data hasil pemantauan.

"Badan Geologi tentunya akan terus mengevaluasi perkembangan aktivitas berdasarkan seluruh data pemantauan, bukan hanya berdasarkan jumlah atau tinggi kolom erupsi," ujarnya.

Suplai Magma dan Gas Masih Berlangsung

Aktivitas erupsi yang berulang menjadi salah satu indikasi bahwa sistem vulkanik Gunung Anak Krakatau masih aktif.

Suplai magma dan gas yang berlangsung di dalam tubuh gunung dapat memicu terjadinya aktivitas erupsi secara berulang. Namun, kondisi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk memastikan bahwa gunung akan mengalami erupsi yang jauh lebih besar.

Karena itu, pemantauan dilakukan secara terus-menerus untuk melihat perubahan aktivitas vulkanik dan potensi bahaya yang mungkin muncul.

Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat agar tidak hanya memperhatikan aktivitas erupsi yang terlihat secara langsung, tetapi tetap mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau.

ABU VULKANIK - Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyelimuti Bogor, warga diminta kurangi aktivitas luar rumah.
ABU VULKANIK - Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyelimuti Bogor, warga diminta kurangi aktivitas luar rumah. (YouTube/Kompas TV)

Waspadai Lontaran Material hingga Gas Beracun

Di tengah aktivitas erupsi yang masih berlangsung, sejumlah potensi bahaya tetap harus diwaspadai.

Badan Geologi mencatat adanya potensi lontaran material pijar dari kawah, batuan vulkanik, hingga paparan gas beracun.

Bahaya tersebut menjadi alasan masyarakat maupun wisatawan untuk tidak mendekati kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya.

Lana Saria meminta masyarakat tetap tenang dan mengikuti seluruh arahan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mematuhi arahan terkait zona bahaya yang telah ditetapkan," ujar Lana.

Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau.

Abu Vulkanik Capai Jakarta, Banten hingga Jawa Barat

Selain aktivitas erupsi, dampak Gunung Anak Krakatau juga terlihat dari sebaran abu vulkanik.

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), abu vulkanik telah menyebar hingga sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Sebaran abu tersebut bahkan memberikan dampak terhadap aktivitas penerbangan.

Bandara Halim Perdana Kusuma di Jakarta ditutup sementara akibat kondisi tersebut. Sementara itu, operasional Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang juga diperpanjang penutupannya hingga Senin (7/9/2026) pagi.

Dampak abu vulkanik tidak hanya dirasakan sektor penerbangan. Sejumlah satuan pendidikan di wilayah yang terdampak juga menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh sebagai langkah antisipasi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya terbatas di sekitar kawasan gunung, tetapi dapat meluas mengikuti arah pergerakan abu di atmosfer.

Dua Kluster Sebaran Abu Vulkanik

BMKG mendeteksi adanya dua kluster utama sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Kluster pertama bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sebaran ini mencakup wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Ketinggian abu pada kluster pertama terpantau mencapai sekitar 20.000 kaki.

Sementara itu, kluster kedua bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Sebaran tersebut mencakup wilayah Banten hingga Lampung.

Ketinggian abu pada kluster kedua bahkan mencapai sekitar 50.000 kaki.

Pergerakan abu dengan ketinggian tersebut menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam aktivitas penerbangan. Abu vulkanik dapat mengganggu operasional pesawat sehingga kondisi atmosfer dan jalur penerbangan perlu terus dipantau.

Erupsi Sering Tak Otomatis Berarti Letusan Lebih Besar

Meski Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi dan suplai magma serta gas masih berlangsung, Badan Geologi menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu langsung menyimpulkan akan terjadi letusan besar.

Frekuensi erupsi bukan satu-satunya parameter untuk menentukan perkembangan aktivitas gunung api.

Badan Geologi akan melihat keseluruhan data pemantauan, termasuk perubahan aktivitas vulkanik dan indikator lainnya, sebelum menentukan perkembangan status maupun potensi bahaya.

Untuk itu, masyarakat di sekitar kawasan Selat Sunda dan wilayah yang terdampak sebaran abu diimbau tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG, BMKG, dan instansi terkait.

Yang terpenting, masyarakat diminta tidak memasuki zona bahaya yang telah ditetapkan dan tetap memperhatikan perkembangan arah sebaran abu vulkanik.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berulang memang menunjukkan bahwa sistem vulkaniknya belum sepenuhnya tenang. Namun, berdasarkan penjelasan Badan Geologi, kondisi tersebut belum otomatis berarti erupsi besar akan segera terjadi.

(TribunNewsmaker.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.