TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bakal memeriksa kualitas udara di wilayah Kabupaten Brebes dan Kota Semarang untuk mengetahui dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Gunung berapi aktif yang berada di Selat Sunda atau secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung itu telah mengalami erupsi sejak Jumat, 4 September 2026 malam.
Lontaran abu vulkanik dari gunung tersebut telah menganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, termasuk bandara Ahmad Yani, Kota Semarang.
"Iya betul, kami akan periksa kondisi udara dua daerah di Jateng, Kabupaten Brebes dan Kota Semarang," ujar Kepala Dinkes Jateng, Zulfachmi Wahab saat dihubungi Tribun, Senin (7/9/2026).
Zulfachmi menyebut, pemeriksaan udara di dua daerah tersebut bakal dilakukan besok, Selasa (8/9/2026).
Pemeriksaan udara ini untuk mengetahui apakah langit di Jawa Tengah sudah terpapar oleh gas Sulfur Dioksida (SO₂) yang dilepaskan dalam proses erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Kami cek, pakai alat khusus untuk mengukur kandungan udara di dua daerah tersebut apakah mengandung Sulfur Dioksida atau tidak," ujarnya.
Baca juga: Sosok Siswanto Penemu Kerangka Mozza Axillia Gunarsa, Instingnya Langsung Jalan Saat Ranting Patah
Ketika ditanya alasan dua daerah tersebut yang menjadi sasaran dalam tes kualitas udara, Zulfachmi mengungkap, Brebes merupakan daerah paling barat atau paling dekat dengan lokasi erupsi Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda.
Sementara, untuk kota Semarang, pemeriksaan daerah ini hanya untuk menjawab informasi yang beredar di media sosial bahwa debu vulkanik tersebut telah masuk ke wilayah Semarang.
"Pengecekan cukup cepat, satu sampai dua hari, kami sudah bisa tahu hasilnya," terangnya.
Dalam pemeriksaan itu, lanjut Zulfachmi, pengambilan sampel udara akan dilakukan di kawasan pesisir dan wilayah ketinggian dari dua daerah tersebut.
Wilayah Brebes diambil sampel tiga titik yakni di kawasan dataran tinggi Salem, kawasan perkotaan dan pesisir.
Pengambilan sampel di Kota Semarang hanya dilakukan dua titik yakni di wilayah ketinggian dan daerah pesisir.
"Dalam hukum fisika SO₂ massanya lebih berat dari O₂ (oksigen) sehingga SO₂ cenderung mencari tempat lebih rendah (pesisir), maka kami ambil di pesisir.
Kalau ditanya kenapa dataran tinggi sampelnya juga diambil karena arah mata angin saja yang langsung berhubungan dengan arah erupsi," bebernya.
Zulfachmi enggan membeberkan langkah berikutnya andaikan gas SO₂ ditemukan dalam udara Jawa Tengah.
Namun, ia hanya memastikan bahwa langit di Jateng masih aman dari paparan debu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
"Bisa diuji, naik motor tidak pakai kacamata mata tidak perih, kalau sudah terpapar SO₂ bisa dirasakan, naik motor mata terasa perih berarti udara sudah tercemar SO₂," jelasnya.
Meskipun ada temuan SO₂ dalam kualitas udara, Zulfachmi menilai, ada angka toleransi yang bisa diterima oleh tubuh manusia.
Meskipun diakuinya, dampak gas ini juga cukup berbahaya terutama bagi organ paru, mata dan kulit.
Bahkan, bisa memicu asma, terutama yang memiliki faktor risiko.
"Ya imbauannya jangan mengucek mata saat terpapar gas SO₂, pakai masker, kurangi aktivitas di luar ruangan," terangnya. (Iwn)