Sosok Siswanto Penemu Kerangka Mozza Axillia Gunarsa, Instingnya Langsung Jalan Saat Ranting Patah
muh radlis September 07, 2026 02:11 PM

 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sebuah kejadian tak terduga membawa Tim SAR Semarang pada titik penting dalam pencarian perempuan asal Kabupaten Semarang yang telah dilaporkan hilang selama lebih dari 1,5 tahun.

Ketika hendak menuruni tebing Jalan Tol Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Teofilus Siswanto justru terperosok setelah ranting yang menjadi pegangannya patah.

Dari titik tempat ia terperosok itulah pencarian pada Jumat (4/9/2026) pagi menemukan petunjuk penting.

Belum genap 10 menit menyisir dasar tebing, Siswanto melihat sebuah karung putih yang sebagian tertutup ranting.

Di dalam karung tersebut kemudian ditemukan benda-benda yang membuat dugaan semakin kuat bahwa temuan itu berkaitan dengan perempuan yang sedang dicari.

Pencarian tersebut dilakukan setelah polisi memperoleh petunjuk dari seorang tersangka yang sebelumnya diamankan di Blora.

Polisi membawa tersangka ke lokasi pada Kamis (3/9/2026) malam untuk menunjukkan titik yang diduga menjadi tempat korban dibuang.

Keesokan paginya, tim SAR diminta membantu proses pencarian di lokasi.

Baca juga: Cerita Ayah Mozza Saat Tahu Kondisi Putrinya: Kami Sangat Kehilangan tapi Harus Ikhlas

 

Turun ke Tebing Sedalam 30 Meter

Medan yang dihadapi tim bukan lokasi yang mudah dijangkau. Tebing di kawasan Jalan Tol Jangli tersebut memiliki kedalaman sekitar 30 meter dengan kemiringan yang sangat curam.

Untuk mencapai bagian bawah, tim menggunakan metode vertical rescue.

Siswanto bersama seorang rekannya kemudian menyisir kawasan sesuai titik yang sebelumnya ditunjukkan kepada kepolisian. Keduanya berpencar agar area pencarian dapat diperiksa lebih luas.

Rekannya bergerak ke sisi kiri, sementara Siswanto menyusuri bagian kanan.

Namun, sebelum sampai ke titik penyisiran, sebuah kejadian sederhana justru menjadi awal ditemukannya petunjuk penting.

Saat hendak turun, Siswanto berpegangan pada ranting. Ranting tersebut ternyata patah sehingga tubuhnya terperosok ke bawah.

Setelah berada di bagian bawah tebing, ia bersama rekannya melanjutkan penyisiran.

Tak lama kemudian, pandangan Siswanto tertuju pada sebuah karung berwarna putih.

"Saya mau pegangan ranting, ternyata di bawahnya ada karung. Saya lihat kok mencurigakan. Karung putih itu sebagian tertutup ranting," kata Siswanto saat diwawancarai Tribun Jateng, Minggu (6/9/2026).

 

Karung Putih Tertutup Ranting

Pada awalnya Siswanto belum mengetahui apa yang berada di dalam karung tersebut. Ia kemudian membuka bagian karung yang tertutup ranting dengan cara merobeknya.

Saat bagian tersebut terbuka, terlihat sweater berwarna putih.

Temuan itu membuat kecurigaannya meningkat. Sebelum turun ke lokasi, Siswanto telah mendapatkan informasi mengenai sejumlah ciri korban yang tengah dicari, termasuk pakaian.

"Saya buka, ternyata kelihatan sweater warna putih. Saya semakin curiga, kok ada seperti ini," ujarnya.

Ia kemudian membuka karung lebih jauh. Sejumlah benda yang digunakan untuk mengikat karung turut terlihat, di antaranya kabel ties berwarna hitam serta tali rafia berwarna hitam dan biru.

Ada pula kain yang menurut ingatannya berwarna ungu atau biru.

Ketika karung kembali dibuka, Siswanto melihat bagian tubuh manusia.

Di dalamnya terdapat tengkorak dengan gigi yang masih terlihat.

"Saya buka lagi, ternyata ada tengkorak, masih ada gigi dan terlihat gingsulnya. Saya kaget. Wah, ada tengkorak. Saya tutup lagi," katanya.

 

Tak Mengubah Posisi Temuan

Setelah mengetahui isi karung, Siswanto tidak mengubah posisi benda-benda yang berada di dalamnya.

Ia memilih menutup dan merapikan kembali karung tersebut sebelum melaporkan temuan kepada petugas Inafis yang berada di lokasi.

Laporan itu disampaikan menggunakan kode "poin".

"Saya tutup lagi, saya rapikan lagi, kemudian saya melapor ke petugas Inafis. Saya bilang "poin", artinya survivor sudah ditemukan, silakan dicek," ujarnya.

Menurut Siswanto, cara tersebut dilakukan agar temuan tidak langsung memicu kerumunan warga di sekitar lokasi.

Setelah menerima laporan, petugas Inafis melakukan pemeriksaan terhadap temuan tersebut sebelum proses evakuasi dilakukan.

Kecurigaan Siswanto semakin kuat setelah melihat beberapa ciri yang terdapat pada temuan di dalam karung.

Sebelum melakukan pencarian, ia telah menerima informasi dari kepolisian mengenai lokasi serta ciri-ciri perempuan yang dicari. Ia juga mengetahui informasi mengenai korban yang sebelumnya beredar melalui media sosial.

Sweater putih menjadi salah satu hal yang menurutnya memiliki kemiripan dengan informasi yang diterima.

Selain pakaian, kondisi tengkorak juga menjadi perhatian karena masih terdapat gigi dan rambut.

"Contohnya jaket sweater itu hampir sama dengan yang disebutkan. Kemudian begitu tengkorak saya balik, gigi gingsulnya kelihatan. Giginya masih ada, rambutnya juga masih ada," jelasnya.

Meski demikian, Siswanto menegaskan bahwa penentuan identitas bukan merupakan tugas Tim SAR.

Tim SAR bertugas melakukan pencarian dan evakuasi. Sementara itu, proses identifikasi serta pemeriksaan lebih lanjut menjadi kewenangan kepolisian dan pihak terkait.

Siswanto juga meluruskan anggapan bahwa kerangka tersebut ditemukan secara kebetulan di dasar jurang.

Menurut dia, keberadaan tim SAR di lokasi sejak awal memang bertujuan mencari seseorang yang diduga dibuang di kawasan tersebut.

Pencarian dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan kepolisian setelah seorang tersangka ditangkap di Blora.

Tersangka tersebut kemudian dibawa ke kawasan Jalan Tol Jangli pada Kamis malam untuk menunjukkan lokasi yang diduga menjadi tempat pembuangan korban.

Pada Jumat pagi, polisi meminta bantuan Tim SAR untuk menyisir kawasan tebing.

"Jadi kita melakukan pencarian orang yang diduga dibuang di tebing. Bukan menemukan begitu saja.

Dari awal memang kita melakukan pencarian berdasarkan petunjuk dari kepolisian," tegas Siswanto. (Rad)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.