TRIBUNNEWSMAKER.COM - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau mengalami penurunan. Namun, kondisi tersebut belum berarti aktivitas gunung api telah berhenti sepenuhnya.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Rita Susilawati, mengatakan potensi erupsi susulan Gunung Anak Krakatau masih tetap ada meski tren aktivitas vulkaniknya menunjukkan penurunan.
"Walaupun aktivitas vulkanik terpantau menurun, potensi erupsi susulan masih tetap ada," kata Rita Susilawati dikutip dari YouTube KOMPAS.COM, Minggu (6/9/2026).
Rita menegaskan, masyarakat tidak boleh menganggap penurunan aktivitas yang terekam alat pemantauan sebagai tanda bahwa Gunung Anak Krakatau sudah sepenuhnya aman.
"Tren penurunan aktivitas yang terekam oleh alat pemantau tidak berarti aktivitas gunung api telah berhenti sepenuhnya," ujarnya.
Karena itu, PVMBG masih melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Hingga Minggu, 6 September 2026, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Petugas terus melakukan pemantauan selama 24 jam untuk mengetahui setiap perubahan kondisi gunung api. Hasil pemantauan tersebut nantinya menjadi dasar dalam menentukan apakah rekomendasi keselamatan perlu disesuaikan.
Rita mengatakan pemantauan intensif diperlukan karena aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dapat berubah sewaktu-waktu.
"Kami terus melakukan pemantauan secara intensif selama 24 jam untuk menyesuaikan rekomendasi apabila terjadi perubahan kondisi," kata Rita.
Dengan status tersebut, masyarakat yang berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau diminta tetap mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari PVMBG.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Suwarto, menjelaskan mengenai pencatatan erupsi yang berlangsung sejak Sabtu, 5 September 2026.
Menurutnya, rangkaian letusan yang berlangsung terus-menerus tanpa jeda masih dihitung sebagai satu kejadian erupsi.
"Letusan yang terjadi terus-menerus tanpa jeda sejak Sabtu, 5 September 2026, dihitung sebagai satu kejadian erupsi," jelas Suwarto.
Ia menjelaskan, pencatatan akan menjadi kejadian erupsi baru apabila aktivitas sebelumnya benar-benar berhenti dan kemudian terjadi jeda sebelum Gunung Anak Krakatau kembali mengalami letusan.
"Erupsi baru akan dicatat sebagai kejadian berbeda apabila aktivitas sebelumnya benar-benar berhenti dan terjadi jeda," ujarnya.
Penjelasan tersebut menjadi penting karena aktivitas erupsi gunung api tidak selalu berarti setiap letusan yang terlihat harus langsung dicatat sebagai kejadian erupsi baru.
Selain aktivitas erupsi, PVMBG juga memantau pergerakan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.
Rita menjelaskan bahwa arah penyebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh kondisi angin. Pada 6 September 2026, abu vulkanik terpantau bergerak menuju arah barat bagian selatan Selat Sunda hingga Samudra Hindia.
"Arah sebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh kondisi angin," kata Rita.
Pada kondisi tersebut, sebaran abu vulkanik berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan. Karena itu, pergerakan abu di atmosfer menjadi salah satu hal yang terus diperhatikan dalam pemantauan Gunung Anak Krakatau.
Rita menyebut abu vulkanik pada 6 September terpantau bergerak ke arah barat bagian selatan Selat Sunda hingga Samudra Hindia.
"Sebaran abu vulkanik berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan," ujarnya.
PVMBG juga mengingatkan masyarakat, wisatawan, dan nelayan agar tidak melakukan aktivitas terlalu dekat dengan Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati kawasan gunung api tersebut dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah.
" Masyarakat, wisatawan, dan nelayan dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah," tegas Rita.
Larangan tersebut menjadi bagian dari langkah mitigasi untuk mengurangi risiko apabila sewaktu-waktu terjadi erupsi susulan atau perubahan aktivitas vulkanik.
Dengan status Gunung Anak Krakatau yang masih berada pada Level III atau Siaga, masyarakat diminta tidak lengah meski aktivitas vulkanik saat ini menunjukkan tren penurunan.
Pemantauan tetap dilakukan secara intensif untuk mengetahui perkembangan terbaru. Apabila aktivitas kembali meningkat atau muncul perubahan signifikan lainnya, rekomendasi keselamatan dapat disesuaikan.
Untuk sementara, masyarakat di sekitar kawasan Selat Sunda diminta mematuhi seluruh rekomendasi PVMBG dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau.
(TribunNewsmaker.com)