Sebelum matcha dan ube viral, boba lebih dulu jadi tren minuman di Indonesia. Ini sejarah bubble tea yang ternyata sudah ada sejak era 1980-an.
Tren minuman kekinian terus berganti. Belakangan, minuman serba matcha dan ube ramai menghiasi gerai minuman hingga media sosial.
Namun, jauh sebelum dua rasa tersebut populer, bubble tea alias boba lebih dulu menjadi primadona. Pada 2019, tren boba begitu marak di Indonesia.
Gerai-gerai bubble tea bermunculan di berbagai pusat perbelanjaan dan kawasan perkantoran. Minuman teh dengan tambahan bola tapioka yang kenyal ini bahkan menjadi salah satu minuman yang kerap diburu anak muda.
Kini, ketika tren minuman kembali bergeser, nostalgia terhadap boba kembali muncul di media sosial. Akun TikTok @3shadumps (20/8) membuat unggahan yang mengajak netizen bernostalgia dengan masa kejayaan minuman boba.
Tren bubble tea. Foto: Getty Images/iStockphoto/shih-wei
|
Menariknya, bubble tea ternyata bukan minuman yang baru muncul beberapa tahun terakhir. Minuman ini sudah ada sejak era 1980-an dan berasal dari Taiwan.
Berawal dari teh dingin di Taiwan, bubble tea lahir secara tidak sengaja di Chun Shui Tang Teahouse, Taichung.
Dikutip dari CNN Travel, pendirinya, Liu Han Chieh, pertama kali memiliki ide untuk menyajikan teh China dalam kondisi dingin pada era 1980-an setelah melihat kopi dingin saat bepergian ke Jepang.
Lahirnya bubble tea kemudian terjadi ketika Lin Hsiu Hui, manajer pengembangan produk Chun Shui Tang, sedang mengikuti rapat dan iseng menuangkan fen yuan, makanan penutup khas Taiwan berbentuk bola-bola tapioka, ke dalam segelas es teh Assam.
Perpaduan tersebut ternyata terasa nikmat. Hal yang diperkirakan terjadi sekitar 1988 itu kemudian menjadi awal lahirnya minuman yang kini dikenal luas sebagai bubble tea.
Bubble tea sudah ada sejak 1980-an. Foto: Getty Images/iStockphoto/shih-wei
|
Dari Taiwan, popularitas bubble tea perlahan menyebar ke berbagai negara Asia hingga Amerika.
Ciri khasnya adalah teh yang dipadukan dengan susu atau bahan lainnya, kemudian diberi topping pearls alias boba yang kenyal dan manis.
Seiring popularitasnya meningkat, berbagai merek bubble tea bermunculan dan berkembang menjadi jaringan internasional.
Gong Cha menjadi salah satu merek yang dikenal secara global. Merek bubble tea ini didirikan di Kaohsiung, Taiwan, pada 2006.
Ada pula KOI yang berasal dari Taiwan dan telah berdiri sejak 1994 di Taipei. Kini, KOI memiliki cabang di berbagai negara, termasuk Singapura, Thailand, Vietnam, Malaysia, Kamboja, Myanmar hingga Indonesia.
Ilustrasi minum bubble tea. Foto: Getty Images/iStockphoto/insjoy
|
Di Indonesia, nama Chatime tentu sudah tidak asing. Brand asal Taiwan ini menjadi salah satu merek bubble tea yang paling mudah ditemukan di berbagai kota.
Chatime bahkan berkembang menjadi salah satu waralaba tea house terbesar di dunia, dengan lebih dari 2.500 gerai yang tersebar di 38 negara, termasuk Indonesia, Filipina, Kanada, Malaysia, China, Kamboja, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Bangladesh hingga Thailand.
Selain Gong Cha, KOI dan Chatime, ada CoCo yang juga menjadi salah satu brand bubble tea legendaris. Merek ini pertama kali berdiri di Taiwan pada 1997 dan didirikan oleh Tommy Hung di kota Tamsui.
Kehadiran berbagai merek tersebut menunjukkan bagaimana bubble tea berkembang dari minuman khas Taiwan menjadi fenomena global.
Di Indonesia sendiri, boba sempat mencapai puncak popularitas sekitar 2019. Harganya yang relatif terjangkau, dengan rata-rata mulai Rp15.000-an, membuat minuman ini mudah dijangkau dan digemari berbagai kalangan.








