SURYA.co.id, PASURUAN – Kain yang melingkar di kepala dan sarung yang menyelimuti tubuh menjadi pemandangan khas ketika memasuki permukiman Suku Tengger di lereng Gunung Bromo, Jawa Timur.
Bagi Wong Tengger, keduanya bukan sekadar pelengkap pakaian, tetapi menyimpan filosofi tentang kehidupan, hubungan antarmanusia, hingga keseimbangan dengan alam.
Udeng khususnya menjadi identitas laki-laki Tengger. Penutup kepala itu dikenakan laki-laki, baik tua maupun muda, dalam berbagai kegiatan, mulai upacara keluarga hingga ritual keagamaan.
Penggunaan udeng tampak jelas saat pelaksanaan Yadnya Karo pada Selasa (28/7/2026) dan Rabu (29/7/2026).
Hampir seluruh laki-laki Tengger mengenakannya dalam rangkaian perayaan hari raya tersebut.
Ketua Asosiasi Kepala Desa se-Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, Edi Priyanto, mengatakan bentuk dan cara memakai udeng memiliki makna tersendiri.
“Jadi udeng ini ada maknanya. Orang Tengger pakai udeng itu karena ada maknanya. Yang pertama adalah dari kain bersegi empat. Itu menandakan bahwa arah kita itu ada empat,” ungkap Edi di sela pelaksanaan Yadnya Karo.
Baca juga: Masyarakat Adat Suku Tengger Perjuangkan Repatriasi Pusaka dari Museum Leiden
Kain udeng pada awalnya berbentuk persegi empat. Di bagian tengah terdapat modhang atau momongan kadhang yang juga dikenal sebagai limo kadhang, yang dipercaya berkaitan dengan perjalanan kehidupan manusia.
Kain tersebut kemudian dilipat sehingga membentuk persegi tiga. Bentuk ini menyimbolkan tiga tahapan kehidupan manusia.
“Itu menunjukkan bahwa ada unsur satu kelahiran, kehidupan, dan kematian,” jelas Edi.
Filosofi udeng tidak berhenti pada bentuknya. Kain tersebut kemudian dilipat berulang atau diwiru.
Menurut Edi, proses tersebut mengandung pesan agar masyarakat Tengger selalu mempertimbangkan setiap tindakan dan tidak terburu-buru mengambil keputusan.
Baca juga: Makna Hari Raya Karo bagi Suku Tengger, Tradisi yang Satukan Warga Beda Agama di Pasuruan
Artinya, segala sesuatu yang hendak dilakukan perlu dipikirkan berulang kali agar terhindar dari pikiran maupun perbuatan yang keliru.
Setelah itu, udeng diikatkan di kepala. Letaknya juga memiliki filosofi tersendiri.
“Kemudian diikatkan di kepala agar supaya pikiran kita ini terjaga dari pemikiran-pemikiran yang tidak baik,” ujarnya.
Bagian udeng yang meruncing ke atas melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan atau Parahyangan.
Sementara kain yang diikat melingkar dan memiliki dua sisi yang dililitkan menggambarkan hubungan harmonis antarmanusia atau Pawongan.
Adapun bagian yang mencuat ke bawah melambangkan hubungan manusia dengan alam atau Palemahan.
“Kita itu satu pandangan. Semua ini adalah harus jujur, harus baik, satu pandangan, mengikuti perintah Yang Maha Kuasa juga melihat ke bawah, baik kepada semuanya. Jadi pikiran ini nggak boleh neko-neko. Itu makna udeng kami,” tutur Edi.
Selain udeng, sarung atau kaweng juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian masyarakat Tengger.
Laki-laki maupun perempuan, tua ataupun muda, terbiasa mengenakan kain tersebut.
Pemandangan itu mudah ditemui di permukiman Tengger, salah satunya di Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur.
Sarung tidak hanya digunakan untuk kegiatan keagamaan.
Kondisi kawasan lereng Bromo yang cenderung dingin membuat kain tersebut juga berfungsi sebagai pelindung tubuh dari udara dingin.
Cara mengenakannya pun menyesuaikan aktivitas.
Sarung dapat dikalungkan di leher, dilipat menjadi dua kemudian disampirkan di bahu, atau dikenakan dengan cara tertentu agar tetap leluasa bergerak.
“Yang Muslim untuk beribadah, kain sarung juga bisa untuk menghangatkan badan, membawa barang, termasuk sayuran, sehingga lebih praktis jadi tidak banyak wadah,” kata Edi.
Bagi perempuan Tengger, cara mengikat sarung bahkan dapat menunjukkan status seseorang.
Ketua Paruman Dukun Pandita Tengger Brang Kulon, Romo Eko Warnoto, menjelaskan posisi ikatan sarung memiliki makna tertentu.
“Sarung itu biasa dipakai perempuan. Perempuan itu kalau diikat tali di tengah, itu orang yang sudah berumah tangga,” ungkap Eko.
Sementara posisi ikatan di kanan menandakan seorang janda, sedangkan ikatan di sebelah kiri menunjukkan perempuan yang belum berkeluarga.
Adapun ikatan di bagian depan biasanya menandakan seorang perempuan sedang hamil.
Dengan demikian, sarung bagi perempuan Tengger tidak sekadar berfungsi sebagai pakaian.
Cara mengenakannya dapat menjadi simbol yang menyampaikan informasi mengenai kondisi kehidupan pemakainya.
Dalam keseharian, penggunaan sarung di tengah masyarakat Tengger cukup fleksibel. Kain dapat digunakan sebagai sarung, dililitkan mengelilingi tubuh, maupun dipadukan dengan aksesori seperti kalung.
Sarung juga dipercaya dapat digunakan sebagai bentuk perlindungan diri dalam situasi tertentu, terutama ketika seseorang menghadapi ancaman dalam perjalanan.
Penggunaan tersebut bukan dimaksudkan untuk melakukan kejahatan, melainkan sebagai bentuk perlindungan.
Sementara bagi laki-laki, sarung dapat dilipat dua dan disampirkan ke bagian belakang pundak. Kedua ujungnya kemudian diikat di depan dada sehingga tidak mengganggu aktivitas.
Dari cara memakai udeng hingga berbagai fungsi sarung, busana masyarakat Tengger memperlihatkan bagaimana pakaian tradisional dapat menjadi bagian dari nilai kehidupan.
Kain tidak hanya dikenakan untuk menutup tubuh, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan filosofi tentang Tuhan, sesama manusia, alam, dan perjalanan hidup.