Wakil Bupati Mahakam Ulu Suhuk Instruksikan ASN Bantu Penanganan Kabut Asap Karhutla
Budi Susilo September 07, 2026 01:10 PM

 

TRIBUNKALTIM.CO, UJOH BILANG - Di tengah kondisi kabut asap yang masih pekat, Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu meminta aparatur sipil negara (ASN) tetap aktif menjalankan tugas dan tidak mengurangi aktivitas kerja di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. 

Wakil Bupati Mahakam Ulu Suhuk mengatakan hingga saat ini tidak ada imbauan bagi ASN untuk bekerja dari rumah, sehingga pegawai tetap diharapkan menjalankan tugas seperti biasa.

“Harapan kita untuk PNS kita tetap aktif,” kata Suhuk, Selasa (2/9/2026) di Ujoh Bilang, Mahakam Ulu.

Menurutnya, keberadaan personel dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) masih dibutuhkan untuk membantu penanganan kondisi di lapangan, mengingat personel BPBD dan Satpol PP di Mahakam Ulu terbatas.

Baca juga: Karhutla Lahap 4 Hektare Lahan di Muara Tokong Kubar, Api Baru Berhasil Dipadamkan Dini Hari

Suhuk mengatakan, dalam rapat pemerintah telah meminta bantuan personel dari Dinas Lingkungan Hidup maupun OPD lain yang tidak memiliki aktivitas untuk diperbantukan di lapangan.

Ia menilai dukungan tersebut diperlukan karena personel BPBD sempat terbagi ketika terjadi kebakaran di wilayah ibu kota saat sebagian personel melakukan pengantaran ke Tiong Ohang.

Kabut Asap Masih Pekat

Di sisi lain, pemerintah mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker karena kondisi kabut asap masih pekat.

Dinas Kesehatan juga telah diinstruksikan membagikan masker kepada masyarakat, sementara Karang Taruna sebelumnya turut melakukan pembagian masker.

Untuk masyarakat yang berladang, Suhuk meminta aktivitas pembakaran dilakukan dengan memastikan api tetap terkendali.

 “Tolong dijaga apinya pada saat pembakaran, pastikan bahwa api tetap terkendali,” pungkas pria kelahiran 21 Februari 1987 ini.

Bencana kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) membawa ancaman serius.

Tanda Bahaya Bagi Warga

Karakteristik wilayah Mahulu yang berbukit, berada di kawasan hulu sungai, serta keterbatasan akses logistik dan fasilitas kesehatan membuat dampak kabut asap di wilayah ini menjadi sangat kompleks:

Dari asap kebakaran hutan mengiritasi saluran pernapasan, memicu lonjakan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, pneumonia, hingga iritasi mata dan kulit.

Anak-anak, balita, lansia, serta ibu hamil di kawasan pedalaman menjadi kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi kesehatan berat.

Belum lagi, jarak pandang terbatas di sungai. Alam Sungai Mahakam merupakan urat nadi transportasi utama di Mahakam Ulu. 

Kabut asap pekat yang menyelimuti permukaan air memangkas jarak pandang pelayaran kapal, speedbop, dan longboat, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan atau menghentikan pelayaran sepenuhnya.

Terhambatnya transportasi air membuat arus distribusi bahan pokok penting (bapokting) dan bantuan pangan ke wilayah hulu (seperti Long Pahangai dan Long Apari) tertahan, yang berpotensi memicu kelangkaan barang dan lonjakan harga (inflasi).

Konsentrasi asap yang tinggi memaksa aktivitas belajar-mengajar di luar maupun di dalam kelas dihentikan sementara atau beralih ke pembelajaran daring demi melindungi kesehatan siswa.

Para petani, nelayan sungai, dan pekerja harian harus membatasi jam kerja di luar ruangan untuk menghindari bahaya racun asap, yang berdampak langsung pada pendapatan harian masyarakat.

Abu endapan pembakaran hutan yang jatuh ke aliran sungai dan anak sungai dapat menurunkan kualitas air bersih yang menjadi sumber kehidupan warga Mahakam Ulu. Asap dan kobaran api merusak habitat asli flora dan fauna endemik Kalimantan di kawasan hutan lindung atau konservasi pedalaman.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.