WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Bob Hippy dikenal publik sebagai salah satu legenda sepak bola Indonesia. Namun, bagi anak-anaknya, sosok Bob Hippy jauh lebih besar daripada sekadar pemain sepak bola.
Di mata keluarga, Bob merupakan sosok ayah yang mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai yang selama ini ia pegang di dunia sepak bola, mulai dari sportivitas, kerja sama, disiplin hingga kejujuran.
Novend Hippy (46), salah satu anak Bob Hippy, mengenang sang ayah sebagai sosok yang memperlakukan keluarganya layaknya sebuah tim sepak bola.
Menurut Novend, Bob tidak hanya berperan sebagai ayah, tetapi juga seperti seorang manajer yang memastikan setiap anggota keluarganya memahami peran masing-masing.
“Dia nge-treat kami anak-anaknya sebagai tim. Jadi, more than a father, dia lebih seperti manager kita,” ujar Novend saat ditemui di lokasi pemakaman Unit Islam Blok AA I, Blad 08, Petak 0012, TPU Karet Bivak, Karet Tengsin, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (6/9/2026).
Baca juga: Bob Hippy Wafat, Rully Nere Kenang Sosok Berwibawa dan Berdedikasi untuk Sepak Bola Indonesia
Anak sulung Bob Hippy itu mengatakan, sang ayah selalu mengajarkan bahwa dalam sebuah tim setiap orang memiliki tugas masing-masing.
Tidak semua orang harus berada di posisi menyerang dan tidak semuanya harus bertahan. Ada yang bekerja, mengurus bola, serta menjalankan peran lainnya.
Prinsip tersebut kemudian diterapkan Bob dalam kehidupan keluarganya.
Bagi Novend, cara sang ayah mendidik anak-anak membuat mereka tumbuh menjadi keluarga yang kompak.
Bahkan setelah Bob Hippy berpulang, nilai-nilai tersebut menjadi bekal bagi anak-anaknya untuk tetap saling menjaga.
“Makanya sekarang, setelah ayah Bob sudah tidak ada, kami anak-anaknya jadi lebih well prepared. Kami jadi kompak dan lain-lain. Itu yang bakal saya kenang,” katanya.
Novend juga mengungkap kondisi terakhir sang ayah sebelum meninggal dunia.
Menurutnya, sepanjang hidup Bob Hippy tidak pernah memiliki penyakit serius. Ia bahkan baru pertama kali membawa sang ayah ke rumah sakit.
Saat itu, Bob mengalami gangguan asam lambung atau GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).
Bob kemudian dibawa ke instalasi gawat darurat untuk berkonsultasi mengenai obat yang tepat.
Namun, sebelum sempat mendapat pemeriksaan dokter, Bob Hippy mengembuskan napas terakhir ketika masih menunggu di ruang IGD.
“Dia sudah berpulang duluan sambil menunggu dokternya,” ujar Novend.
Baca juga: Jenazah Legenda Timnas Indonesia Bob Hippy Dimakamkan di TPU Karet Bivak Siang Ini
Kepergian Bob yang begitu cepat meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga.
Meski demikian, Novend bersyukur sang ayah tidak harus menjalani sakit berkepanjangan.
“Di satu sisi kami bisa bilang alhamdulillah dia tidak tersiksa. Tapi di sisi lain, dengan sosok beliau yang buat anak-anaknya selalu menyenangkan, tidak akan pernah cukup waktu yang bisa kita habiskan bersama Ayah Bob,” tuturnya.
Di tengah duka kehilangan, Novend menyebut ada warisan nilai dari sang ayah yang akan terus dibawa keluarga, yakni sportivitas.
Nilai tersebut, kata dia, tidak hanya berlaku ketika berada di lapangan sepak bola, tetapi juga dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
“Kalau pembelajaran dari beliau adalah sebenarnya balik seperti dia pada zaman main bola, yakni sportivitas, kerja sama,” kata Novend.
Menurut Novend, sportivitas berarti berlaku adil kepada semua orang.
Baca juga: Peter Gontha Sebut Pemain Naturalisasi Balik ke Negaranya Usai Tak Dipakai Timnas, Bob Hippy Respon
Dari prinsip tersebut, Bob juga mengajarkan anak-anaknya untuk menjauhi segala bentuk kecurangan, termasuk korupsi.
“Kalau sudah sportivitas berarti harus fair untuk semuanya. Sudah tidak ada lagi untuk berpikir kecurangan, korupsi dan lain-lain,” ujarnya.
Selain sportivitas dan kerja sama, kedisiplinan menjadi kebiasaan Bob Hippy yang begitu melekat dalam ingatan keluarga.
Novend memiliki cerita sederhana yang menggambarkan betapa disiplin sang ayah dalam urusan waktu.
“Boarding jam 10.00, jam 08.30 sudah sampai dia. Itulah Opa Bob,” katanya.
Kebiasaan tersebut juga terlihat ketika keluarga hendak melakukan perjalanan ke kampung halaman di Gorontalo.
Saat pesawat dijadwalkan berangkat pukul 13.00 WIB, Bob sudah berada di bandara sejak pukul 07.30 WIB.
Enam jam menunggu bukan menjadi persoalan bagi Bob.
“Tidak apa-apa, Novend. Yang penting kita yang menunggu pesawat, bukan pesawat yang menunggu kita,” kenang Novend menirukan pesan sang ayah.
Kalimat sederhana tersebut kini menjadi salah satu kenangan yang terus hidup di tengah keluarga Bob Hippy.
Bob Hippy memang dikenal publik sebagai pemain dan legenda sepak bola Indonesia.
Namun bagi anak-anaknya, warisan terbesar sang ayah bukan sekadar catatan di lapangan hijau.
Bob meninggalkan cara hidup yang akan terus diterapkan keluarganya, yakni sportivitas, kerja sama, kedisiplinan dan kejujuran.
Ia juga telah mempersiapkan keluarganya untuk tetap menjadi sebuah tim, bahkan setelah sang “manajer” mereka pergi untuk selamanya.
Novend kemudian menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan sang ayah selama hidup.
“Mohon maaf kalau Ayah Bob selama hidup ada kesalahan atau kata-kata. Mohon dimaafkan,” tuturnya. (m31)