WARTAKOTALIVE.COM-Publik khawatir erupsi Gunung Anak Krakatau menimbulkan tsunami seperti tahun 2018 lalu.
Diketahui saat ini Gunung Anak Krakatau di Lampung mengalami erupsi dan berstatus Level III atau Siaga.
Bahkan abu vulkanis erupsi Gunung Anak Krakatau hingga ke Sukabumi dan Bengkulu sedari Sabtu (5/9/2026).
Abu vulkanis yang menyebar di wilayah Barat Indonesia membuat publik khawatir dengan risiko tsunami yang ditimbulkan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Lalu apakah Gunung Anak Krakatau bersiko tsunami?
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono memastikan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini tidak menimbulkan tsunami.
Sebabnya serangkaian erupsi yang terus terjadi saat ini merupakan proses alami Gunung Anak Krakatau untuk membangun kembali tubuh gunung api yang hancur pasca-longsoran besar (flank collapse) pada peristiwa Desember 2018 lalu.
Sehingga pada erupsi kali ini potensi Tsunami Sangat Kecil, karena volume fisik dan ketinggian kerucut Anak Krakatau saat ini jauh lebih rendah dan belum terjal seperti kondisi 2018.
"Potensi terjadinya longsoran lereng masif yang memicu tsunami destruktif berada pada tingkat yang sangat kecil," jelas mantan Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG itu.
Maka Daryono menyarankan agar masyarakat tidak perlu panik namun selalu waspada dan patuhi rekomendasi zona bahaya dari PVMBG.
Masyarakat juga diimbau untuk tetap menggunakan masker karena bahaya abu vulkanis pada saluran pernafasan.
Baca juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau, Pemain Persija Lewati Yogyakarta untuk Pulang ke Jakarta dari Samarinda
"Masyarakat di wilayah pesisir Selat Sunda hingga wilayah terdampak sebaran abu/getaran akustik untuk tetap tenang dan tidak panik, tetapi tetap mematuhi rekomendasi zona bahaya (radius aman yang ditetapkan PVMBG) serta menggunakan alat pelindung diri seperti masker dari dampak abu vulkanik," jelasnya.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri mengalami peningkatan sejak Jumat (4/9/2026) malam.
Erupsi menerus tercatat sekitar pukul 23.07 WIB dan disertai kemunculan lava fountain atau lontaran lava pijar dari kawah aktif.
Aktivitas tersebut juga menyebabkan sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda, termasuk Lampung, terdampak abu vulkanik.
Material erupsi yang terlontar ke atmosfer kemudian terbawa angin dan menyebar ke sejumlah wilayah.
Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III atau Siaga.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya erupsi dan tidak mendekati kawasan kawah aktif.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Imbauan tersebut penting untuk mencegah masyarakat terpapar langsung potensi lontaran material vulkanik maupun bahaya lain yang dapat muncul selama aktivitas erupsi berlangsung.
Sebaran abu vulkanik juga perlu diwaspadai oleh masyarakat di wilayah yang terdampak.
Abu vulkanik dapat mengganggu jarak pandang dan kualitas udara serta berpotensi mengganggu kesehatan, terutama apabila terhirup dalam jumlah banyak.
Masyarakat di daerah yang mengalami hujan abu disarankan menggunakan masker dan pelindung mata serta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi abu cukup pekat.
Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan arah sebaran abu vulkanik masih perlu dipantau karena kondisi dapat berubah mengikuti aktivitas erupsi dan dinamika angin di atmosfer.