WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Transjakarta mencatat sekitar 1,5 juta perjalanan pelanggan setiap hari. Tingginya mobilitas tersebut dinilai menjadi peluang untuk mendorong penggunaan transportasi publik yang lebih ramah lingkungan di Jakarta.
Direktur Operasional dan Keselamatan Transjakarta Mohamad Deddy Gamawan mengatakan, pilihan masyarakat dalam menggunakan transportasi publik turut menentukan upaya menciptakan mobilitas perkotaan yang lebih berkelanjutan.
“Setiap hari ada 1,5 juta perjalanan yang dilakukan bersama Transjakarta. Ini bukan sekadar angka, tetapi 1,5 juta kesempatan untuk memilih mobilitas yang lebih berkelanjutan,” ujar pria yang akrab dipanggil Dega saat menghadiri kegiatan International Day of Clean Air di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, semakin banyak masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik, semakin besar pula kontribusi yang dapat diberikan dalam mengurangi emisi dan meningkatkan kualitas udara perkotaan.
Untuk mendukung mobilitas rendah emisi, Transjakarta terus mempercepat elektrifikasi armadanya.
Saat ini, sebanyak 500 bus listrik telah beroperasi dari total lebih dari 4.620 armada yang melayani masyarakat Jakarta dan sekitarnya.
Jumlah bus listrik Transjakarta meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, Transjakarta mengoperasikan 100 bus listrik, kemudian bertambah menjadi 300 unit pada 2024 dan mencapai 500 unit pada 2025.
Dega menyebut, Transjakarta menargetkan sebanyak 50 persen armadanya telah terelektrifikasi pada 2027.
Target tersebut kemudian dilanjutkan dengan penggunaan 100 persen bus listrik pada 2030.
“Elektrifikasi merupakan salah satu langkah konkret kami untuk menghadirkan transportasi publik yang semakin rendah emisi. Transformasi ini tidak berhenti pada jumlah bus listrik, tetapi juga bagaimana kami menghadirkan layanan yang nyaman dan menjadi pilihan masyarakat dalam kesehariannya,” kata Dega.
Selain menekan emisi, bus listrik juga dinilai memberikan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman karena karakteristik kendaraan yang lebih senyap.
Berdasarkan sumber WRI Indonesia dalam TUMI E-Bus Mission 2022 yang tercantum dalam materi Transjakarta, penggunaan bus listrik dibandingkan mobil berbahan bakar bensin berpotensi menghasilkan pengurangan emisi hingga 99,9 persen.
Namun, Dega menegaskan upaya membangun mobilitas hijau tidak hanya bergantung pada elektrifikasi armada.
"Integrasi antarmoda juga diperlukan agar masyarakat mendapatkan pilihan perjalanan yang lebih mudah dan terhubung," ungkapnya.
Transjakarta terus mengembangkan konsep urban multimodal transport melalui integrasi layanan Transjakarta dengan Mikrotrans serta moda pendukung, seperti berjalan kaki, sepeda, dan park and ride.
Integrasi tersebut ditujukan untuk memperkuat konektivitas perjalanan masyarakat mulai dari first mile hingga last mile sekaligus menyediakan alternatif terhadap penggunaan kendaraan pribadi.
Dalam kegiatan International Day of Clean Air, Transjakarta mengusung semangat “Bersama Transjakarta untuk Melangkah Lebih Hijau”.
Sejumlah kegiatan digelar, di antaranya Green Mobility Talk, Electric Bus Experience, Green Mobility Exhibition, Clean Air Challenge, dan Green Movement.
Dega mengatakan, penciptaan kualitas udara yang lebih bersih membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat melalui pilihan moda transportasi dalam aktivitas sehari-hari.
“Kami percaya perubahan besar dimulai dari pilihan-pilihan sederhana. Memilih naik transportasi publik, berjalan kaki, menggunakan sepeda, dan memanfaatkan layanan yang terintegrasi merupakan langkah nyata yang dapat dilakukan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Dega, apabila pilihan tersebut dilakukan secara bersama-sama oleh jutaan pelanggan Transjakarta setiap hari, dampaknya terhadap mobilitas dan lingkungan perkotaan akan semakin besar.