Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Tari Rahmaniar
TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO - Rencana Maria dan Nursia untuk kembali ke Kalimantan dan melanjutkan pekerjaan sebagai tenaga perkebunan kelapa sawit harus tertunda.
Kedua perempuan asal Pagal, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, itu sebelumnya pulang ke kampung halaman untuk berlibur. Keduanya selama ini mengadu nasib sebagai pekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.
Rencana kembali ke Kalimantan sebenarnya telah dipersiapkan sejak jauh hari. Tiket pesawat menuju Jakarta sebagai kota transit juga sudah mereka pesan melalui Traveloka. Namun, perjalanan kali ini tidak berjalan sesuai rencana.
Setelah sekitar satu minggu berada di kampung halaman, Maria dan Nursia sempat merasakan gempa. Setelah kondisi dinilai kembali aman, keduanya memutuskan berangkat ke Kalimantan untuk melanjutkan pekerjaan.
Baca juga: Imigrasi Labuan Bajo dan Dirjenpas Bantuan Korban Gempa di Desa Binaan
“Kami asli Pagal. Sebelumnya dari Kalimantan, datang libur di kampung. Baru satu minggu di kampung, terus kena gempa,” ujar Maria, Senin (7/9/2026).
Pada Minggu (6/9/2026), keduanya berangkat dari Pagal menuju Labuan Bajo dan menginap semalam di rumah keluarga.
Keesokan harinya, Senin (7/9/2026), Maria dan Nursia tiba di Bandar Udara Internasional Komodo sekitar pukul 11.00 WITA untuk melakukan check-in.
Keduanya dijadwalkan terbang menuju Jakarta pada pukul 13.55 WITA. Dari Jakarta, perjalanan akan dilanjutkan menuju Kalimantan.
Namun, Maria dan Nursia mengaku tidak mengetahui sebelumnya bahwa penerbangan menuju Jakarta mengalami pembatalan akibat gangguan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Informasi tersebut baru mereka terima saat hendak melakukan proses check-in di bandara.
Berdasarkan pantauan TRIBUNFLORES.COM, koper dan sejumlah tas yang telah dipersiapkan rapi tampak menemani keduanya saat menunggu di sekitar pintu kedatangan Bandar Udara Internasional Komodo, Labuan Bajo.
“Mama tahunya pas mau check-in. Langsung disampaikan kalau keberangkatannya ditunda. Kami bingung karena ini perdana kami rasakan. Kami baru bekerja satu bulan,” ujar Nursia.
Keduanya kemudian diarahkan ke kantor untuk mendapatkan penjelasan terkait kondisi penerbangan dan nasib tiket yang telah dibeli.
Bagi Maria dan Nursia, penundaan tersebut membuat mereka kebingungan. Mereka telah mempersiapkan perjalanan untuk kembali bekerja di Kalimantan, sementara tidak memiliki keluarga lain di Labuan Bajo yang dapat menjadi tempat tinggal jika harus menunggu dalam waktu lama.
“Kami ini mau ke Kalimantan sudah beli tiket. Jadi bagaimana jalan keluarnya tiket kami ini, apakah dibatalkan atau dilanjutkan. Karena kami ini tidak ada uang lagi,” ungkap Nursia.
Mereka sempat menanyakan kemungkinan pengembalian uang tiket. Namun, berdasarkan informasi yang diterima, tiket mereka tidak dibatalkan, melainkan keberangkatan ditunda.
Penerbangan berikutnya disebut baru dapat dilakukan pada 14 September 2026 dengan jadwal yang sama.
“Katanya tanggal 14 baru bisa berangkat lagi. Jamnya sama. Tidak ada jalan lain selain menunggu tanggal itu. Karena kalau kami mau pakai kapal juga kami takut,” ujar Maria.
Sambil menunggu kepastian keberangkatan, Maria dan Nursia berencana kembali ke tempat keluarga mereka. Barang bawaan yang telah dipersiapkan untuk perjalanan ke Kalimantan pun terpaksa ikut menunggu.
Meski rencana kembali bekerja di Kalimantan kembali tertunda, keduanya berusaha menerima keadaan.
Bagi mereka, keselamatan tetap lebih penting daripada memaksakan perjalanan ketika kondisi penerbangan belum memungkinkan.
“Tidak apa-apa, yang penting aman dan sampai dengan selamat,” ungkap Nursia.
Kini, Maria dan Nursia berharap jadwal keberangkatan berikutnya benar-benar dapat terlaksana. Mereka ingin segera kembali ke Kalimantan dan menjalani rutinitas sebagai pekerja perkebunan kelapa sawit.
“Biarkan tertunda. Yang penting tiket kami tetap ada,” ujar Nursia. (Iar)