Grid.ID - Imbas penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, masker medis kini mulai jadi incaran. Nana Mirdad ikut soroti fenomena ini dan miris lihat harganya yang melonjak drastis.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kini telah menyebar di atmosfer ke lima provinsi yakni Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu. Tinggi kolom erupsi, durasi erupsi, dan jumlah material yang dikeluarkan juga turut memengaruhi arah dan luas sebaran abu.
Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di luar ruangan. Namun, apabila tetap harus keluar rumah, masyarakat diminta untuk memakai masker dan kacamata untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik.
Hal ini kemudian membuat masyarakat ramai-ramai memburu masker, terutama jenis masker N95. Sayangnya, hal ini justru dijadikan kesempatan bagi para pedagang curang untuk menaikkan harga sampai hampir seratus persen.
Beberapa netizen di media sosial pun terlihat mengeluhkan fenomena naiknya harga masker di tengah bencana erupsi Gunung Anak Krakatau ini. Salah satu yang ikut menyoroti hal tersebut adalah artis Nana Mirdad.
Lewat akun Threads miliknya, istri Andrew White itu menyampaikan keluhannya melihat harga masker yang tadinya Rp12.000 melonjak menjadi Rp180.000 per buah.
"Agak gila juga di saat rakyat banyak yang kesusahan lihat brand penjual masker proper malah naikin harga jadi 180 ribuan per biji. Sementara paginya masih dijual di harga 12 ribu aja," tulis Nana Mirdad dikutip dari akun Threads @nanamirdad_, Senin (7/9/2026).

Jika dibandingkan, harga Rp180.000 tersebut merupakan 15 kali lipat dari harga Rp12.000. Artinya, terjadi kenaikan sebesar 1.400 persen dari harga sebelumnya. Nana pun dibuat jengkel oleh kelakuan pedagang curang yang tega menaikkan harga besar-besaran di tengah bencana yang menimpa Indonesia.
"Memang, jualan tujuannya profit. Tapi tidak usah securang ini pada saat bencana kali ya," ungkapnya.
Ibu dua anak ini menyebut dirinya memiliki pengetahuan mengenai harga distributor masker. Ia mengatakan suaminya bekerja di perusahaan yang salah satu produk jualannya adalah masker N95. Ia pun menikai kenaikan harga yang tak wajar ini merupakan hal yang tidak manusiawi.
"Kebetulan suami saya juga salah satu product list di perusahaannya adalah masker N95 jadi harga distributornya saya tau persis berapa. Mark up spontan kaya gini ngga berperikemanusiaan," tandas Nana Mirdad.
Unggahan Nana Mirdad ini langsung mendapat banyak komentar bernada setuju dari netizen. Tak sedikit pula yang mengeluh sulit mendapatkan masker di pasca merebaknya abu vulkanik.
Erupsi Anak Gunung Krakatau Sampai Kapan?
Episode erupsi menerus selama 25 jam diprediksi berakhir, meskipun begitu, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). PVMBG menyampaikan bahwa meski episode erupsi utama telah selesai pada Minggu (6/9/2026), potensi erupsi susulan Gunung Anak Krakatau masih tergolong tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Durasi dan kepastian akhir aktivitas vulkanik ini belum dapat diproyeksikan secara pasti karena sangat bergantung pada dinamika fluida magma serta kondisi meteorologi terkini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis informasi terbaru mengenai sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Dilansir dari Bangkapos, berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada Minggu (6/9/2026) pukul 15.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Klaster pertama sebaran dari permukaan hingga ketinggian 12.000 kaki teramati ke arah timur laut-selatan. Ini mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat serta perairan sekitarnya.
Lalu klaster kedua sebaran dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki teramati ke arah barat daya-barat laut. Sebarannya meliputi sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Barat, Selat Sunda serta Samudera Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria mengatakan arah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sangat dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin pada berbagai ketinggian.
Sementara itu, Kepala PVMBG, Siti Sumilah Rita Susilawati, menjelaskan bahwa berdasarkan rekaman instrumental, episode gempa erupsi menerus mulai tercatat sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Setelah erupsi menerus tersebut berhenti, PVMBG mencatat satu kali erupsi susulan bertipe Strombolian pada pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik.
Erupsi tersebut untuk sementara diinterpretasikan sebagai penanda akhir dari episode erupsi menerus yang sebelumnya berlangsung. Selama periode pengamatan 5-6 September 2026, kondisi visual Gunung Anak Krakatau terpantau jelas meskipun sesekali tertutup kabut.
Berdasarkan pengamatan CCTV, kolom erupsi berwarna merah terlihat mendominasi pada malam hari, sementara pada siang hari terlihat kepulan berwarna kehitaman membumbung ke udara. Siti Sumilah menyampaikan bahwa meskipun episode erupsi menerus telah berakhir, dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau masih aktif.
Potensi letusan susulan dalam beberapa waktu ke depan masih tergolong tinggi dengan potensi bahaya berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta kemungkinan aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, PVMBG menetapkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap pada Level III (Siaga). Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.