Gunung Api Erupsi Bersamaan, Pakar Geofisika ITS : Tak Otomatis Saling Terkait
Titis Jati Permata September 07, 2026 03:49 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Aktivitas beberapa gunung api di Indonesia dalam waktu berdekatan memicu pertanyaan di tengah masyarakat. 

Apakah erupsi satu gunung bisa memengaruhi gunung api lainnya?

Pakar Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Jawa Timur, Alutsyah Luthfian atau Fian, menegaskan aktivitas gunung api yang terjadi hampir bersamaan tidak otomatis menunjukkan adanya hubungan langsung.

Menurut Fian, setiap gunung api memiliki sistem magmatik, siklus, dan karakteristik yang berbeda. 

Karena itu, kesamaan waktu aktivitas tidak cukup untuk menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat.

“Gunung api itu punya siklus dan karakter masing-masing. Jadi, ketika beberapa gunung api aktif dalam waktu berdekatan, belum tentu aktivitasnya saling berkaitan,” kata Fian saat ditemui SURYA.co.id di Laboratorium Departemen Teknik Geofisika ITS, Surabaya Jawa Timur, Senin (7/9/2026).

Baca juga: 7 Penerbangan Jakarta-Malang dan Kediri Jawa Timur Batal, Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau

Tak Bisa Disimpulkan Hanya dari Waktu Erupsi

Fian menjelaskan, hubungan antara aktivitas satu gunung dengan gunung lainnya harus dibuktikan melalui kajian ilmiah.

Data geofisika dan kondisi sistem bawah permukaan masing-masing gunung perlu dianalisis untuk mengetahui apakah terdapat keterkaitan.

“Tidak bisa hanya melihat waktunya berdekatan kemudian menyimpulkan bahwa satu gunung memicu gunung yang lain. Harus dilihat data dan kondisi masing-masing gunung,” ujarnya.

Dengan kata lain, fenomena beberapa gunung api yang aktif dalam periode berdekatan belum cukup menjadi bukti bahwa aktivitas vulkanik tersebut berasal dari satu pemicu yang sama.

Semeru dan Merapi Dinilai Perlu Perhatian

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap aktivitas gunung api, Fian menyebut Gunung Semeru Jawa timur dan Gunung Merapi sebagai dua gunung yang perlu mendapat perhatian serius.

Salah satu alasannya adalah kedua gunung tersebut berada di sekitar kawasan dengan konsentrasi penduduk tinggi.

Khusus Semeru, Fian menyoroti karakter erupsinya yang dinilai sulit diprediksi.

“Kalau untuk gunung api yang perlu diwaspadai saat ini, saya pikir Semeru dan Merapi. Keduanya perlu mendapat perhatian karena berada dekat dengan zona-zona pusat penduduk,” katanya.

“Semeru ini lebih perlu diwaspadai karena perilaku letusannya tidak bisa diprediksi dengan baik. Kadang-kadang Semeru bisa meletus besar tanpa ada aba-aba sebelumnya,” imbuhnya.

Gunung Anak Krakatau Punya Karakter Berbeda

Sementara itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga tetap perlu menjadi perhatian. 

Namun, karakter gunung tersebut berbeda dengan Semeru maupun Merapi.

Gunung Anak Krakatau berada di lingkungan laut sehingga aspek longsoran tubuh gunung ke laut menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan dalam mitigasi bencana.

Peristiwa runtuhnya material gunung ke laut sebelumnya pernah berkaitan dengan tsunami Selat Sunda pada 2018.

Meski demikian, Fian mengingatkan masyarakat agar tidak menghubungkan aktivitas Anak Krakatau dengan Semeru atau gunung api lainnya tanpa dukungan data ilmiah.

“Setiap gunung punya sistem magmatik sendiri. Jadi kita tidak bisa mengatakan karena Anak Krakatau aktif, kemudian Semeru ikut aktif, atau sebaliknya,” ujarnya.

Sinyal Geofisika Bisa Dipelajari

Fian menjelaskan pemantauan geofisika menjadi salah satu pendekatan penting untuk memahami perubahan di bawah permukaan gunung api.

Dalam riset yang dilakukan, metode geofisika digunakan untuk melihat kondisi bawah permukaan dan mencari perubahan yang kemungkinan berkaitan dengan aktivitas vulkanik.

“Kita mencoba melihat apakah ada aktivitas baru atau sinyal pendahulunya. Jadi, ada sinyal geofisika yang mungkin muncul sebelum letusan,” kata Fian.

Jika pola sinyal dapat dikenali berdasarkan data yang memadai, penelitian tersebut berpotensi membantu meningkatkan pemahaman mengenai perubahan aktivitas gunung api.

Namun, Fian menegaskan teknologi dan metode tersebut belum bisa digunakan untuk memastikan secara tepat kapan sebuah gunung akan meletus.

“Yang paling penting tetap pemantauan. Kita tidak bisa mengatakan gunung akan meletus hanya berdasarkan satu parameter,” tambahnya.

Masyarakat Diminta Tak Panik

Fian meminta masyarakat tidak panik hanya karena mendapati sejumlah gunung api menunjukkan aktivitas dalam waktu berdekatan.

Kewaspadaan tetap diperlukan dengan mengikuti perkembangan dari lembaga resmi pemerintah, terutama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian ESDM, BNPB, dan BMKG.

Masyarakat juga diimbau tidak mudah menyebarkan kesimpulan atau informasi mengenai potensi erupsi yang belum didukung data resmi.

“Jadi tetap monitor situasi. Tetap waspada, tetap awas, tetap siaga. Jangan sampai kita lengah,” tegas Fian.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.