Gunung Anak Krakatau, Muncul Setengah Abad Setelah ‘Ibu’-nya Hancur Lebur
Moh. Habib Asyhad September 07, 2026 03:34 PM

Gunung Anak Krakatau adalah 'anak kandung' Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Kemunculannya ditandai dengan terjadinya letusan dari dalam laut pada Desember 1927 hingga menjadi pulau kecil pada 1930.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -“Kapan Gunung Anak Krakatau pertama muncul?”

Pertanyaan itu beredar di berbagai platform media sosial menyusul meletusnya Gunung Anak Krakatau sejak Jumat, 4 September 2026, kemarin. Banyak yang terdampak karena letusan itu.

Tak hanya menyebabkan dibatalkannya sejumlah penerbangan, abu letusan Gunung Anak Krakatau dirasakan oleh warga masyarakat yang ada di Jakarta, Banten, sebagian Jawa Barat, dan Lampung.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau sudah terpantau sejak 2 Juli 2026 lalu. Eskalasinya kemudian semakin meningkat pada Jumat, 4 September 2026, malam hingga Sabtu, 5 September 2026, dini hari. Dentuman letusannya bahkan terdengar sampai Bandung Raya, Jawa Barat.

Pada Minggu, 6 September 2026, dini hari, sebaran abu vulkaniknya mulai dirasakan oleh warga Bogor, Jawa Barat. Untuk memastikan dari mana asal debu itu, Oktavian (24), salah seorang warga, sekitar pukul 00.00 WIB, dia membersihkan jok motornya. Tapi berselang 10 menit kemudian, jok itu kembali kotor oleh debu lagi.

Debu pekat juga dirasakan oleh warga Kota Sukabumi, Jawa Barat, sejak Sabtu malam.

Mengutip National Geographic Indonesia, menurut analisis citra RGB Himawari-9 serta pemantauan Pusat Vulkanologi, Meteorologi, dan Geofisika (PVMBG) berkoordinasi dengan VAAC Darwin pada Sabtu pukul 22.00 WIB, teridentifikasi dua klaster utama sebaran abu.

Yang pertama dengan ketinggian permukaan hingga 20 ribu kaki yang mengarah ke tenggara-selatan mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Yang kedua dengan ketinggian hingga 50 ribu kaki yang mengarah ke barat daya-barat laut mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudera Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.

Sementara menurut pembaruan data PVMBG dan VAAC Darwin pada Minggu pukul 05.00 WIB, sebaran hingga 20 ribu kaki mengarah ke timur laut-selatan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Sedangkan sebaran hingga 50 ribu kaki bergerak ke barat daya-barat laut mencakup Banten, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia.

Dan sebagaimana disinggung di awal, erupsi Anak Krakatau juga menyebabkan pembatalan seluruh penerbangan dari dan menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu dini hari.

Keberadaan Gunung Anak Krakatau tak bisa dipisahkan dari “induknya”, Gunung Krakatau yang meletus pada Agustus 1883. Tak hanya letusan dan guguran abu vulkanik, letusan itu juga menghasilkan aliran piroklastik yang menghancurkan apa saja yang ada di jalurnya.

Dampak paling mematikan dari letusan Krakatau 1883 adalah gelombang tsunami yang melintasi lautan hingga Hawaii dan Amerika Selatan. Gelombang tertinggi yang tercatat di Banten mencapai 135 kaki atau 41 meter, diikuti gelombang-gelombang lebih kecil yang meratakan 165 permukiman. Sekitar 36 ribu jiwa menjadi korban letusan gunung itu, dan 34 ribu di antaranya disebabkan oleh tsunami yang dihasilkannya.

Setelah itu, kompleks Krakatau relatif tenang hingga 1920-an, persisnya hingga Desember 1927.

Ketika itu, letusan baru muncul di dasar laut di sepanjang garis yang sama dengan letusan sebelumnya. Lalu pada awal 1928, muncul kerucut yang menjulang mencapai permukaan laut. Dan pada tahun 1930, kerucut itu menjadi sebuah pulau kecil yang lama-lama menjadi … gunung. Gunung itulah yang kelak di kemudian hari dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

Pada 2018, ketinggian Anak Krakatau sudah mencapai 318 meter di atas permukaan laut. Tapi setelah meletus di tahun itu, tubuhnya runtuh drastis, menyisakan ketinggian sekitar 110 hingga 157 meter di atas permukaan laut. Letusan tahun 2018 itu juga menyebabkan terjadinya tsunami.

Menurut para ahli, tsunami atau gelombang laut seismik itu kemungkinan disebabkan oleh runtuhnya sebagian besar sisi selatan Anak Krakatau. Mereka percaya runtuhan itu memicu tanah longsor bawah laut yang menggeser air untuk menciptakan gelombang besar yang mematikan.

Walau kehilangan sebagian besar “tubuhnya” karena letusan 2018, Anak Krakatau cepat pulih dan kembali meletus pada 10 April 2020 tanpa menimbulkan kerusakan luas. Citra satelit Landsat 8 sempat merekam erupsi tersebut pada 13 April 2020.

Dan enam tahun kemudian, Anak Krakatau kembali meletus. Dan alhamdulillah-nya, letusan Anak Krakatau kali ini tidak memakan korban jiwa.

Pulau Gunung Anak Krakatau bisa dibilang adalah “anggota baru” gugusan kepulauan Krakatau. Secara administratif, ia merupakan wilayah Kecamatan Punduh Pedada, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

Seluruh kawasan kepulauan merupakan kawasan dilindungi secara hukum, sebagai Cagar Alam Krakatau yang dikelola oleh Badan Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Lampung Selatan. Dari sisi ekologi, kawasan kepulauan ini, terutama Pulau Anak Krakatau, termasuk istimewa. Ia menjadi laboratorium alam bagaimana suatu ekosistem membangun kembali dirinya dalam situasi yang relatif terisolasi.

Tak hanya ekologi, dari sisi geologi, kawasan ini menjadi tempat pembelajaran yang sangat berguna.

Saat ini, aktivitas kegunungapian dipantau dari dua titik: Pos Pengamatan Pasauran yang berada di sebelah utara Pantai Carita di sisi Pulau Jawa dan Pos Pengamatan Kalianda di sisi Pulau Sumatera. Tak hanya itu, di beberapa titik Pulau Anak Krakatau juga dipasang beberapa alat pemantau aktivitas vulkanik.

Timeline singkat Gunung Anak Krakatau

29 Desember 1927: Erupsi bawah laut pertama

Terjadi letusan pertama dari dasar laut yang mengeluarkan semburan material seperti air mancur hingga 15 Januari 1929.

11 Juni 1929: Kelahiran tubuh gunung

Gunung Anak Krakatau muncul ke permukaan laut dari kedalaman 180 meter. Tanggal ini ditetapkan sebagai tanggal kelahiran resmi Anak Krakatau.

29 Juni 2018: Masuk periode erupsi panjang

Pada September 2018, ketinggian puncak Gunung Anak Krakatau mencapai 338 meter di atas permukaan laut. Karakteristik erupsinya saat itu didominasi oleh letusan magmatik eksplosif lemah (Strombolian) serta erupsi efusif berupa lelehan aliran lava cair.

Pada 22 Desember 2018, aktivitas vulkanik yang intensif menyebabkan flank collapse atau longsornya sebagian besar tubuh gunung ke dalam laut. Runtuhan itulah yang kemudian menyebabkan terjadinya tsunami di Selat Sunda yang menelan korban hingga lebih dari 400 jiwa.

4-6 September 2026: Meletus lagi

Terjadi erupsi beruntun mencapai ketinggian 50.000 kaki, menyebarkan abu ke Jakarta, Banten, Jabar, hingga Lampung.

Yang tenang ya, Anak Krakatau!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.