TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ada pertemuan yang menggetarkan hati. Itulah yang dirasakan Jestham ketika melihat seorang bapak tua duduk sendiri di pinggir jalan dengan raut wajah sedih. "Pak, ada orderan?" tanya Jestham. "Nggak ada, Bu. Sepi," jawabnya lirih. Jestham pun mendekat dan menawarkan sesuatu yang tak pernah disangka. "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan. Kita belanja sepuasnya, mau nggak?" Dengan mata berkaca-kaca, sang bapak mengangguk, tak percaya ada kebaikan datang di tengah kesendiriannya.(29/04/26)
Jestham mengajaknya ke minimarket. Di perjalanan, ia bertanya tentang keluarga. "Bapak di rumah ada berapa orang?" "Saya tiga orang aja, Bu. Tiga orang. Anak saya tiga, dua udah meninggal." jawabnya dengan suara lirih. Jestham terdiam. Seorang bapak yang telah kehilangan dua anak, kini hanya memiliki satu anak yang menjadi harapannya. Usianya pun sudah 62 tahun. Jestham yang biasanya memberi durasi dalam misi belanjanya, kali ini memutuskan untuk tidak melakukannya. "Karena bapak sudah berusia 62 tahun, saya nggak pakai durasi. Kita ambil barang-barang yang penting untuk kebutuhan rumah," ucapnya lembut.
Masuk ke dalam toko, Jestham mempersilakan sang bapak mengambil beras. Dengan gemetar, ia mulai memasukkan beberapa bungkus ke keranjang. "Cukup, Bu. Cukup," katanya malu-malu. Jestham tersenyum dan terus menambahkan. "Nggak papa, saya tambahkan lagi. Biar stok di rumah banyak-banyak." Sang bapak mulai gemetar hebat. "Gemetar saya, Bu. Nggak pernah begini. Nggak pernah," ucapnya dengan suara bergetar. Jestham menghiburnya, "Nggak papa, pelan-pelan, Pak. Rezeki hari ini, Pak." Ia terus memasukkan minyak goreng, mi instan, sabun, hingga sarden ke dalam keranjang.
Saat Jestham menawarkan kopi, sang bapak menolak dengan halus. "Nggak minum kopi, Bu. Asam lambung." Jestham pun segera mengganti dengan yang lebih aman. "Oke, saya ambilin sabun, Pak. Biar bapaknya sehat." Ia juga menambahkan roti coklat kesukaan sang bapak. "Saya jarang sekali makan roti. Yang makan roti itu yang 1000," ucapnya polos. Jestham tersenyum dan memasukkan beberapa bungkus roti coklat. "Ini coklat, Pak. Saya ambilin yang coklat ya," katanya. Sang bapak hanya bisa mengangguk, air mata mulai menggenang.
Saat membayar, sang bapak tak kuasa menahan haru. "Kaget, maksudnya kok mimpi apa saya? Duduk sendirian, kok ada apa? Tiba-tiba rezeki dari Allah," ucapnya sambil menyeka air mata. Jestham bertanya, "Semangat bapak bekerja buat siapa?" Dengan mantap, sang bapak menjawab, "Untuk di rumah, lah, Bu. Keluarga. Cari makan untuk yang di rumah." Jestham bertanya lebih lanjut, "Anak masih sekolah?" Sang bapak menghela napas panjang. "Anak saya tamatan SMK, tapi ijazahnya belum diambil. Belum bayar, Bu. Empat bulan belum bayar SPP. Ijazahnya nggak didapat."
Jestham terhenyak. Seorang ayah yang bekerja dari Subuh hingga malam, berjuang di usia senja, hanya untuk bisa mengambil ijazah anaknya. "Dulu adik mau kuliah, tapi nggak mau. Kasihan orang tuanya gini," ucapnya dengan nada lirih. Jestham bertanya, "Nanti ijazahnya hilang?" "Nggak hilang, Bu. Udah disimpan itu," jawabnya. Namun beban di pundaknya terasa begitu berat. Setiap hari, ia berangkat dari Subuh, mengayuh becak hingga malam, berharap ada rezeki yang cukup untuk melunasi tunggakan sekolah anaknya. Istri dan anak di rumah menunggu, sementara ia rela tidak makan demi keluarga.
Mendengar semua itu, Jestham tak bisa tinggal diam. Ia mengeluarkan amplop dan berkata, "Bapak, saya ada rezeki untuk bapak. Mana tahu rezeki ini bisa dipakai untuk bayar ijazah anak bapak." Sang bapak terpana. Air matanya jatuh tak terbendung. "Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah. Ya Allah, ya Allah, masih banyak," ucapnya sambil menangis haru. Jestham tersenyum, "Berkah ya, Bapak, untuk kita semua." Sang bapak terus memanjatkan doa, "Saya doakan, Bu, sehat walafiat, panjang umur, rezeki lancar, usaha lancar. Amin, amin, amin."
Kisah ini mengajarkan bahwa di balik setiap perjuangan seorang ayah, ada doa dan harapan yang tak pernah padam. Meskipun tangan gemetar karena usia dan kelelahan, semangatnya tetap menyala demi anak dan keluarga. Jestham kembali membuktikan bahwa kebaikan sederhana bisa menjadi jawaban atas doa-doa panjang yang tak pernah lekang oleh waktu. Ia mengingatkan kita bahwa membantu sesama tidak perlu menunggu kaya, cukup dengan hati yang tulus dan kepekaan untuk melihat. Semoga setiap kebaikan yang kita berikan menjadi berkah yang berlipat.(*)
Referensi
https://www.tiktok.com/@jesicathamrin/video/7634432045468355848?lang=en