Upah Sehari Rp 30 Ribu, Pria Penjaga Warung di Lumajang ini Masuk Desil 6-10
Thoriq September 07, 2026 03:57 PM

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, LUMAJANG- Sahrul Aminuddin, Warga Kelurahan Tompokersan Kecamatan/Kabupaten Lumajang, Jawa Timur terkejut mengetahui masuk desil 6-10 di data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN).

Hal tersebut terungkap  ketika Tribun Jatim Network menelusuri nomor induk kependudukan (NIK) penjaga warung makan di Jalan Gajah Mada Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang ini melalui aplikasi Cek Bansos Kementrian Sosial.

Padahal pendapatan pria yang tinggal ngampung di rumah budenya di Jalan Hasanuddin Lumajang ini hanya Rp 30 ribu sehari, dari upah jaga warung pada malam hari.

Terlihat pria umur 29 tahun tersebut hanya memiliki satu sepeda motor butut berupa Suzuki Bravo keluaran 1995 yang dibeli bekas tanpa BPKB seharga Rp 800 ribu.

Baca juga: Rumah Ngontrak Rp 2 Juta Setahun, Pedagang Bakso di Lumajang Masuk Desil 5, Tak Lagi Terima Bansos

Kendaraan tersebut ia gunakan sebagai transportasi menuju warung tempatnya bekerja.

"Baru tahu setelah sampen (tribunJatim) cek, kaget juga masuk desil 6-10. Kaget juga saya," ujar Sahrul saat diwawancarai Tribun Jatim Network, Sabtu (5/9/2026).

Aktifitas keseharian, Sahrul mengaku membantu jualan dan jaga warung dagangan kaki lima milik kakak mulai pukul 20.00 hingga 04.00 waktu setempat. 

Setelah itu bantu persiapan masak warung makan milik Bu Mispin di Jalan Gajah Mada Lumajang mulai pukul 04.00 hingga 08.00 waktu setempat. Dia mengaku mendapatkan upah dari kerja tersebut  tidak pasti.

"Pendapatan dari jaga warung tidak mesti, kadang Rp 30 ribu kadang Rp 40 ribu. Cuma dikasih makan. Tapi kalau bantu jaga warung mas, kalau rame kadang dikasih tapi kalau sepi ya tidak papak tidak dikasih," ulas Sahrul.

Ketika kedua orang tua masih hidup,  tinggal di rumah kontrakan di Jalan Cut Nyak Dien Lumajang dengan harga sewa Rp 600 ribu per tahun sejak 1996.

Namun setelah orang tuanya meninggal dunia, Sahrul mengaku menumpang di rumah budenya di Jalan Sultan Hasanuddin Lumajang sejak 2023 hingga sekarang.

"Ada rumah budeku yang kosong, jadi tak tempati. Jadi numpang di rumah bude. Kalau rumahnya tembok dan kramikkan," bebernya.

Sahrul mengaku tidak pernah didata oleh petugas kelurahan atau tukang sensus bahkan belum pernah dikasih tahu mengenai desil oleh RT setempat.

"Baru kali ini saya tahu, sebelumnya saya tidak pernah tahu soal desil. Saya punya 8 saudara, yang belum nikah dua. Saya dan kakak saya, kebetulan saya saya anak terakhir," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.