Sosok Prof Junaidi Khotib Masuk World’s Top 5 Persen Scientist, Kembangkan Obat hingga Kit Alergi
Wiwit Purwanto September 07, 2026 04:32 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA -  Masuk jajaran World’s Top 5 persen Scientist menjadi capaian yang menegaskan konsistensi Prof apt Junaidi Khotib, SSi, MKes, PhD dalam mengembangkan riset dan publikasi ilmiah di bidang kefarmasian.

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair) tersebut terus mengembangkan penelitian yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu, tetapi juga pemanfaatan hasil riset untuk mendukung bidang kesehatan dan memberi dampak bagi masyarakat.

Prof Junaidi menjelaskan, fokus utama risetnya berada pada bidang farmasi dan farmakologi, terutama pengembangan obat, mekanisme kerja obat, serta aktivitas biologis yang ditimbulkan.

Ada dua area utama yang menjadi perhatian dalam penelitiannya, yakni pengembangan obat untuk remodulasi penyembuhan tulang serta penanganan reaksi alergi dan sistem imunitas.

“Fokus kami secara farmakologi adalah menemukan atau mencari suatu obat yang bisa digunakan untuk mengendalikan keadaan inflamasi, sebagai langkah awal dalam tahapan remodeling tulang dan desensitisasi keadaan alergi,” ujar Prof Junaidi dikonfirmasi SURYA.CO.ID, Senin (7/9/2026).

Baca juga: Sosok Wamenag Romo Syafii yang Minta Semua Pesantren Dapat MBG Usai Jenguk Korban Keracunan Sidoarjo

Menurut dia, inflamasi menjadi salah satu aspek penting yang dikaji karena berkaitan dengan berbagai proses biologis dalam tubuh. Melalui pendekatan farmakologi, penelitian diarahkan untuk menemukan kandidat obat yang mampu mengendalikan proses tersebut sehingga dapat mendukung penyembuhan tulang maupun penanganan kondisi alergi.

Menjaga Konsistensi hingga Publikasi Internasional

Selain substansi penelitian, Prof Junaidi menaruh perhatian pada kualitas dan keberlanjutan publikasi ilmiah. Untuk menghasilkan penelitian yang dapat diterima di jurnal internasional bereputasi, ia menerapkan sejumlah prinsip, mulai dari penggunaan parameter penelitian berstandar internasional, kurasi data yang presisi, analisis secara komprehensif, hingga pemilihan target jurnal yang sesuai.

Menurutnya, kualitas publikasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah karya ilmiah yang dihasilkan. Konsistensi melakukan penelitian dan menghasilkan data baru setiap tahun juga menjadi bagian penting dalam membangun rekam jejak akademik.

“Publikasi itu harus bisa dijaga konsistensinya. Setiap tahun harus ada data yang diperoleh melalui riset dan dilakukan publikasi secara teratur. Keberlanjutan proses pengembangan keilmuan ini menunjukkan maturasi dalam proses inovasi dan riset,” jelasnya.

Baca juga: Realisasi Investasi Sidoarjo 2025 Capai Rp 18,8 Triliun, Sektor Farmasi Jadi Primadona

Ia menilai keberlanjutan tersebut menunjukkan bahwa proses penelitian tidak berhenti pada satu temuan, tetapi terus berkembang melalui pengujian, pengembangan, dan pemanfaatan hasil riset.

Bagi Prof Junaidi, hasil penelitian tidak seharusnya berhenti sebagai dokumen yang tersimpan di repository perguruan tinggi. Ia mendorong agar riset dasar maupun terapan dapat dilanjutkan hingga menghasilkan paten dan dimanfaatkan oleh industri serta masyarakat.

Kembangkan Inovasi Tulang hingga Kit Diagnostik Alergi

Hasil pengembangan tersebut kini telah memasuki tahap kerja sama dengan salah satu industri farmasi di Indonesia.

Selain riset terkait tulang, Prof Junaidi mengembangkan inovasi kit diagnostik alergi berupa plester transdermal yang memuat 10 jenis alergen.

Inovasi tersebut dirancang untuk membantu mendeteksi reaksi alergi pasien secara lebih praktis. Pengembangannya mendapat dukungan Kedaireka dan dilakukan melalui kemitraan dengan PT Bio Farma.

Produk tersebut juga telah mengantongi paten dan masuk dalam nominasi seleksi Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

“Penelitian itu tidak berhenti pada repositori, tetapi berlanjut pada publikasi, paten, serta pemanfaatan pada industri dan masyarakat. Kami mengharapkan pemanfaatan hasil riset ini bisa memberikan dampak langsung di bidang kefarmasian maupun kesehatan,” pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.